Oleh: Andi Dody May Putra Agustang (Dosen Pendidikan Sosiologi UNM dan Mahasiswa Program Doktoral Sosiologi UI)
KabarMakassar.com — Percakapan di warung kopi tentang bola masih terus berlangsung padahal sejatinya Piala Dunia 2026 telah selesai. Spanyol pulang membawa trofi setelah mengalahkan Argentina di partai final. Para pemain telah meninggalkan stadion, bendera-bendera diturunkan, dan pesta sepak bola terbesar dunia perlahan berganti menjadi berita transfer pemain. Namun, ada satu pertandingan yang tampaknya belum selesai dimainkan di media sosial dan di warung kopi: pertandingan melawan Cristiano Ronaldo.
Klau di pikir Portugal sebenarnya sudah tersingkir jauh sebelum final. Perjalanannya dihentikan Spanyol dengan skor 0–1 pada babak 16 besar, 6 Juli 2026. Gol pada pengujung pertandingan bukan hanya mengakhiri harapan Portugal, tetapi juga menutup perjalanan Ronaldo di Piala Dunia. Sebelum pertandingan tersebut, ia telah menyatakan bahwa Piala Dunia 2026 akan menjadi penampilan terakhirnya dalam turnamen itu. Pada usia 41 tahun, sang kapten meninggalkan panggung yang telah didatanginya dalam enam edisi berbeda.
Seharusnya, setelah turnamen selesai, perdebatan mengenai Ronaldo perlahan ikut selesai. Kenyataannya tidak demikian. Namanya terus diseret ke dalam berbagai percakapan di mana pun itu. Setiap keberhasilan pemain lain menjadi alasan untuk mengingat kegagalannya. Setiap perayaan Spanyol atau penampilan Argentina kembali dipakai untuk membuka perbandingan lama antara Ronaldo dan Lionel Messi.
Ronaldo tidak bermain di final, tetapi namanya tetap hadir di kolom komentar. Ia tidak mengangkat trofi, tetapi foto kekecewaannya diangkat berkali-kali. Ia sudah meninggalkan lapangan, tetapi netizen masih rajin menendangnya dari balik layar.
Pertanyaannya kemudian bukan lagi mengapa Ronaldo gagal menjadi juara dunia. Sepak bola memang hanya menyediakan satu juara. Pertanyaan yang lebih penting adalah mengapa kegagalan seorang pemain harus terus-menerus dirayakan seolah-olah merupakan kemenangan pribadi bagi orang yang mengejeknya.
Ketika Kekalahan Menjadi Hiburan Publik
Kekalahan selalu menjadi bagian dari olahraga. Bahkan pemain paling hebat sekalipun tidak memiliki kekuasaan untuk memenangkan semua pertandingan. Akan tetapi, dalam budaya media sosial, kekalahan tidak lagi berhenti sebagai hasil pertandingan. Ia diubah menjadi bahan hiburan, komoditas perhatian, dan senjata dalam peperangan antarpenggemar.
Ronaldo merupakan sasaran yang sempurna. Selama lebih dari dua dekade, ia membangun citra sebagai manusia yang sangat percaya pada dirinya sendiri. Ia tidak pernah malu menyatakan keinginannya menjadi yang terbaik. Ia merayakan gol dengan lantang, menjaga tubuhnya dengan disiplin, dan memperlakukan kompetisi seolah-olah setiap pertandingan adalah urusan hidup dan mati.
Bagi para penggemarnya, karakter itu merupakan lambang kerja keras dan keyakinan diri. Bagi mereka yang tidak menyukainya, karakter yang sama dibaca sebagai kesombongan. Karena itu, ketika Ronaldo gagal, sebagian publik merasa sedang menyaksikan seorang tokoh besar menerima hukuman yang pantas.
Dalam psikologi sosial, kesenangan ketika melihat orang lain mengalami kemalangan dikenal sebagai schadenfreude. Perasaan ini semakin mudah muncul ketika orang yang mengalami kegagalan dianggap terlalu sukses, terlalu dominan, terlalu percaya diri, atau menjadi anggota kelompok yang berlawanan. Media sosial memberi panggung yang sangat luas bagi emosi semacam itu. Penelitian mengenai interaksi digital menunjukkan bahwa kegembiraan atas kemalangan orang lain dapat diekspresikan dan diperkuat melalui komentar, tanda suka, serta keterlibatan dalam unggahan bernada negatif.
Itulah sebabnya kekalahan Ronaldo bukan sekadar berita olahraga. Ia menjadi pesta kecil bagi sebagian orang. Meme diproduksi, statistik dipilih secara selektif, dan potongan video kekecewaan diedarkan tanpa henti. Kolom komentar berubah menjadi stadion kedua, hanya saja tidak ada wasit, tidak ada kartu merah, dan hampir semua orang merasa pantas menjadi komentator.
Keadaan ini juga tidak dapat dilepaskan dari persaingan panjang antara pendukung Ronaldo dan Messi. Selama bertahun-tahun, dua kelompok penggemar tersebut membangun identitas dengan cara saling merendahkan. Gol salah satu pemain dijadikan alasan untuk menyerang yang lain. Trofi salah satu pemain dipakai sebagai alat untuk mengecilkan pencapaian rivalnya.
Setelah Messi memenangkan Piala Dunia 2022, posisi Ronaldo dalam perdebatan itu semakin tertekan. Piala Dunia kemudian dijadikan semacam palu hakim terakhir. Semua pencapaian Ronaldo dianggap belum lengkap karena ia tidak memiliki trofi tersebut. Ketika peluang terakhirnya berakhir pada 2026, sebagian orang memperlakukan kegagalan itu sebagai keputusan final: Ronaldo kalah, perdebatan selesai, silakan bubarkan kariernya.
Masalahnya, sepak bola tidak sesederhana lemari piala. Seandainya kebesaran hanya ditentukan oleh trofi Piala Dunia, banyak pemain luar biasa harus dikeluarkan dari sejarah. George Best, Johan Cruyff, Alfredo Di Stéfano, Paolo Maldini, dan sejumlah nama besar lainnya tidak pernah menjadi juara dunia. Tidak seorang pun yang serius memahami sepak bola akan menyebut mereka pemain biasa.
Piala Dunia memang trofi tertinggi, tetapi ia tetap merupakan kompetisi beregu yang berlangsung dalam periode terbatas. Seorang pemain membutuhkan generasi yang tepat, pelatih yang tepat, kondisi fisik yang tepat, keputusan taktis yang tepat, bahkan sedikit keberuntungan pada saat yang tepat. Menggunakan satu trofi sebagai satu-satunya ukuran kebesaran sama seperti menilai seluruh isi buku hanya dari halaman terakhirnya.
Media sosial tidak terlalu menyukai penilaian yang panjang dan berlapis. Ia lebih menyukai kesimpulan sederhana: menang atau gagal, pahlawan atau pecundang, Messi atau Ronaldo. Penelitian menunjukkan bahwa bahasa yang menyerang kelompok lawan memiliki daya tarik tinggi dalam menghasilkan keterlibatan di media sosial. Konten yang memancing permusuhan antarkelompok sering memperoleh lebih banyak respons dibandingkan percakapan yang tenang dan seimbang.
Dalam rivalitas sepak bola, penggemar lawan adalah kelompok yang harus dikalahkan. Karena itu, mengejek Ronaldo tidak selalu berkaitan dengan penilaian terhadap permainannya. Sering kali, ejekan tersebut ditujukan kepada penggemarnya. Ronaldo hanya menjadi papan reklame raksasa tempat perang identitas dipertontonkan.
Tentu saja, Ronaldo bukan sosok yang harus dibebaskan dari kritik. Pada usia 41 tahun, ia tidak lagi memiliki kecepatan, mobilitas, dan daya tekan yang sama seperti pada masa terbaiknya. Keberadaannya dalam tim juga dapat memunculkan perdebatan mengenai regenerasi, keseimbangan taktik, serta seberapa besar sebuah tim harus menyesuaikan diri dengan seorang bintang senior.
Namun, kritik berbeda dari penghinaan. Kritik menilai keputusan, performa, dan kontribusi. Penghinaan mengubah kegagalan menjadi alasan untuk menghapus martabat seseorang. Kritik berbicara tentang pertandingan. Ejekan tanpa batas berusaha menulis ulang seluruh sejarah.
Tidak menjadi Juara Dunia, tetapi Tetap Seorang Legenda
Ronaldo tidak pernah menjadi juara dunia. Fakta itu tidak perlu disembunyikan atau dicari-cari alasannya. Piala Dunia akan tetap menjadi ruang kosong dalam kariernya. Ketika perbandingan dengan Messi dilakukan, kekosongan tersebut akan selalu disebutkan.
Namun, tidak memiliki segalanya bukan berarti tidak memiliki kebesaran.
Bersama Portugal, Ronaldo telah memenangkan Euro 2016 serta UEFA Nations League pada 2019 dan 2025. Kemenangan Euro 2016 memiliki arti khusus karena menjadi gelar utama pertama dalam sejarah sepak bola Portugal. Ia tidak membawa negaranya memenangkan Piala Dunia, tetapi ikut mengubah Portugal dari tim yang sering dipandang sebagai kuda hitam menjadi kekuatan yang masuk dalam pembicaraan utama sepak bola internasional.
Di level klub, ia menjadi pemain pertama yang memenangkan lima final Liga Champions pada era kompetisi tersebut. UEFA juga mencatatnya sebagai pemegang berbagai rekor dalam penampilan dan gol di Liga Champions. Angka-angka itu bukan hasil dari satu musim yang cemerlang, melainkan konsistensi panjang di Manchester United, Real Madrid, dan Juventus.
Pada Piala Dunia 2026, Ronaldo masih mampu mencetak gol pada usia 41 tahun. Ia menjadi pemain pertama yang mencetak gol dalam enam edisi Piala Dunia. Fakta ini memperlihatkan luasnya rentang kariernya: ia pernah tampil dalam turnamen yang sama dengan pemain dari generasi Zinedine Zidane, lalu bertahan cukup lama untuk bermain bersama dan menghadapi generasi yang lahir ketika dirinya telah menjadi bintang dunia.
Semua itu tidak membuatnya kebal dari kegagalan. Justru, akhir Piala Dunia Ronaldo mengingatkan bahwa sebesar apa pun seorang atlet, selalu ada batas yang tidak dapat dilewati. Ia dapat melatih tubuhnya, memperpanjang kariernya, mencetak gol, dan memburu rekor. Namun, ia tidak dapat mengatur seluruh kemungkinan dalam sepak bola.
Di situlah kekalahan Ronaldo memperoleh sisi manusiawinya. Selama bertahun-tahun, ia sering digambarkan sebagai mesin gol, atlet tanpa lelah, dan manusia yang menolak menjadi tua. Kekalahan terakhirnya menunjukkan bahwa mesin pun akhirnya berhenti, tubuh memiliki batas, dan ambisi tidak selalu memperoleh hadiah yang diinginkannya.
Hal tersebut seharusnya menjadi alasan untuk melihat perjalanan Ronaldo dengan lebih jernih, bukan dengan kegembiraan yang kejam. Ia telah mempertahankan standar yang sangat tinggi selama lebih dari dua dekade. Bahkan pada usia ketika sebagian besar pemain telah lama menjadi komentator atau pelatih, ia masih berada di lapangan Piala Dunia membawa harapan negaranya.
Barangkali, ejekan yang begitu ramai justru menunjukkan besarnya pengaruh Ronaldo. Tidak ada orang yang menghabiskan waktu untuk merayakan kegagalan pemain yang tidak penting. Semakin besar bayangan seseorang, semakin ramai orang berkumpul ketika bayangan itu mulai memudar.
Namun, keramaian tidak selalu identik dengan kebenaran. Media sosial hidup dari apa yang sedang ramai hari ini, sedangkan sejarah bekerja dengan waktu yang lebih panjang. Meme akan berganti. Akun-akun akan kehilangan pengikut. Perdebatan Messi dan Ronaldo suatu hari akan terdengar seperti cerita dari zaman yang jauh. Tetapi rekaman pertandingan, gol, trofi, dan pengaruh mereka terhadap sepak bola akan tetap tinggal.
Pada akhirnya, Ronaldo tidak membutuhkan pembelaan yang menganggapnya sempurna. Ia memang bukan juara dunia. Ia pernah bermain buruk, mengambil keputusan keliru, menunjukkan frustrasi, dan terlalu lama berusaha melawan usia. Semua kekurangan itu merupakan bagian dari kisahnya.
Akan tetapi, mengakui kekurangannya tidak berarti menghapus kebesarannya. Seseorang dapat gagal memenuhi satu impian dan tetap berhasil menciptakan warisan. Seseorang dapat kalah pada pertandingan terakhir dan tetap memenangkan tempat dalam sejarah.
Piala Dunia telah selesai. Spanyol membawa pulang trofi, sementara Ronaldo membawa pulang kenyataan bahwa impian terbesarnya tidak pernah tercapai. Para pengejek mungkin merasa memperoleh kemenangan dari kenyataan tersebut. Namun, mereka hanya memenangkan kolom komentar.
Ronaldo tetap memenangkan sesuatu yang jauh lebih sulit: tempat permanen dalam ingatan sepak bola.

















































