Jumali Senin, 25 Mei 2026 16:07 WIB
Harianjogja.com, JOGJA— Rumah baru bergaya French modern klasik milik Tasya Farasya sukses membuat warganet terpukau sekaligus memancing kritik. Konten house tour yang ditonton jutaan kali itu dianggap sebagian orang kurang sensitif dengan situasi ekonomi saat ini.
Video yang diunggah melalui akun Instagram pribadinya pada 24 Mei 2026 tersebut, Tasya memperlihatkan sebagian area rumah barunya yang dibangun dengan konsep French modern klasik. Rumah empat lantai itu disebut membutuhkan waktu pengerjaan hingga enam tahun.
“Finally, a house tour! Part 1 Lantai 1,” tulis Tasya dalam keterangan unggahannya.
Bagian rumah yang diperlihatkan baru mencakup lantai pertama. Meski demikian, tampilannya langsung menarik perhatian publik karena dipenuhi interior mewah, mulai dari ruang tamu besar, area makan, dapur, kamar tidur, hingga walking closet dan toilet tersembunyi.
Banyak warganet mengaku terpukau dengan desain rumah tersebut. Sebagian bahkan menyamakan hunian itu dengan rumah selebriti Hollywood.
Komentar bernada kagum membanjiri unggahan tersebut. Salah satu akun menyebut rumah itu terlihat seperti mansion artis luar negeri, sementara akun lain bercanda ingin memiliki rumah serupa suatu hari nanti.
Namun, respons berbeda muncul di platform Threads. Sejumlah pengguna media sosial menilai unggahan rumah mewah di tengah kondisi ekonomi saat ini berpotensi memancing kecemburuan sosial dan dianggap kurang sensitif.
Beberapa komentar mengingatkan soal risiko keamanan ketika detail rumah dipublikasikan secara terbuka di media sosial. Ada pula yang menilai konten semacam itu terlalu menonjolkan kemewahan ketika banyak masyarakat sedang menghadapi tekanan ekonomi.
Istilah “tone deaf” bahkan ikut muncul dalam kritik yang diarahkan kepada Tasya. Sebagian warganet menilai influencer dengan jutaan pengikut perlu lebih berhati-hati dalam membagikan gaya hidup mewah di ruang publik digital.
Meski begitu, tidak sedikit pula yang memberikan pembelaan terhadap Tasya Farasya. Mereka berpendapat rumah tersebut merupakan hasil kerja keras selama bertahun-tahun sehingga sah-sah saja jika dibagikan kepada pengikutnya.
Sebagian pengguna media sosial juga menilai konten house tour merupakan jenis hiburan yang lazim di era digital dan banyak diminati publik. Menurut mereka, tidak semua unggahan kemewahan bisa langsung dianggap sebagai bentuk pamer.
Perdebatan ini kembali memperlihatkan bagaimana media sosial menjadi ruang yang sensitif terhadap isu kesenjangan sosial dan gaya hidup. Konten yang bagi sebagian orang dianggap inspiratif, bisa dipandang berbeda oleh orang lain yang melihatnya sebagai bentuk flexing.
Fenomena tersebut juga menunjukkan perubahan cara publik menilai figur publik di era media sosial. Tidak hanya soal pencapaian atau kemewahan, tetapi juga soal sensitivitas terhadap situasi sosial di sekitar.
Hingga kini, Tasya Farasya belum memberikan tanggapan terbuka terkait kritik yang muncul. Namun, perdebatan soal batas antara berbagi pencapaian pribadi dan flexing diperkirakan masih akan terus menjadi topik hangat di media sosial.
Cek Berita dan Artikel yang lain di Harian Jogja, dan edisi cetak versi elektronik kami hadir di Epaper Harian Jogja.
Jumali Jurnalis Harian Jogja, bagian dari Bisnis Indonesia Group menulis untuk media cetak dan online

3 hours ago
2

















































