Prabowo Targetkan NTT Hijau Kembali dalam 10 Tahun

4 hours ago 2

Harianjogja.com, JAKARTA— Presiden Prabowo Subianto menargetkan kawasan gundul di Nusa Tenggara Timur (NTT) dapat kembali hijau dalam waktu sekitar 10 tahun. Pemerintah akan mempercepat penghijauan melalui pembangunan pusat pembibitan atau nursery di tingkat provinsi dan kabupaten serta penerapan permaculture di wilayah yang mengalami degradasi lingkungan.

Prabowo menyampaikan arahan tersebut saat menerima laporan dari sejumlah pejabat dan menteri Kabinet Merah Putih dalam agenda peninjauan penanganan dampak gempa bumi di Nagekeo, NTT, Rabu (26/6/2026).

"Saya telah membentuk waktu itu Unhan, Dikti sama BRIN untuk keliling ke beberapa negara belajar bagaimana mempercepat penghijauan," kata Prabowo.

Menurut Prabowo, program penghijauan tidak cukup hanya dengan menanam pohon. Jenis tanaman yang dipilih harus produktif sekaligus mampu membantu menjaga ketersediaan air.

Karena itu, pemerintah pusat akan membantu pembangunan fasilitas pembibitan di tingkat provinsi dan kabupaten. Bibit dari fasilitas tersebut nantinya ditanam di lahan terbuka dan kawasan yang dinilai penting bagi sumber air.

"Semua lahan yang terbuka kita tanam pohon yang produktif dan pohon-pohon untuk mengamankan air," ujarnya.

Permaculture untuk Pulihkan Lingkungan

Prabowo juga mendorong penerapan permaculture di kawasan pegunungan dan daerah yang mengalami degradasi lingkungan. Menurut dia, pendekatan tersebut membutuhkan waktu dan konsistensi sebelum memberikan hasil.

"Kalau dilakukan dengan teliti dalam empat, lima, enam tahun itu bisa menampung dan menambah air di dalam bumi," kata Prabowo.

Dia optimistis kawasan yang saat ini gundul dapat kembali hijau dalam waktu sekitar satu dekade apabila program dilakukan secara konsisten.

"Daerah-daerah gundul ini dalam 10 tahun bisa hijau kembali," ujarnya.

Penghijauan, kata Prabowo, harus menjadi bagian dari agenda pembangunan pemerintah provinsi dan kabupaten, berjalan berdampingan dengan pengembangan sektor pertanian.

Dia juga meminta edukasi mengenai pelestarian hutan diberikan sejak usia sekolah. Masyarakat, khususnya generasi muda, perlu memahami pentingnya menjaga pohon serta menghindari pembukaan lahan dengan cara membakar atau menebang pohon secara sembarangan.

"Pohon adalah sumber kehidupan. No tree, no forest. No forest, no water. No water, no life," kata Prabowo.

Desalinasi Jadi Opsi Atasi Keterbatasan Air

Selain penghijauan, Prabowo menilai teknologi desalinasi dapat menjadi salah satu solusi pemenuhan kebutuhan air bersih. Teknologi tersebut dinilai penting terutama bagi daerah kepulauan dan kawasan pesisir yang memiliki keterbatasan sumber air tawar.

Prabowo mengatakan Indonesia telah memiliki kemampuan mengembangkan teknologi desalinasi melalui lembaga pendidikan dan penelitian. Teknologi tersebut juga dapat diintegrasikan dengan teknologi dari luar negeri yang saat ini dinilai semakin terjangkau.

"Ini nanti kita integrasikan, kita bantu ke semua kabupaten, kecamatan, desa yang membutuhkan air bersih," ujarnya.

Namun, pembangunan infrastruktur dan pemanfaatan teknologi, menurut Prabowo, tetap harus disertai edukasi masyarakat mengenai pengelolaan sumber daya air dan lingkungan.

Nagekeo Disiapkan Jadi Lumbung Pangan

Dalam agenda tersebut, Prabowo juga menyatakan dukungan terhadap rencana pengembangan lahan pertanian seluas 8.000 hektare di Nagekeo.

Kawasan itu dinilai dapat dikembangkan menjadi lumbung pangan apabila pembangunan irigasi berjalan sesuai rencana.

"Kalau tiga bulan lagi menurut Menteri PU irigasi jalan, kita mulai. Setelah itu 8.000 hektare itu menjadi lumbung pangan," katanya.

Prabowo mendorong agar pengembangan pertanian dilakukan bersamaan dengan penghijauan. Dengan pendekatan tersebut, peningkatan produksi pangan diharapkan tidak mengorbankan keberlanjutan sumber daya air dan lingkungan.

Target perubahan lingkungan juga tidak hanya diarahkan ke Nagekeo. Prabowo menargetkan seluruh wilayah NTT dapat mengalami transformasi penghijauan.

"NTT kita ubah untuk jadi hijau semua," ujar Prabowo.

Gubernur NTT dalam kesempatan tersebut menyatakan optimistis daerahnya dapat menjadi salah satu daerah utama secara nasional dalam sektor peternakan dalam lima tahun ke depan.

Sekolah Tetap Berjalan Saat Tanggap Darurat

Dalam agenda yang sama, Prabowo turut menyoroti keberlangsungan kegiatan belajar mengajar bagi anak-anak terdampak gempa. Dia meminta kebutuhan tenda sekolah diperhitungkan agar proses pendidikan tidak terhenti selama masa tanggap darurat.

Kepala BNPB Suharyanto melaporkan Kementerian Pendidikan Dasar dan Menengah telah menyiapkan tenda-tenda sekolah yang sedang dalam proses pengiriman.

Untuk sementara, sekolah dapat memanfaatkan tenda pengungsian yang tersedia. Jika kapasitasnya belum mencukupi, Prabowo meminta penambahan tenda dilakukan.

"Untuk sementara sekolah enggak boleh berhenti, jadi tambah tenda," kata Prabowo.

Menurut dia, pendidikan harus tetap berjalan meskipun masyarakat masih menghadapi situasi pascabencana.

BRIN dan Perguruan Tinggi Diminta Terlibat

Untuk memastikan penghijauan berlangsung berkelanjutan, Prabowo meminta BRIN dan Kementerian Pendidikan Tinggi, Sains, dan Teknologi tidak hanya bekerja di NTT. Keduanya juga diminta mengembangkan program edukasi mengenai pemulihan hutan untuk seluruh Indonesia.

Prabowo menilai upaya menghijaukan kembali kawasan yang mengalami kerusakan membutuhkan kesabaran, ketekunan, ketabahan, dan gotong royong.

"Permaculture membutuhkan lima tahun. Itu kesabaran, ketekunan, ketabahan, gotong royong," ujarnya.

Prabowo juga meminta TNI dan Polri ikut mengambil peran dalam program tersebut. Pemerintah daerah, perguruan tinggi, dan pemerintah pusat diharapkan membangun koordinasi agar program penghijauan tidak berhenti sebagai program jangka pendek.

Di akhir arahannya, Prabowo kembali menekankan pentingnya keberpihakan pemimpin kepada masyarakat yang paling membutuhkan. Menurut dia, gubernur, bupati, camat, hingga kepala desa merupakan pemimpin yang memiliki posisi paling dekat dengan rakyat.

"Berani itu harus berani berbuat, berani berpikir, berani bertanya, berani mendengar, berani mencari tahu yang benar-benar dirasakan orang yang paling jauh, paling susah, paling miskin, paling tidak berdaya," kata Prabowo.

Cek Berita dan Artikel yang lain di Harian Jogja, dan edisi cetak versi elektronik kami hadir di Epaper Harian Jogja.

Read Entire Article
Jogja News Jogja Politan Jogja Ball Jogja Otote Klik News Makassar news