Memori Jadi Biang Kerok, iPhone 18 Pro Terancam Naik Rp5 Juta

5 hours ago 4

Jumali

Jumali Selasa, 11 Agustus 2026 13:07 WIB

Harianjogja.com, JOGJA—Kabar kurang menggembirakan datang dari jagat teknologi menjelang peluncuran iPhone 18 Pro. Firma riset TrendForce memprediksi biaya komponen (Bill of Materials/BOM) iPhone 18 Pro 256GB akan melonjak hingga 38% dibandingkan generasi sebelumnya. Kenaikan drastis ini diprediksi akan berdampak langsung pada harga jual produk ke konsumen, memicu spekulasi bahwa iPhone 18 Pro bisa menjadi seri termahal dalam sejarah Apple.

Namun, di balik ancaman kenaikan harga, ada cerita yang lebih kompleks. Apple, raksasa teknologi yang selama ini dikenal dengan margin laba tinggi, kini berada di persimpangan jalan: menaikkan harga dan berisiko kehilangan pembeli, atau menekan margin dan tetap menjaga volume penjualan. CEO Apple Tim Cook, dalam laporan keuangan terakhir, memberikan sinyal bahwa perusahaan tidak akan mempertahankan margin jika berisiko menekan permintaan pasar. Lalu, apa sebenarnya yang terjadi di balik lonjakan biaya ini?

Memori: Biang Kerok di Balik Lonjakan Biaya

Selama bertahun-tahun, panel layar dan prosesor (AP) selalu menjadi komponen termahal dalam produksi iPhone. Namun pada iPhone 18 Pro, posisi tersebut resmi digantikan oleh memori. TrendForce mengungkap bahwa kontribusi memori terhadap total biaya komponen iPhone 18 Pro melonjak dari hanya sekitar 10% pada tahun lalu menjadi 34% pada kuartal III 2026, dan diprediksi akan menembus 40% pada paruh pertama 2027.

Apa penyebabnya? Global supply chain tengah menghadapi krisis. Tiga raksasa memori dunia—Samsung, SK Hynix, dan Micron—terus mengalihkan kapasitas produksi terbaik mereka ke chip HBM (High Bandwidth Memory) yang digunakan untuk kecerdasan buatan (AI) dan server. Akibatnya, pasokan DRAM dan NAND flash untuk perangkat konsumen seperti ponsel dan PC menyusut drastis, memicu lonjakan harga. Menurut perhitungan industri, biaya chip DRAM 12GB di iPhone 18 Pro naik lebih dari 270%, sementara chip flash 256GB melonjak hampir 300%.

Strategi Apple: Mengorbankan Margin demi Menjaga Penjualan

Menghadapi lonjakan biaya sebesar 38%, banyak pihak berspekulasi bahwa Apple akan menaikkan harga iPhone 18 Pro hingga US$300 atau sekitar Rp4,8 juta (dengan asumsi kurs Rp16.000), dari harga awal iPhone 17 Pro yang sebesar US$1.099 menjadi sekitar US$1.399.

Namun, TrendForce menilai Apple kemungkinan besar akan mengadopsi strategi yang mirip dengan peluncuran lini MacBook baru-baru ini: mengorbankan sebagian margin laba kotor perusahaan agar kenaikan harga di tingkat ritel tidak terlalu drastis. Dengan kata lain, Apple siap "rela" menanggung sebagian dari kenaikan biaya demi menjaga agar harga iPhone 18 Pro tetap menarik bagi konsumen dan volume pengiriman tetap tinggi.

Langkah ini bukan tanpa alasan. iPhone adalah tulang punggung pendapatan Apple. Kehilangan pangsa pasar karena harga yang terlalu tinggi akan berdampak jauh lebih buruk bagi perusahaan dibandingkan sekadar menekan margin keuntungan per unit.

Strategi Mengejutkan: Harga Lama Bisa Ikut Naik

Selain menahan kenaikan harga produk baru, ada strategi lain yang tidak kalah menarik yang dipertimbangkan Apple menaikkan harga model-model lama. TrendForce menyebut Apple kemungkinan akan merevisi mekanisme harga untuk perangkat lawas, yang berarti iPhone 17 Pro dan model lainnya bisa ikut naik harga setelah iPhone 18 Pro dirilis.

Langkah "naik bareng" ini memang tidak umum dalam sejarah Apple, namun dianggap masuk akal mengingat tekanan biaya yang luar biasa dari lonjakan harga memori. Apple telah melakukan "uji coba" strategi ini lebih dulu pada Juni 2026, ketika mereka menaikkan harga 14 produk dari lini Mac dan iPad dengan kenaikan 16% hingga 25%. Kini, giliran iPhone yang menjadi "benteng terakhir" yang belum tersentuh penyesuaian harga.

Implikasi bagi Industri dan Konsumen

Yang menarik, tekanan ini tidak hanya dirasakan oleh Apple. TrendForce memperingatkan bahwa vendor Android akan menghadapi ujian yang lebih berat. Dengan margin laba yang umumnya lebih tipis dibandingkan Apple, produsen ponsel Android—terutama di segmen menengah dan bawah—akan kesulitan menyerap kenaikan biaya memori. Mereka terpaksa menaikkan harga secara signifikan atau bahkan menghentikan lini produk yang sudah merugi.

Akibatnya, TrendForce memperkirakan produksi ponsel global akan terus mengalami tekanan penurunan hingga paruh kedua 2027. Bagi konsumen, ini berarti ponsel pintar secara keseluruhan akan semakin mahal—bukan hanya iPhone, tetapi juga perangkat Android di semua segmen. Keputusan Apple dalam menentukan harga iPhone 18 Pro pada September mendatang akan menjadi penentu arah pasar ponsel global untuk tahun-tahun mendatang

Cek Berita dan Artikel yang lain di Harian Jogja, dan edisi cetak versi elektronik kami hadir di Epaper Harian Jogja.

Jumali

Jumali Jurnalis Harian Jogja, bagian dari Bisnis Indonesia Group menulis untuk media cetak dan online

Read Entire Article
Jogja News Jogja Politan Jogja Ball Jogja Otote Klik News Makassar news