Harianjogja.com, JAKARTA— Peluang kerja bagi Pekerja Migran Indonesia (PMI) di Timur Tengah kembali menguat. Pemerintah melalui Kementerian Pelindungan Pekerja Migran Indonesia (P2MI) mulai memetakan potensi besar penempatan tenaga kerja di Kuwait yang dinilai masih terbuka lebar, khususnya di sektor profesional dan jasa.
Hal ini mengemuka dalam pertemuan antara Wakil Menteri P2MI, Christina Aryani, dengan Duta Besar RI untuk Kuwait, Lena Maryana, di Jakarta. Pertemuan tersebut membahas strategi peningkatan penempatan PMI sekaligus memastikan perlindungan tenaga kerja Indonesia di luar negeri.
Peluang Besar di Sektor Strategis
Dalam diskusi tersebut, Christina Aryani menegaskan bahwa Kuwait memiliki prospek menjanjikan bagi PMI, terutama di sektor hospitality, minyak dan gas (migas), manufaktur, kesehatan, hingga layanan spa.
“Pasar kerja di Kuwait masih sangat potensial, khususnya untuk tenaga profesional dan sektor jasa. Ini harus terus kita optimalkan dengan strategi yang tepat,” ujarnya.
Tak hanya sektor utama, pemerintah juga mulai mendorong pembukaan peluang bagi pekerja dengan keterampilan menengah (medium skilled workers), terutama di industri pendukung sektor migas yang menjadi tulang punggung ekonomi Kuwait.
Data Terbaru PMI di Kuwait
Berdasarkan catatan per Januari 2026, terdapat sekitar 6.088 Warga Negara Indonesia (WNI) yang tinggal di Kuwait, termasuk pekerja migran dan anggota keluarganya. Angka ini menunjukkan keberadaan komunitas Indonesia yang cukup signifikan di negara tersebut.
Perlindungan Jadi Prioritas Utama
Selain ekspansi pasar kerja, pemerintah juga menekankan pentingnya perlindungan menyeluruh bagi PMI. Salah satu fokus utama adalah memastikan seluruh pekerja migran mendapatkan jaminan sosial, termasuk kepesertaan BPJS Ketenagakerjaan serta perlindungan kesehatan di negara tujuan.
Langkah ini dinilai penting untuk memberikan rasa aman bagi PMI selama bekerja di luar negeri, sekaligus meningkatkan kualitas tenaga kerja Indonesia di mata internasional.
Tantangan: Persaingan Global Makin Ketat
Di sisi lain, Dubes RI untuk Kuwait Lena Maryana mengingatkan bahwa persaingan tenaga kerja di kawasan Timur Tengah semakin kompetitif. Ia mencontohkan sektor keamanan bandara yang sebelumnya banyak diisi tenaga kerja Indonesia, kini mulai didominasi pekerja dari Afrika karena faktor efisiensi biaya dan proses rekrutmen yang lebih cepat.
Meski begitu, Lena menegaskan bahwa PMI masih memiliki keunggulan dari segi karakter.
“Pekerja Indonesia dikenal ramah, berdedikasi, dan minim konflik. Ini menjadi nilai positif yang harus terus dipertahankan,” jelasnya.
Momentum yang Tak Boleh Hilang
Pemerintah menilai, jika tidak segera melakukan pembenahan sistem penempatan dan peningkatan kualitas tenaga kerja, Indonesia berisiko kehilangan pangsa pasar di Kuwait dan kawasan Timur Tengah secara luas.
Kolaborasi antara pemerintah dan sektor swasta pun mulai didorong untuk membuka lebih banyak peluang kerja, sekaligus mempercepat proses penempatan PMI secara legal dan aman.
Dengan strategi yang tepat, Kuwait bisa menjadi salah satu destinasi utama bagi pekerja migran Indonesia di 2026, sekaligus membuka jalan bagi peningkatan kesejahteraan PMI dan devisa negara.
Cek Berita dan Artikel yang lain di Harian Jogja, dan edisi cetak versi elektronik kami hadir di Epaper Harian Jogja.
Sumber : Antara
Abdul Hamied Razak Jurnalis Harian Jogja, bagian dari Bisnis Indonesia Group menulis untuk media cetak dan online

18 hours ago
8

















































