Rektor UINAM Ungkap Keistimewaan Syekh Yusuf yang Diakui Dua Negara

10 hours ago 3
Rektor UINAM Ungkap Keistimewaan Syekh Yusuf yang Diakui Dua Negara Rektor UIN Alauddin Makassar, Prof. Hamdan Juhannis, saat Sambutan dalam Agenda Dialog Budaya dalam rangka Haul 400 Tahun Syekh Yusuf Al-Makassariy yang menjadi bagian dari rangkaian Festival Aksara Lontaraq Vol. VII 2026 (Dok: Sinta KabarMakassar).

KabarMakassar.com — Rektor Universitas Islam Negeri (UIN) Alauddin Makassar, Prof. Hamdan Juhannis, menilai Syekh Yusuf Al-Makassariy memiliki posisi yang sangat istimewa dalam sejarah karena menjadi tokoh asal Sulawesi Selatan yang diakui sebagai pahlawan oleh dua negara, yakni Indonesia dan Afrika Selatan.

Keistimewaan itu, menurutnya, menjadikan Syekh Yusuf layak terus dikenang dan diwariskan kepada generasi muda.

Hal tersebut disampaikan Hamdan saat membuka Dialog Budaya dalam rangka Haul 400 Tahun Syekh Yusuf Al-Makassariy yang menjadi bagian dari rangkaian Festival Aksara Lontaraq Vol. VII 2026 bertema Spirit Keislaman, Kebudayaan, dan Peradaban Nusantara, di Auditorium Kampus II UIN Alauddin Makassar, Kamis (9/7)

Kegiatan yang digagas melalui kolaborasi Kabar Group Indonesia, Kementerian Agama, Kementerian Kebudayaan, dan UIN Alauddin Makassar itu dihadiri Menteri Agama RI Nasaruddin Umar, Founder & CEO Kabar Group Indonesia Upi Asmaradhana, Direktur Promosi Kebudayaan Wawan Yogaswara, akademisi, budayawan, serta mahasiswa dari berbagai perguruan tinggi di Makassar.

Hamdan Juhannis menegaskan bahwa Syekh Yusuf bukan sekadar ulama besar, tetapi figur yang memiliki rekam jejak luar biasa dalam sejarah dunia Islam dan perjuangan melawan kolonialisme.

“Syekh Yusuf adalah sosok yang the one and the only. Beliau satu-satunya tokoh yang mampu memadukan peran sebagai ulama, sufi, pejuang antikolonial, sekaligus diplomat peradaban,” ujar Hamdan.

Ia menjelaskan, pengakuan terhadap Syekh Yusuf tidak hanya datang dari Indonesia, tetapi juga dari Afrika Selatan. Menurutnya, pencapaian tersebut merupakan sesuatu yang sangat langka dan menunjukkan besarnya pengaruh perjuangan Syekh Yusuf lintas negara.

“Beliau satu-satunya sosok yang diakui kepahlawanannya oleh dua negara, Indonesia dan Afrika Selatan. Menjadi pahlawan di satu negara saja sudah sangat sulit, apalagi diakui oleh dua negara,” katanya.

Hamdan juga menyoroti jejak sejarah Syekh Yusuf yang melampaui batas-batas geografis dan etnis. Menurutnya, perjuangan tokoh asal Gowa itu tidak hanya ditujukan untuk kelompok tertentu, tetapi membawa pesan universal tentang keadilan dan kemanusiaan.

“Syekh Yusuf adalah ulama pejuang yang menjadi simbol perjuangan lintas ras. Beliau tidak berjuang hanya untuk satu komunitas, satu etnis, atau satu bangsa, tetapi membawa nilai-nilai kemanusiaan yang bersifat universal,” ungkapnya.

Ia menambahkan, salah satu bukti besarnya pengaruh Syekh Yusuf adalah keberadaan makam simbolik di lebih dari satu negara. Kondisi tersebut menunjukkan bahwa warisan sejarah dan penghormatan terhadap Syekh Yusuf hidup di berbagai wilayah yang pernah menjadi bagian dari perjalanan dakwah dan perjuangannya.

“Syekh Yusuf menjadi satu-satunya tokoh asal Sulawesi Selatan yang memiliki jejak penghormatan di dua negara. Itu menunjukkan bahwa pengaruh beliau melampaui batas wilayah dan zaman,” jelas Hamdan.

Menurut Hamdan, UIN Alauddin memiliki keterikatan historis dengan Syekh Yusuf sehingga merasa memiliki tanggung jawab moral untuk terus menghidupkan diskusi mengenai pemikiran, perjuangan, dan keteladanannya.

“Mengapa Syekh Yusuf harus terus diperingati? Karena beliau adalah figur yang memiliki keunikan dan keteladanan yang tidak dimiliki banyak tokoh lain. Nilai-nilai itu harus terus diwariskan kepada generasi muda,” tuturnya.

Ia pun berharap dialog budaya dalam rangka Haul 400 Tahun Syekh Yusuf Al-Makassariy tidak berhenti sebagai kegiatan seremonial, tetapi menjadi ruang untuk memperkuat pemahaman masyarakat terhadap warisan intelektual, spiritual, dan kebangsaan yang ditinggalkan tokoh besar asal Gowa tersebut.

“Bagi saya, Syekh Yusuf layak disebut sebagai tokoh, pejuang, sekaligus bapak peradaban manusia karena perjuangannya melampaui sekat agama, bangsa, dan ras,” tukas Hamdan.

Navigasi pos

Read Entire Article
Jogja News Jogja Politan Jogja Ball Jogja Otote Klik News Makassar news