
Ilustrasi kebakaran hutan./Istimewa
Harianjogja.com, BANTUL— Ancaman kebakaran hutan dan lahan (Karhutla) di Kabupaten Bantul mendapat perhatian serius dari kepolisian seiring kondisi musim kemarau yang berpotensi lebih kering. Polres Bantul menyiagakan 120 personel untuk mengantisipasi sekaligus mempercepat penanganan jika kebakaran terjadi.
Ratusan personel tersebut tergabung dalam Satuan Tugas (Satgas) Penanganan Karhutla. Kesiapsiagaan ini diperkuat dengan pemetaan wilayah rawan, pengecekan peralatan pemadaman, serta edukasi kepada masyarakat hingga tingkat padukuhan.
Kapolres Bantul AKBP Bayu Puji Hariyanto mengatakan kondisi iklim saat ini perlu diantisipasi bersama. Dalam apel tersebut, informasi BMKG menyebut fenomena El Nino telah aktif dan berpotensi mencapai level sangat kuat.
"Kondisi ini memicu musim kemarau yang jauh lebih kering, bersuhu udara tinggi, dan berdurasi lebih panjang di sebagian besar wilayah Indonesia, khususnya Daerah Istimewa Yogyakarta dan Kabupaten Bantul," kata Bayu, Selasa.
Vegetasi dan Lahan Lebih Mudah Terbakar
Menurut Bayu, kondisi kemarau yang lebih kering dapat membuat vegetasi dan lahan lebih mudah terbakar. Risiko tersebut semakin besar karena angin kencang dapat mempercepat penyebaran api, terutama apabila kebakaran terjadi di kawasan perbukitan maupun lahan kering.
Pengalaman penanganan Karhutla pada 2025 menjadi salah satu dasar untuk meningkatkan kesiapsiagaan tahun ini. Kebakaran lahan dan vegetasi di kawasan perbukitan pada tahun lalu menunjukkan api dapat meluas dengan cepat ketika kondisi kering disertai hembusan angin.
"Peristiwa kebakaran lahan dan vegetasi perbukitan membuktikan betapa cepatnya api merambat saat dikombinasikan dengan cuaca kering dan angin kencang," ujarnya.
Selain faktor cuaca, Bayu menyoroti kelalaian manusia sebagai penyebab utama kebakaran. Berdasarkan evaluasi kejadian sepanjang 2025, lebih dari 85 persen Karhutla dipicu oleh faktor kelalaian atau human error.
Beberapa aktivitas yang berisiko memicu api antara lain membakar sampah tanpa pengawasan, membersihkan atau membuka lahan dengan cara dibakar, hingga membuang puntung rokok di kawasan semak kering.
"Lebih dari 85 persen kejadian Karhutla sepanjang tahun 2025 dipicu oleh faktor kelalaian atau human error," jelasnya.
Sosialisasi Pencegahan Diperkuat
Polres Bantul tidak hanya mengandalkan kesiapan personel dan peralatan untuk menghadapi Karhutla. Pencegahan juga dilakukan dengan memperkuat edukasi kepada masyarakat hingga tingkat padukuhan.
Langkah tersebut ditujukan agar aktivitas yang berpotensi memicu kebakaran dapat dicegah sejak awal.
"Kita akan gencarkan sosialisasi hingga tingkat padukuhan agar masyarakat tidak membakar sampah sembarangan atau membersihkan lahan dengan cara dibakar," katanya.
Bayu menegaskan penanganan Karhutla membutuhkan koordinasi lintas unsur. Selain Polri, TNI, Basarnas, BPBD, Satpol PP, Damkar, relawan dan unsur Forkopimda perlu memiliki koordinasi yang baik agar respons terhadap kebakaran dapat dilakukan dengan cepat.
"Polres Bantul menyiagakan 120 personel sebagai bagian dari Satgas Penanganan Karhutla," ungkap Bayu.
Titik Rawan Api Dipetakan
Kesiapsiagaan juga dilakukan melalui pemetaan wilayah yang berpotensi mengalami kebakaran. Bhabinkamtibmas, Babinsa dan perangkat kalurahan diminta aktif mengidentifikasi titik-titik rawan.
"Optimalkan peran Bhabinkamtibmas, Babinsa, dan perangkat desa untuk memetakan titik-titik rawan api atau hotspot, khususnya di kawasan daerah dataran tinggi dan area lahan kering lainnya," ujarnya.
Selain personel, kondisi peralatan pemadaman juga dipastikan siap digunakan. Peralatan SAR, kendaraan tangki air, pompa air portabel, dan berbagai sarana pemadam diminta berada dalam kondisi siap ketika sewaktu-waktu diperlukan.
"Pastikan seluruh peralatan SAR, pemadam, kendaraan tangki air, dan pompa air portabel berada dalam kondisi siap pakai atau ready to use," tegasnya.
Bayu menambahkan kebakaran hutan dan lahan dapat menimbulkan dampak luas. Selain merusak vegetasi, asap kebakaran dapat mengganggu kesehatan pernapasan.
Karhutla juga berpotensi mengancam permukiman yang berada di sekitar kawasan perbukitan atau hutan serta menimbulkan kerugian ekonomi, termasuk bagi petani.
Cek Berita dan Artikel yang lain di Harian Jogja, dan edisi cetak versi elektronik kami hadir di Epaper Harian Jogja.

4 hours ago
5

















































