Wisatawan mengunjungi kompleks Taman Wisata Candi (TWC) Prambanan di Sleman, DIY. - Antara - Hendra Nurdiyansyah
Harianjogja.com, SLEMAN—Sosiolog Universitas Gadjah Mada (UGM) Arie Sujito menilai melonjaknya jumlah wisatawan ke Yogyakarta mencerminkan daya tarik Daerah Istimewa Yogyakarta (DIY) yang kian menguat sebagai destinasi wisata nasional. Namun, kepadatan pergerakan orang tersebut perlu dikelola secara serius agar tidak menimbulkan konsekuensi sosial bagi masyarakat lokal.
Arie mengatakan lonjakan wisatawan memang mendorong pergerakan ekonomi yang cepat terasa, terutama di sektor perdagangan, jasa, hingga usaha mikro, kecil, dan menengah (UMKM). Meski demikian, kepadatan pengunjung juga membawa dampak sosial yang tidak ringan bagi warga di sekitar kawasan wisata.
“Ruang ini dianggap sebagai kesempatan positif, tetapi tantangannya nyata karena muncul kemacetan, interaksi sosial yang semakin padat, serta risiko lingkungan yang perlu dipikirkan bersama,” kata Arie, Rabu (31/12/2025).
Menurut Arie, dampak kepadatan wisatawan paling dirasakan warga lokal saat menjalani aktivitas harian. Akses jalan yang tersendat dan meningkatnya waktu tempuh menjadi persoalan yang berulang setiap musim liburan.
Kondisi tersebut, lanjutnya, dapat menimbulkan rasa tidak nyaman, terutama bagi masyarakat yang tinggal di kawasan padat dan bergantung pada mobilitas sehari-hari.
“Bagi warga sendiri, kepadatan ini membuat aktivitas keluar rumah terasa tidak nyaman karena kemacetan muncul di hampir semua titik,” ujarnya.
Tekanan akibat padatnya pergerakan orang juga berdampak pada fungsi ruang publik yang menjadi titik pertemuan warga dan wisatawan. Arie menilai ruang terbuka berpotensi kehilangan fungsinya ketika dipenuhi aktivitas wisata dalam waktu bersamaan.
Selain itu, persoalan sampah disebut menjadi konsekuensi serius dari meningkatnya jumlah orang di ruang kota.
“Kemampuan mengelola sampah dan membangun budaya menjaga lingkungan yang bersih menjadi keharusan, karena pariwisata tidak cukup dilihat dari sisi pemasukan ekonomi semata,” tandasnya.
Dari sisi ekonomi, Arie mengakui manfaat pariwisata dirasakan cukup luas. Namun, distribusi manfaat tersebut perlu mendapat perhatian agar tidak memicu ketimpangan sosial. Aktivitas wisata memang menggerakkan UMKM, homestay, dan sektor jasa lainnya, tetapi keuntungan berpotensi terkonsentrasi pada kelompok bermodal besar.
“Pengusaha besar sebaiknya turut memberdayakan pelaku usaha lokal agar pemerataan terjadi dan tidak memicu kecemburuan sosial,” tegas Arie.
Jika lonjakan wisata seperti pada masa libur Natal dan Tahun Baru (Nataru) terus berulang, Arie mengingatkan pentingnya antisipasi risiko sosial sejak dini. Ketegangan antara warga lokal dan pendatang berpotensi muncul apabila kepadatan tidak dikelola dengan baik.
Menurutnya, menjaga kenyamanan kota membutuhkan kedisiplinan kolektif dan kepedulian bersama terhadap ruang hidup.
“Jogjakarta yang nyaman, aman, dan humanis adalah tanggung jawab bersama agar keadaban kota tetap terjaga,” ujarnya.
Di akhir, Arie menegaskan peran pemerintah menjadi kunci dalam menjaga keseimbangan antara pertumbuhan pariwisata dan kualitas hidup warga. Perencanaan kota perlu memandang kepadatan wisata sebagai isu jangka menengah dan panjang, bukan sekadar fenomena musiman.
Kerja sama lintas wilayah antara kota dan kabupaten di sekitar Yogyakarta juga dinilai penting untuk mengatur tata ruang dan mobilitas secara lebih adil.
“Desain kebijakan di level provinsi dan kerja sama lintas wilayah dibutuhkan agar kota berkembang dengan visi yang ramah lingkungan dan humanis,” tandasnya.
Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News

15 hours ago
4
















































