
Fakultas Teknologi Mineral dan Energi (FTME) UPN Veteran Yogyakarta melakukan investigasi dan peninjauan di salah satu rumah warga di Seyegan pada Sabtu (20/5/2026). Peninjauan itu dilakukan menyusul munculnya api misterius dalam sepekan ke belakang. /Harian Jogja-Catur Dwi Janati
Harianjogja.com, SLEMAN—Misteri kemunculan api dari lantai rumah warga di Kapanewon Seyegan, Sleman, mulai menemukan titik terang. Tim peneliti Fakultas Teknologi Mineral dan Energi (FTME) UPN Veteran Yogyakarta mengindikasikan api tersebut dipicu gas metana yang bermigrasi dari bawah permukaan tanah menuju area permukiman.
Temuan itu diperoleh setelah tim melakukan investigasi lapangan di sekitar lokasi kejadian hingga ke kawasan Sungai Nepen. Selain menemukan indikasi gas metana, peneliti juga mendapati singkapan batuan lanau yang menguatkan dugaan bahwa wilayah tersebut dulunya merupakan kawasan rawa.
Dekan FTME UPN Veteran Yogyakarta, Prof. Basuki Rahmad, menjelaskan investigasi dilakukan untuk mengidentifikasi sumber yang memicu kemunculan api misterius di rumah warga Seyegan.
"Kami lakukan investigasi, mencari sumber daripada pemicu api. Jadi pemicunya kami indikasikan sebagai sebuah gas yang ada di bawah permukaan," terang Basuki, Sabtu (30/5/2026).
Dalam proses penelusuran, tim bergerak menuju Sungai Nepen yang berjarak sekitar 300 meter dari rumah warga terdampak. Di lokasi tersebut, peneliti menemukan singkapan batuan lanau yang di dalamnya terdapat genangan air.
Saat melakukan penyisiran, tim menemukan gelembung-gelembung gas yang muncul dari bawah permukaan air. Gelembung tersebut diduga kuat merupakan gas metana atau CH4.
"Di dalam singkapan batuan ada genangan air, kami lakukan pelan-pelan kami sisir, kami lacak indikasi gelembung-gelembung gas, akhirnya ketemu gelembung-gelembung gas yang indikasi kuat itu adalah gas metana, gas CH4 itu tepat di bawah Jembatan Nepen," ujarnya.
Untuk memastikan temuan tersebut, tim menggunakan pipa paralon yang ditancapkan pada titik munculnya gelembung gas. Hasil pengujian menunjukkan gas tetap keluar meski dalam tekanan yang relatif lemah.
Menurut Basuki, saat pipa paralon dicabut dari lokasi pengujian, gas justru menyembur dari bawah air sehingga memperkuat dugaan keberadaan kantong gas metana di area tersebut.
"Ternyata gas itu memang lemah. Tapi ketika paralon kita cabut, gas itu langsung nyembur di bawah air," tandasnya.
Berdasarkan hasil investigasi awal, FTME UPN Veteran Yogyakarta menyimpulkan sumber gas yang memicu kemunculan api kemungkinan berasal dari endapan rawa purba yang tersimpan di bawah lapisan batuan.
Temuan singkapan batuan berwarna gelap disebut menjadi salah satu indikator bahwa kawasan tersebut pada masa lalu merupakan wilayah rawa yang berpotensi menghasilkan gas metana.
"Jadi indikasi kuat sumber gas ini adalah gas metana dari rawa. Jadi ini salah satu indikasi kuat batuan wilayah ini, dulunya memang bekas rawa dan ini batuannya yang warnanya gelap ini sebagai tempat tersimpannya gas," jelasnya.
Tim peneliti juga menelusuri kemungkinan jalur perpindahan gas hingga mencapai rumah warga. Berdasarkan kajian lapangan, terdapat indikasi rekahan atau patahan batuan yang dapat menjadi jalur migrasi gas dari sumbernya menuju permukaan.
Basuki menjelaskan gas yang terakumulasi dalam batuan dapat mengalami kejenuhan sehingga bergerak mencari jalur pelepasan ke area lain.
"Kenapa bisa sampai di rumahnya Pak Agus yang tertimpa musibah. Jadi gas itu kan ketika di dalam batuan jenuh, dia akan terus melakukan rilis bergerak, bermigrasi. Nah, kami juga mendapatkan indikasi juga jalur-jalur semacam patahan, rekatan-rekatan yang arahnya ke utara," ungkap Basuki.
Menurut pengamatannya, konsentrasi gas di lokasi saat ini mulai menurun. Kondisi tersebut sejalan dengan berkurangnya kemunculan api yang sebelumnya sempat membuat warga resah.

Sebelumnya, Polsek Seyegan menerima laporan kebakaran di sebuah rumah pemotongan ayam di wilayah Kasuran, Mriyan, Kalurahan Margomulyo, Kapanewon Seyegan, pada Minggu (24/5/2026) sekitar pukul 01.00 WIB.
Kasihumas Polresta Sleman, Iptu Argo Anggoro, mengatakan kebakaran diduga berkaitan dengan gas metana yang berasal dari septic tank di lokasi tersebut.
Dari hasil pemeriksaan, insiden serupa diketahui telah terjadi beberapa kali dalam beberapa hari sebelumnya. Pada Jumat (22/5/2026), bagian pintu kamar mandi dan handuk dilaporkan terbakar. Kemudian pada Sabtu (23/5/2026), kebakaran kembali terjadi dan menghanguskan sebagian kursi ruang tamu, kasur kamar, serta kain yang berada di kamar mandi.
Menindaklanjuti laporan tersebut, Kapolsek Seyegan AKP Pujiono bersama anggota piket fungsi, Tim Identifikasi Polresta Sleman, dan Tim Gegana Polda DIY mendatangi lokasi untuk melakukan olah tempat kejadian perkara (TKP).
"Berdasarkan hasil pemeriksaan Tim Gegana Polda DIY, kebakaran dipicu adanya kebocoran gas metana dari septic tank yang saluran pembuangan gasnya tidak sesuai standar, sehingga gas masuk ke dalam rumah dan memicu kebakaran," terang Argo.
Meski demikian, hingga Jumat (29/5/2026), warga masih melaporkan kemunculan api dalam waktu-waktu tertentu di lokasi tersebut sehingga investigasi terkait sumber dan pergerakan gas metana masih terus menjadi perhatian berbagai pihak.
Cek Berita dan Artikel yang lain di Harian Jogja, dan edisi cetak versi elektronik kami hadir di Epaper Harian Jogja.

3 hours ago
1

















































