
Pengendara memakai masker saat pembagian masker gratis di simpang empat RS Charitas Palembang, Sumatera Selatan, Senin (24/8/2026). Pemerintah Kota Palembang membagikan 16.500 masker kepada masyarakat untuk mencegah terjangkitnya penyakit Infeksi Saluran Pernapasan Akut (ISPA) akibat bencana kabut asap dampak Kebakaran Hutan dan Lahan (Karhutla). Antara/Nova Wahyudi/YU
Harianjogja.com, JOGJA—Kebakaran hutan dan lahan (karhutla) yang melanda sejumlah wilayah Indonesia kembali menarik perhatian dunia internasional. Dua media asing ternama, Reuters dan Channel News Asia (CNA), menyoroti dampak kabut asap yang tidak hanya mengganggu aktivitas masyarakat di dalam negeri, tetapi juga mulai dirasakan negara-negara tetangga di kawasan Asia Tenggara.
Salah satu dampak terbesar yang menjadi perhatian Reuters adalah terganggunya sektor pendidikan. Dalam laporan berjudul Wildfire haze forces 1.4 million Indonesian students into remote learning yang terbit pada Rabu (2/9/2026), Reuters menyebut sekitar 1,43 juta siswa dari 12.874 sekolah terpaksa mengikuti pembelajaran jarak jauh akibat memburuknya kualitas udara.
Kebijakan tersebut diterapkan di enam provinsi yang menjadi wilayah prioritas penanganan karhutla, yakni Riau, Jambi, Sumatera Selatan, Kalimantan Barat, Kalimantan Tengah, dan Kalimantan Selatan.
Pejabat Kementerian Pendidikan, Gogot Suharwoto, menjelaskan bahwa Kalimantan Barat menjadi daerah dengan jumlah siswa terdampak terbesar. Sekitar 1,1 juta siswa di provinsi tersebut mengikuti pembelajaran daring karena tingginya tingkat pencemaran udara.
Pembelajaran jarak jauh diberlakukan mulai 31 Agustus hingga 4 September 2026. Pemerintah akan melakukan evaluasi secara berkala sesuai perkembangan kualitas udara di masing-masing daerah.
Menurut Gogot, kebijakan belajar dari rumah diterapkan ketika Indeks Standar Pencemaran Udara (ISPU) melampaui angka 200. Namun, kondisi di sejumlah wilayah Kalimantan jauh melampaui batas tersebut.
Data Kementerian Kehutanan menunjukkan beberapa wilayah mencatat tingkat pencemaran di atas angka 1.000. Pontianak Tenggara, Kalimantan Barat, menjadi salah satu wilayah dengan kondisi terparah setelah mencatat indeks 1.023. Dalam klasifikasi kualitas udara nasional, angka di atas 300 sudah masuk kategori berbahaya.
"Para kepala sekolah berwenang mengambil tindakan segera dalam situasi mendesak. Mereka tidak perlu menunggu kondisi memburuk atau terlalu lama berkonsultasi dengan pihak berwenang lainnya," kata Gogot seperti dikutip Reuters.
Reuters juga menyoroti luasnya area yang terdampak kebakaran. Dalam tujuh bulan pertama 2026, sekitar 200.000 hektare lahan dilaporkan terbakar. Dari jumlah tersebut, lebih dari 73.000 hektare berada di enam provinsi prioritas penanganan pemerintah.
Sementara itu, CNA menyoroti langkah pemerintah yang menutup sementara sejumlah taman nasional akibat kebakaran hutan yang terus meluas.
Dalam laporan berjudul Indonesia closes 9 national parks temporarily following forest fires; prioritises firefighting in 6 provinces yang diterbitkan Selasa (1/9/2026), CNA menyebut pemerintah menutup sementara sembilan taman nasional untuk aktivitas pendakian.
Taman nasional yang ditutup meliputi Bromo Tengger Semeru, Kerinci Seblat, Gunung Ciremai, Tambora, Manusela, Bukit Baka Bukit Raya, Gunung Gede Pangrango, Gunung Leuser, serta sejumlah jalur di Taman Nasional Lorentz.
Selain penutupan sementara, pembatasan pendakian juga diterapkan di beberapa kawasan lain seperti Gunung Rinjani, Gunung Merbabu, Cagar Alam Dataran Tinggi Hyang, dan Taman Nasional Gunung Halimun Salak. Pendakian hanya diperbolehkan pada zona yang dinyatakan aman.
Menteri Kehutanan Raja Juli Antoni mengatakan kebakaran yang terjadi di kawasan konservasi menambah tantangan pemerintah dalam menangani karhutla di enam provinsi prioritas.
Menurutnya, sejumlah helikopter pengebom air yang semula diprioritaskan untuk wilayah rawan karhutla harus dialihkan untuk membantu pemadaman di kawasan taman nasional.
Penutupan taman nasional juga dilakukan setelah muncul sejumlah insiden yang mengancam keselamatan pengunjung. Salah satunya terjadi di Taman Nasional Bromo Tengger Semeru ketika sekitar 170 pendaki sempat terjebak akibat kebakaran hutan dan harus dievakuasi.
Sorotan media internasional tidak berhenti pada dampak domestik. CNA juga menyoroti meluasnya kabut asap lintas batas negara.
Data ASEAN Specialised Meteorological Centre (ASMC) menunjukkan titik panas tersebar di berbagai wilayah Sumatera dan Kalimantan. Asap dengan intensitas sedang hingga pekat terpantau menyelimuti Kalimantan Barat, Kalimantan Tengah, Kalimantan Utara, Sabah dan Sarawak di Malaysia, Brunei Darussalam, hingga sebagian wilayah Filipina.
Pada Selasa (1/9/2026), Pontianak tercatat sebagai kota dengan kualitas udara terburuk di Indonesia. Berdasarkan data IQAir, indeks kualitas udara (AQI) mencapai 851. Sementara Palangkaraya mencatat AQI 675. Kedua angka tersebut jauh berada di atas ambang batas kategori berbahaya.
Dampak kabut asap juga mulai dirasakan negara tetangga. Di Sarawak, Malaysia, enam wilayah dilaporkan mengalami kualitas udara berbahaya. Serian mencatat indeks polusi tertinggi sebesar 408, disusul Kuching dengan angka 407.
Sebelumnya, Wakil Menteri Kesehatan Dante Saksono Harbuwono mengungkapkan lebih dari lima juta warga di Pulau Kalimantan dan Sumatera terpapar risiko kesehatan akibat kabut asap karhutla. Selain itu, sekitar 13.500 orang dilaporkan menjalani perawatan karena infeksi saluran pernapasan selama Juli hingga Agustus 2026.
Meluasnya dampak karhutla hingga lintas negara menunjukkan bahwa persoalan kebakaran hutan bukan hanya isu lingkungan, tetapi juga menyangkut kesehatan masyarakat, pendidikan, transportasi, hingga hubungan regional. Karena itu, percepatan penanganan karhutla menjadi salah satu agenda penting yang terus mendapat perhatian pemerintah dan komunitas internasional.
Cek Berita dan Artikel yang lain di Harian Jogja, dan edisi cetak versi elektronik kami hadir di Epaper Harian Jogja.

3 hours ago
4
















































