Harianjogja.com, JAKARTA— Presiden Prabowo Subianto menyebut belanja negara dalam Rancangan Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara (RAPBN) 2027 mencapai Rp4.097,2 triliun. Anggaran tersebut disiapkan bersama target pendapatan negara sebesar Rp3.426,0 triliun sehingga defisit anggaran diproyeksikan turun menjadi Rp671,2 triliun atau 2,40% terhadap Produk Domestik Bruto (PDB).
Postur RAPBN 2027 menunjukkan pemerintah tetap mempertahankan belanja negara dalam level ekspansif. Pada saat yang sama, pendapatan negara ditargetkan tumbuh 6,8% dibandingkan outlook 2026, terutama ditopang oleh peningkatan penerimaan perpajakan.
Pendapatan Negara Ditargetkan Rp3.426 Triliun
Pendapatan negara dalam RAPBN 2027 ditetapkan sebesar Rp3.426,0 triliun, meningkat Rp217,9 triliun atau 6,8% dibandingkan outlook 2026 sebesar Rp3.208,1 triliun.
Kenaikan tersebut terutama berasal dari penerimaan perpajakan. Pemerintah menargetkan penerimaan perpajakan mencapai Rp2.908,0 triliun atau naik 10,5% dari outlook 2026 sebesar Rp2.631,4 triliun.
Rinciannya sebagai berikut:
Penerimaan pajak: Rp2.591,4 triliun, naik 12,1% dari Rp2.310,8 triliun.
Kepabeanan dan cukai: Rp316,6 triliun, turun 1,2% dari Rp320,6 triliun.
Penerimaan Negara Bukan Pajak (PNBP): Rp517,4 triliun, turun 10,0% dari Rp575,1 triliun.
Hibah: Rp0,7 triliun, turun 56,0% dari Rp1,5 triliun.
Dengan komposisi tersebut, penerimaan pajak menjadi salah satu sumber utama peningkatan pendapatan negara pada RAPBN 2027.
Belanja Negara Naik Jadi Rp4.097,2 Triliun
Di sisi belanja, pemerintah merancang anggaran sebesar Rp4.097,2 triliun. Jumlah tersebut meningkat 3,9% dibandingkan outlook 2026 yang sebesar Rp3.942,4 triliun.
Belanja pemerintah pusat mencapai Rp3.362,2 triliun, naik 3,6% dari Rp3.245,5 triliun pada outlook 2026.
Namun, komponen belanja Kementerian/Lembaga (K/L) justru mengalami penurunan. Anggarannya dirancang sebesar Rp1.504,7 triliun, turun 7,7% dibandingkan outlook 2026 sebesar Rp1.630,4 triliun.
Sementara itu, belanja non-K/L meningkat cukup besar menjadi Rp1.857,5 triliun. Angka tersebut naik 15,0% dari outlook 2026 sebesar Rp1.615,1 triliun.
Adapun transfer ke daerah juga meningkat menjadi Rp735,0 triliun, naik 5,5% dibandingkan outlook 2026 yang sebesar Rp696,9 triliun.
Defisit RAPBN 2027 Dipersempit
Meskipun belanja negara tetap meningkat, pemerintah menargetkan defisit anggaran lebih rendah dibandingkan outlook 2026.
Defisit RAPBN 2027 ditetapkan sebesar Rp671,2 triliun atau setara 2,40% terhadap PDB. Angka tersebut lebih rendah Rp63,1 triliun dibandingkan outlook 2026 sebesar Rp734,3 triliun atau 2,85% terhadap PDB.
Dengan demikian, rasio defisit terhadap PDB turun 0,45 poin, dari 2,85% menjadi 2,40%.
Pemerintah juga mencatat keseimbangan primer dalam RAPBN 2027 sebesar negatif Rp20,9 triliun. Angka tersebut jauh membaik dibandingkan outlook 2026 yang mencapai negatif Rp152,1 triliun.
Ringkasan Postur RAPBN 2027
Berikut perbandingan outlook 2026 dan RAPBN 2027:
Pendapatan negara: Rp3.208,1 triliun menjadi Rp3.426,0 triliun, naik 6,8%.
Penerimaan perpajakan: Rp2.631,4 triliun menjadi Rp2.908,0 triliun, naik 10,5%.
Penerimaan pajak: Rp2.310,8 triliun menjadi Rp2.591,4 triliun, naik 12,1%.
Kepabeanan dan cukai: Rp320,6 triliun menjadi Rp316,6 triliun, turun 1,2%.
PNBP: Rp575,1 triliun menjadi Rp517,4 triliun, turun 10,0%.
Hibah: Rp1,5 triliun menjadi Rp0,7 triliun, turun 56,0%.
Belanja negara: Rp3.942,4 triliun menjadi Rp4.097,2 triliun, naik 3,9%.
Belanja pemerintah pusat: Rp3.245,5 triliun menjadi Rp3.362,2 triliun, naik 3,6%.
Belanja K/L: Rp1.630,4 triliun menjadi Rp1.504,7 triliun, turun 7,7%.
Belanja non-K/L: Rp1.615,1 triliun menjadi Rp1.857,5 triliun, naik 15,0%.
Transfer ke daerah: Rp696,9 triliun menjadi Rp735,0 triliun, naik 5,5%.
Keseimbangan primer: negatif Rp152,1 triliun menjadi negatif Rp20,9 triliun.
Defisit APBN: Rp734,3 triliun menjadi Rp671,2 triliun, turun 8,6%.
Defisit terhadap PDB: dari 2,85% menjadi 2,40%
Pembiayaan anggaran: Rp734,3 triliun menjadi Rp671,2 triliun, turun 8,6%.
Perubahan Utama dari 2026 ke 2027
Jika dilihat dari perubahan nominalnya, pendapatan negara dalam RAPBN 2027 bertambah Rp217,9 triliun, sedangkan belanja negara meningkat Rp154,8 triliun.
Pada saat yang sama, defisit anggaran dipangkas Rp63,1 triliun, dari Rp734,3 triliun menjadi Rp671,2 triliun. Pembiayaan anggaran juga turun dengan jumlah yang sama, yakni Rp63,1 triliun.
Postur tersebut membuat RAPBN 2027 memiliki tiga perubahan utama: pendapatan negara meningkat, belanja tetap ekspansif, dan defisit kembali dipersempit menjadi 2,40% terhadap PDB.
Cek Berita dan Artikel yang lain di Harian Jogja, dan edisi cetak versi elektronik kami hadir di Epaper Harian Jogja.
Sumber : Bisnis

6 hours ago
5

















































