Museum Simpul Diplomasi

4 hours ago 1

KabarMakassar.com — Maket Gunung Samalas dan Gunung Tambora dengan tinggi sekitar 90 cm serta dikelilingi lampu dekorasi berwarna kuning bukan sekadar benda penghias ruang pameran yang remang dan dingin di Museum Negeri Nusa Tenggara Barat (NTB).

Setiap pengujung yang masuk ke ruangan itu seolah diajak teleportasi ke masa lalu untuk mempelajari dan memahami bagaimana awal mula terbentuknya sebuah peradaban baru. Dari tanah kosong tak berpenghuni yang rusak akibat amukan erupsi menjadi kawasan yang dipadati pemukiman lengkap dengan aktivitas agama, budaya, sosial, ekonomi, hingga berbagai dinamika politik.

Buku berjudul Gunung dan Segara: Jejak Samalas dan Tambora dalam Peradaban yang dikeluarkan oleh Museum NTB menjelaskan erupsi bukan sekadar peristiwa geologi, melainkan momen transformasi yang mengubah alam, membuat manusia beradaptasi, dan budaya menemukan bentuk baru.

Letusan Gunung Samalas pada 1257 dan Gunung Tambora pada 1815 —yang mempengaruhi iklim global— telah menorehkan jejak mendalam bagi sejarah dan kebudayaan umat manusia di seluruh dunia.

Para turis asing, terutama dari Eropa, yang berkunjung ke Museum NTB acapkali melontarkan segudang pertanyaan tentang bagaimana dua gunung berapi itu menimbulkan dampak maha dahsyat bagi Planet Bumi yang mengguncang arah sejarah, mengubah cara hidup, dan membentuk ingatan kolektif.

Dari Samalas dan Tambora yang hanya terpaut jarak sekitar 150 kilometer, Nusa Tenggara Barat sebetulnya punya ikatan kuat dengan seluruh negara di dunia.

Berbagai bukti geologis dan arkeologis tentang letusan dua gunung berapi itu dapat ditemukan lewat catatan naskah kuno hingga jurnal-jurnal ilmiah. Ini adalah modal yang sangat berharga untuk membangun daerah dengan menonjolkan aspek narasi sejarah dan budaya.

Bukan gudang benda tua

Fungsi museum saat ini bukan lagi sebagai bangunan sunyi berdebu untuk menyimpan artefak kuno. Museum merupakan ruang diplomasi lunak atau soft diplomacy yang menjembatani budaya, memperkuat identitas, dan membangun pemahaman antarmasyarakat maupun antarbangsa.

Di era modern, museum menjelma menjadi ruang hidup yang menghubungkan cerita masa lalu, pengalaman masa sekarang, dan teropong untuk menatap masa depan.

Para pengunjung yang datang ke ruang pameran tidak hanya melihat pajangan artefak yang disusun rapih di dalam vitrin kaca yang dilapisi cat kayu gelap, tetapi juga memahami kisah dan filosofi dari setiap perjalanan yang membentuk karakter masyarakat.

Museum memiliki peran strategis untuk mendukung ekonomi kreatif, menghadirkan pariwisata berkualitas, dan memperkuat jejaring internasional hingga mendorong kolaborasi akademik.

Kehadiran museum hidup yang dekat dengan masyarakat melalui program Kotaku Museumku dan Kampungku Museumku menjadi upaya cemerlang menjadikan museum sebagai panggung diplomasi lunak guna memperkenalkan jati diri penduduk Nusa Tenggara Barat kepada masyarakat dunia.

Pada 2 Desember 2025, lokakarya perawatan keris yang digelar Museum NTB bersama Museum and Art Gallery of the Northern Territory (MAGNT), Art Gallery South Australia (AGSA), dan Australian Museum menjadi bukti konkret tentang diplomasi lunak tersebut.

Lokakarya sederhana yang berlangsung secara daring itu menjadi gerbang pertukaran pengetahuan, riset, dan peningkatan kualitas pengelolaan artefak keris antara Indonesia dengan Australia.

Nusa Tenggara Barat saat ini memiliki 14 museum yang terdiri atas satu museum provinsi di Kota Mataram, empat museum daerah di Pulau Sumbawa, dan sembilan museum desa yang tersebar di beberapa kabupaten di Pulau Lombok.

Koleksi tombak, keris, perkakas rumah tangga, naskah kuno, maupun kain tenun merupakan media yang mengangkut babad tentang nilai, teknologi, tradisi, dan bagaimana sebuah peradaban berkembang dari waktu ke waktu.

Ketika pengunjung melihat dan mempelajari ragam koleksi artefak museum, mereka sebetulnya sedang membangun penafsiran budaya yang berbeda tanpa harus melalui meja perundingan resmi yang dikeliling pengawalan tim protokol dan lampu denyar.

Di ruang-ruang urban, museum menjadikan sejarah sebagai bahasa universal untuk membangun hubungan komunikasi yang efektif hingga mampu melampaui sempadan suku dan negara.

Etalase peradaban

Jika kita ingin mengenal perjalanan suatu bangsa secara lebih mendalam, maka datanglah ke museum. Kalimat itu terdengar relevan mengingat ada banyak negara maju memposisikan museum sebagai magnet pariwisata sekaligus simbol kebangsaan nasional.

Arab Saudi, misalnya, negara yang dikenal luas sebagai pusat spiritual bagi penganut agama Islam kini mulai menempatkan pariwisata sebagai jualan utama mereka.

Masjid Nabawi, masjid terpenting kedua dalam sejarah peradaban Islam, yang terletak di Kota Madinah justru dikepung oleh museum, di antaranya Museum Al Quran, Museum Biografi Nabi Muhammad, Museum As-Syafiah, hingga Museum Dar Al Madinah.

Beberapa bandara di dunia juga telah mengintegrasikan museum dengan terminal agar para penumpang bisa menikmati suguhan seni, budaya, dan mempelajari sejarah selama proses menunggu pesawat maupun saat kedatangan.

Adapun Indonesia sejauh ini belum memiliki museum spesifik atau galeri yang beroperasi di dalam terminal bandara komersial. Banyak bandara masih menampilkan fungsi transportasi dan niaga ketimbang memperkenalkan kekayaan sejarah dan budaya bangsa.

Padahal, bandara bisa menjadi lokasi yang ideal bagi kehadiran museum sebagai etalase singgah pertama kali para turis sebelum pelesiran lebih jauh di wilayah Indonesia.

Wisatawan dapat lebih mengenal kekayaan sejarah dan budaya yang dimiliki Indonesia melalui museum, mulai dari temuan prasejarah, kejayaan kerajaan-kerajaan Nusantara, perdagangan lintas benua, hingga perjuangan mewujudkan kemerdekaan.

Strategi diplomasi lunak menggunakan sejarah dan budaya cenderung lebih bertahan lama ketimbang pesan yang diutarakan melalui jalur politik formal, paksaan militer, atau bahkan tekanan ekonomi.

Pemerintah pusat maupun pemerintah daerah perlu mengoptimalkan kekayaan sejarah dan budaya dengan membangun galeri artefak di kawasan bandara agar rasa nasionalisme dan persatuan semakin kuat, sekaligus menjadi sarana diplomasi lunak dengan orang asing.

Bangsa yang besar bukan saja tentang bagaimana cara mereka membangun peradaban, tetapi juga mampu mengingat, merawat, dan mewariskan sejarah dengan baik kepada generasi mendatang. (ANTARA)

Navigasi pos

Read Entire Article
Jogja News Jogja Politan Jogja Ball Jogja Otote Klik News Makassar news