
FIFA President Gianni Infantino. (AFP/SIMON MAINA/SIMON MAINA)
Harianjogja.com, JOGJA—Konflik internal di tubuh FIFA memasuki babak baru setelah Presiden FIFA Gianni Infantino menggelar rapat darurat bersama jajaran eksekutif di Rabat, Maroko, Rabu (5/8/2026). Pertemuan itu berlangsung di tengah meningkatnya tekanan terhadap rencana kontroversial FIFA yang disebut-sebut akan membuka jalan bagi investor swasta untuk mengelola hak komersial sejumlah turnamen internasional.
Polemik tersebut memicu penolakan dari berbagai kalangan, termasuk sejumlah pejabat senior FIFA yang selama ini dikenal dekat dengan kepemimpinan Infantino. Kritik muncul karena rencana tersebut dianggap berpotensi mengubah struktur pengelolaan sepak bola dunia dan mengurangi independensi organisasi.
Menurut berbagai laporan media internasional, FIFA dikabarkan tengah mempertimbangkan skema kerja sama dengan konsorsium investor swasta untuk mengelola hak komersial turnamen-turnamen besar pada masa mendatang. Turnamen yang disebut masuk dalam pembahasan antara lain Piala Dunia, Piala Dunia Antarklub, serta beberapa kompetisi internasional lainnya.
Langkah tersebut memicu kekhawatiran bahwa kepentingan bisnis akan semakin mendominasi pengelolaan sepak bola global. Sejumlah pihak menilai kebijakan itu berpotensi menggeser orientasi FIFA dari organisasi olahraga menjadi entitas yang lebih berfokus pada keuntungan komersial.
Salah satu kritik paling keras datang dari Kepala Pengembangan Sepak Bola Global FIFA, Arsene Wenger. Mantan pelatih Arsenal itu menegaskan bahwa pembatalan rencana tersebut merupakan langkah yang tidak bisa ditawar.
Wenger mengaku tidak pernah dilibatkan dalam proses penyusunan proposal dan baru mengetahui keberadaannya melalui pemberitaan media. Ia menegaskan FIFA harus tetap menjaga independensinya sebagai organisasi yang bertugas melayani perkembangan sepak bola dunia.
"Saya meyakini FIFA harus tetap independen dan melayani sepak bola dengan komitmen, transparansi, dan integritas," ujar Wenger seperti dikutip dari BBC Sport International.
Pernyataan tersebut menarik perhatian karena Wenger selama ini dikenal sebagai salah satu tokoh yang beberapa kali mendukung gagasan reformasi kompetisi yang diusulkan Infantino. Salah satunya adalah wacana penyelenggaraan Piala Dunia dua tahunan yang sempat menjadi perdebatan global pada 2021.
Namun dalam kasus terbaru ini, Wenger justru berada di barisan yang mendesak FIFA lebih terbuka dan transparan terhadap seluruh pemangku kepentingan sepak bola.
Tekanan terhadap FIFA semakin besar setelah UEFA dilaporkan mulai menyiapkan langkah hukum. Sebanyak 18 pejabat FIFA disebut masuk dalam surat pelestarian dokumen yang dikirim UEFA sebagai bagian dari proses awal potensi gugatan.
UEFA menilai rencana komersialisasi tersebut berisiko mengganggu struktur kompetisi internasional yang selama ini dibangun bersama berbagai konfederasi dan federasi anggota.
Di tengah meningkatnya tekanan, gejolak internal FIFA juga ditandai dengan mundurnya Carlos Cordeiro dari posisinya sebagai Penasihat Senior Strategi dan Tata Kelola Global. Ia menjadi pejabat pertama yang memilih meninggalkan jabatannya sejak kontroversi ini mencuat.
Dalam pernyataannya, Cordeiro menyebut proposal tersebut sebagai kesepakatan yang dapat merugikan masa depan sepak bola dunia. Menurutnya, pengelolaan hak komersial kompetisi internasional tidak boleh dilakukan dengan mengorbankan prinsip-prinsip dasar olahraga.
Kontroversi semakin meluas setelah Presiden Federasi Sepak Bola Yordania, Pangeran Ali bin Al Hussein, melontarkan tuduhan serius terhadap FIFA.
Melalui akun media sosialnya, Pangeran Ali menuduh FIFA menunda pembayaran hadiah yang seharusnya diterima Yordania setelah menjadi runner-up Piala Arab FIFA. Ia mengklaim dana tersebut baru akan diproses apabila federasinya memberikan dukungan politik kepada Infantino menjelang pemilihan presiden FIFA berikutnya.
Menurut Pangeran Ali, praktik semacam itu tidak dapat diterima dalam organisasi olahraga global yang menjunjung prinsip transparansi dan keadilan.
Ia juga menyinggung persoalan lain yang dialami pendukung tim nasional Yordania yang disebut kesulitan memperoleh visa untuk menyaksikan negaranya tampil di Piala Dunia. Hingga kini FIFA belum memberikan tanggapan resmi terhadap tuduhan tersebut.
Dari dalam organisasi, suara kritik juga muncul dari Sekretaris Jenderal FIFA Mattias Grafstrom. Dalam memo internal yang ditujukan kepada seluruh staf, Grafstrom menggambarkan situasi yang terjadi sebagai periode yang sulit dipahami dan diterima.
Meski demikian, ia meminta seluruh pegawai tetap fokus menjalankan tugas dan memastikan pelayanan terhadap sepak bola dunia tidak terganggu oleh dinamika politik yang sedang berkembang.
Grafstrom menegaskan bahwa individu maupun peristiwa tertentu dapat datang dan pergi, tetapi misi FIFA sebagai organisasi sepak bola global harus tetap berjalan.
Konflik antara FIFA dan UEFA sebenarnya bukan hal baru. Pada 2021, kedua organisasi sempat bersitegang terkait usulan penyelenggaraan Piala Dunia setiap dua tahun sekali. Saat itu, UEFA bahkan mengancam menarik negara-negara anggotanya dari turnamen jika gagasan tersebut dipaksakan.
Kini, ketegangan kembali muncul dengan isu yang berbeda, yakni rencana penjualan hak komersial turnamen kepada investor swasta. Banyak pihak menilai keputusan yang akan diambil FIFA dalam beberapa pekan ke depan dapat menentukan arah masa depan sepak bola internasional.
Di tengah tekanan yang terus meningkat, rapat darurat di Maroko menjadi momentum penting bagi Gianni Infantino untuk meredam krisis sekaligus menjawab berbagai kekhawatiran mengenai masa depan tata kelola sepak bola dunia.
Cek Berita dan Artikel yang lain di Harian Jogja, dan edisi cetak versi elektronik kami hadir di Epaper Harian Jogja.
Jumali Jurnalis Harian Jogja, bagian dari Bisnis Indonesia Group menulis untuk media cetak dan online

5 hours ago
4

















































