Newswire Jum'at, 28 Agustus 2026 08:17 WIB

Aktivitas Gunung Semeru terpantau dari Pos Pengamatan Gunung Semeru di Desa Sumberwuluh, Kabupaten Lumajang, Jumat (28/8/2026). ANTARA/HO-PVMBG\r\n
Harianjogja.com, LUMAJANG—Aktivitas vulkanik Gunung Semeru di perbatasan Kabupaten Lumajang dan Malang, Jawa Timur, masih tinggi. Dalam periode Jumat (28/8) pukul 00.00 hingga 06.00 WIB, gunung api tersebut tercatat mengalami 21 kali gempa letusan/erupsi.
Petugas Pos Pengamatan Gunung Semeru, Yadi Yuliandi, mengatakan gempa letusan tersebut memiliki amplitudo 10-22 mm dengan lama gempa 67-120 detik.
"Dalam pengamatan kegempaan tercatat 21 kali gempa letusan/erupsi dengan amplitudo 10-22 mm, dan lama gempa 67-120 detik," kata Petugas Pos Pengamatan Gunung Semeru, Yadi Yuliandi dalam laporan tertulis yang diterima di Lumajang.
Selain gempa letusan, aktivitas kegempaan Gunung Semeru juga tercatat berupa gempa guguran, gempa hembusan, dan gempa tektonik jauh.
Selama enam jam pengamatan, tercatat dua kali gempa guguran dengan amplitudo 2-12 mm dan lama gempa 56-88 detik. Kemudian terdapat dua kali gempa hembusan dengan amplitudo 6-8 mm dan lama gempa 52-77 detik.
Gunung Semeru juga mengalami dua kali gempa tektonik jauh dengan amplitudo 5-17 mm, S-P 21-46 detik, dan lama gempa 68-113 detik.
Kondisi Visual Gunung Semeru
Dari pengamatan visual, Gunung Semeru terlihat jelas. Namun, asap kawah tidak teramati selama periode pengamatan tersebut.
"Secara visual gunung api terlihat jelas. Asap kawah tidak teramati. Cuaca cerah, angin lemah ke arah tenggara dan selatan," tuturnya.
Saat ini, aktivitas vulkanik Gunung Semeru berada pada status Level III atau Siaga. Masyarakat diminta mematuhi rekomendasi keselamatan yang berlaku di kawasan gunung api tersebut.
Yadi menjelaskan masyarakat tidak diperbolehkan melakukan aktivitas apa pun di sektor tenggara sepanjang Besuk Kobokan hingga sejauh 13 km dari puncak atau pusat erupsi.
"Di luar jarak tersebut, masyarakat juga tidak boleh melakukan aktivitas pada jarak 500 meter dari tepi sungai (sempadan sungai) di sepanjang Besuk Kobokan karena berpotensi terlanda perluasan awan panas dan aliran lahar hingga jarak 17 km dari puncak," ujarnya.
Radius 5 Kilometer dari Kawah Juga Berbahaya
Selain kawasan Besuk Kobokan, masyarakat juga diminta tidak melakukan aktivitas dalam radius lima km dari kawah atau puncak Gunung Semeru. Kawasan tersebut dinilai rawan terhadap bahaya lontaran batu (pijar).
Masyarakat juga diminta mewaspadai potensi awan panas, guguran lava, dan lahar di sepanjang aliran sungai atau lembah yang berhulu di puncak Gunung Semeru.
"Terutama sepanjang Besuk Kobokan, Besuk Bang, Besuk Kembar, dan Besuk Sat, serta potensi lahar pada sungai-sungai kecil yang merupakan anak sungai dari Besuk Kobokan," ucap Yadi.
Jalur Pendakian Semeru Ditutup Total
Di sisi lain, Balai Besar Taman Nasional Bromo Tengger Semeru (BB TNBTS) telah memberlakukan penutupan total jalur pendakian Gunung Semeru sejak 26 Agustus 2026.
Penutupan tersebut dilakukan karena terjadi kebakaran hutan di Blok Ranu Kembang. Seluruh pendaki yang berada di kawasan tersebut sudah turun pada Kamis (27/8/2026).
Dengan aktivitas vulkanik yang masih tercatat dan status Gunung Semeru berada pada Level III atau Siaga, masyarakat diminta memperhatikan seluruh rekomendasi terkait kawasan yang berpotensi terdampak erupsi, awan panas, guguran lava, lontaran batu pijar, maupun lahar.
Cek Berita dan Artikel yang lain di Harian Jogja, dan edisi cetak versi elektronik kami hadir di Epaper Harian Jogja.
Sumber : Antara
Yudhi Kusdiyanto Jurnalis Harian Jogja, bagian dari Bisnis Indonesia Group menulis untuk media cetak dan online

4 hours ago
2

















































