Harianjogja.com, JOGJA— Tim ilmuwan Universitas Oxford, Inggris, tengah mempercepat pengembangan vaksin untuk menghadapi wabah Ebola jenis Bundibugyo yang dilaporkan merebak di Kongo. Vaksin ini dikembangkan menggunakan platform ChAdOx1, teknologi yang sebelumnya juga digunakan dalam pengembangan vaksin Covid-19.
Platform tersebut memungkinkan peneliti menyisipkan materi genetik dari virus Ebola Bundibugyo ke dalam vektor virus yang telah dilemahkan. Tujuannya adalah merangsang sistem imun manusia agar mampu mengenali dan melawan infeksi tanpa menyebabkan penyakit pada penerima vaksin.
Meski menunjukkan potensi, Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) menegaskan bahwa kandidat vaksin ini masih berada pada tahap awal penelitian. Saat ini, uji coba pada hewan tengah dilakukan di Oxford untuk menilai keamanan dan efektivitasnya sebelum melangkah ke tahap uji klinis lebih lanjut pada manusia.
Produksi massal disiapkan
Sebagai langkah antisipasi jika hasil uji awal menunjukkan hasil positif, Oxford telah menyiapkan rencana produksi massal bersama Serum Institute of India, salah satu produsen vaksin terbesar di dunia. Menurut Profesor Lambe dari Oxford Vaccine Group, proses produksi dapat berjalan cepat setelah bahan awal disediakan.
“Begitu kami memberikan bahan awal kepada mereka, proses produksi bisa berjalan cepat dan dalam skala besar,” ujar Lambe, dikutip dari BBC.
WHO sendiri telah meningkatkan tingkat risiko wabah menjadi “sangat tinggi”, mengingat potensi penyebaran Ebola yang dapat terjadi melalui kontak langsung dengan cairan tubuh penderita.
Fokus pada varian langka Bundibugyo
Ebola jenis Bundibugyo termasuk varian yang jarang ditemukan dan hingga kini belum memiliki vaksin yang benar-benar terbukti efektif secara luas. Kondisi ini membuat pengembangannya menjadi prioritas dalam situasi darurat kesehatan global.
Berbeda dengan vaksin Covid-19 yang ditujukan untuk populasi massal, vaksin Ebola direncanakan akan diterapkan melalui metode ring vaccination. Strategi ini menargetkan kelompok berisiko tinggi seperti tenaga kesehatan, keluarga pasien, serta individu yang memiliki kontak erat dengan penderita, guna memutus rantai penularan secara cepat dan terarah.
Dengan pendekatan ini, para peneliti berharap penyebaran virus dapat ditekan lebih efektif sambil menunggu pengembangan vaksin yang lebih luas di masa depan.

12 hours ago
7

















































