
Kelelahan - Ilustrasi/Freepik
Harianjogja.com, JAKARTA—Gaya hidup modern yang serba cepat dan penuh tekanan membuat banyak orang terjebak dalam rutinitas tanpa jeda. Aktivitas yang padat dari pagi hingga malam bukan hanya menguras energi fisik, tetapi juga berdampak serius pada kesehatan mental.
Kepala Global Kesehatan Mental dan Kesejahteraan di Roundglass Living, Prakriti Poddar, mengungkapkan bahwa tubuh sebenarnya memberikan berbagai sinyal ketika seseorang mengalami kelelahan mental. "Sayangnya, tanda-tanda ini kerap diabaikan karena dianggap hal biasa," katanya dikutip Kamis (18/6/2026)
Salah satu gejala paling umum adalah bangun tidur dalam kondisi tetap lelah, meski sudah beristirahat semalaman. Kondisi ini terjadi karena pikiran tidak benar-benar “beristirahat” saat tubuh tidur. Pikiran yang penuh beban cenderung terus aktif, sehingga kualitas tidur menjadi tidak optimal.
Selain itu, aktivitas sederhana yang biasanya mudah dilakukan bisa terasa sangat berat secara emosional. Seseorang yang mengalami kelelahan mental akan lebih mudah tersinggung, tidak sabar, bahkan kehilangan motivasi. Hal ini bukan tanda kelemahan, melainkan sinyal bahwa kapasitas emosional telah terkuras.
Gejala lainnya adalah kesulitan fokus atau yang sering disebut sebagai “brain fog”. Penderita akan mengalami gangguan konsentrasi, mudah lupa, hingga kesulitan berpikir jernih. Menurut Prakriti, kondisi ini dipicu oleh overstimulasi akibat multitasking dan paparan digital yang berlebihan.
Tak hanya berdampak pada pikiran, stres mental juga muncul dalam bentuk fisik. Mulai dari sakit kepala, ketegangan otot, gangguan pencernaan, hingga pernapasan yang tidak stabil. Jika dibiarkan, tubuh akan terus berada dalam kondisi siaga tinggi yang berisiko bagi kesehatan jangka panjang.
Lebih jauh, kelelahan mental juga membuat seseorang merasa terputus dari kebahagiaan. Aktivitas yang sebelumnya menyenangkan menjadi hambar. Bahkan, hubungan sosial dan kedekatan emosional dengan orang lain bisa ikut terganggu.
Untuk mengatasinya, Prakriti menyarankan pentingnya praktik kesejahteraan secara holistik. Beberapa langkah sederhana seperti mindfulness, latihan pernapasan, menulis jurnal, yoga, hingga mengurangi waktu layar dapat membantu menenangkan pikiran.
Ia juga menekankan pentingnya memberi ruang bagi diri sendiri tanpa tekanan untuk selalu sempurna. Dengan begitu, proses pemulihan mental bisa berjalan lebih optimal.
Mengenali tanda-tanda kelelahan mental sejak dini menjadi langkah penting agar kondisi tidak semakin parah. Istirahat bukan hanya soal tidur, tetapi juga tentang memberi jeda bagi pikiran untuk benar-benar pulih.
Cek Berita dan Artikel yang lain di Harian Jogja, dan edisi cetak versi elektronik kami hadir di Epaper Harian Jogja.
Sumber : Antara
Abdul Hamied Razak Jurnalis Harian Jogja, bagian dari Bisnis Indonesia Group menulis untuk media cetak dan online

4 hours ago
1

















































