Anak Balita Tiba-Tiba Menolak Makan, Ini Penyebabnya

2 hours ago 2

Harianjogja.com, JAKARTA—Perubahan perilaku makan pada anak balita yang mendadak menjadi pemilih sering membuat orang tua khawatir. Namun, kondisi ini ternyata umum terjadi dan merupakan bagian dari proses tumbuh kembang anak.

Seperti dikutip dari The Times of India, Rabu (24/3/2026), fase ini biasanya muncul pada usia sekitar 11 hingga 18 bulan, ketika laju pertumbuhan mulai melambat setelah tahun pertama. Pada periode yang sama, anak juga mulai belajar mengatakan “tidak”, berjalan, serta menguji batasan, termasuk terhadap makanan baru.

Perubahan Perkembangan Jadi Pemicu Utama

Ahli gizi anak Sanchita Daswani menjelaskan bahwa perilaku pilih-pilih makanan atau picky eating sering kali dipicu oleh kombinasi perubahan fisik dan perkembangan psikologis.

Selain pertumbuhan yang melambat, balita juga dapat mengalami food neophobia, yaitu rasa takut terhadap makanan baru yang muncul secara tiba-tiba.

Kondisi ini membuat anak yang sebelumnya mau makan berbagai jenis makanan menjadi lebih selektif, bahkan menolak atau memainkan makanan di depannya.

Pendekatan yang Disarankan untuk Orang Tua

Dalam menghadapi situasi ini, orang tua disarankan untuk tetap tenang dan tidak memaksakan anak makan. Salah satu pendekatan yang dianjurkan adalah prinsip “Pembagian Tanggung Jawab”.

Dalam konsep ini, orang tua bertugas menentukan apa, kapan, dan di mana makanan disajikan. Sementara itu, anak memiliki kendali untuk memutuskan apakah akan makan dan seberapa banyak yang dikonsumsi.

Pendekatan ini bertujuan menghindari tekanan saat makan. Memaksa atau menyuapi dengan distraksi seperti mainan justru dapat menimbulkan kecemasan pada anak terhadap makanan.

Cara Praktis Mengatasi Tanpa Drama

Beberapa strategi sederhana dapat diterapkan untuk membantu anak kembali nyaman saat makan. Salah satunya adalah memastikan anak benar-benar lapar dengan memberi jeda sekitar dua hingga dua setengah jam antar waktu makan.

Konsumsi susu juga perlu dibatasi, yakni sekitar 8 hingga 12 ons setelah usia 12 bulan, agar tidak mengganggu nafsu makan.

Lingkungan makan juga berperan penting. Suasana yang tenang, makan bersama keluarga, serta penggunaan peralatan makan yang menarik dapat meningkatkan minat anak.

Memberikan porsi kecil juga disarankan agar anak tidak merasa kewalahan. Jika anak menolak makanan, orang tua dapat mengajaknya mengenal makanan tersebut melalui aktivitas seperti menyentuh atau mencium saat bermain.

Selain itu, penting untuk menetapkan batasan. Jika anak hanya makan sedikit, orang tua tetap perlu menghargai keputusan tersebut. Makanan bisa ditawarkan kembali sekitar 30 menit kemudian, namun jika tetap ditolak, waktu makan dihentikan hingga jadwal berikutnya.

Kapan Perlu Waspada

Secara umum, perilaku ini masih tergolong normal selama anak tetap aktif, buang air kecil dan besar dengan lancar, serta tumbuh sesuai tahap perkembangan.

Namun, orang tua perlu berkonsultasi dengan tenaga medis jika anak mulai menolak seluruh kelompok makanan tertentu, seperti tidak mau makan buah sama sekali.

Tanda lain yang perlu diwaspadai adalah penurunan berat badan yang signifikan atau kondisi kelelahan berkepanjangan.

Dengan pendekatan yang tepat dan konsisten, fase pilih-pilih makanan ini dapat dilalui tanpa tekanan, baik bagi anak maupun orang tua.

Cek Berita dan Artikel yang lain di Harian Jogja, dan edisi cetak versi elektronik kami hadir di Epaper Harian Jogja.

Sumber : The Times of India

Read Entire Article
Jogja News Jogja Politan Jogja Ball Jogja Otote Klik News Makassar news