Jumali Senin, 17 Agustus 2026 11:57 WIB

FIFA President Gianni Infantino. (AFP/SIMON MAINA/SIMON MAINA)
Harianjogja.com, JOGJA—Dunia sepak bola wanita kembali berada di persimpangan jalan. Ancaman boikot terhadap Piala Dunia U-20 Wanita 2026 yang akan digelar di Polandia pada 5 September mendatang tidak hanya menjadi sekadar isu politik olahraga. Ia menjadi simbol dari kekecewaan yang telah memuncak terhadap kepemimpinan FIFA di bawah Presiden Gianni Infantino.
Kontroversi ini berakar dari rencana kontroversial FIFA untuk menjual sebagian saham turnamen-turnamen utamanya kepada investor swasta. Meskipun rencana tersebut akhirnya dibatalkan setelah mendapat tekanan besar dari berbagai konfederasi dan asosiasi nasional, luka dan kecurigaan terhadap tata kelola badan sepak bola dunia masih menyisakan pertanyaan besar: akankah ada perubahan nyata?
Dilema Sebuah Boikot: Antara Pesan dan Pengorbanan
The Guardian mengungkapkan, ancaman pemboikotan menempatkan semua pihak dalam dilema yang sulit. Di satu sisi, langkah ini dapat merugikan para pemain muda yang seharusnya mendapatkan pengalaman berharga di ajang internasional. Namun, di sisi lain, sikap tegas ini dinilai sebagai satu-satunya cara untuk mengirimkan pesan kuat bahwa para pemain, pelatih, dan federasi tidak lagi ingin menjadi "korban" dari keputusan sepihak badan pengatur.
Sikap ini juga mendapat sorotan dari kalangan politik. Menteri Kebudayaan Inggris, Lisa Nandy, secara terbuka menyatakan bahwa Presiden FIFA Gianni Infantino "harus mundur". Namun, menariknya, Nandy tidak mendukung penuh aksi boikot karena ia menilai tindakan tersebut justru akan menghukum para atlet yang sama sekali tidak bertanggung jawab atas persoalan ini.
Pandangan ini memperkuat narasi bahwa sepak bola wanita kerap menjadi "tumbal" dalam konflik yang lebih besar. Seperti yang ditulis oleh jurnalis The Guardian, Suzanne Wrack, "Sepak bola wanita terus digunakan sebagai pion dalam masa kepemimpinan Gianni Infantino di FIFA".
Akar Masalah: Dominasi Laki-laki dan Kesenjangan Hadiah
Krisis ini membuka tabir lebih luas tentang masalah mendasar dalam struktur FIFA: representasi gender yang timpang. Data yang dihimpun menunjukkan bahwa dari 18 anggota Komite Disiplin FIFA, hanya dua yang perempuan, yaitu Paola Lopez (Meksiko) dan Thi My Dung Nguyen (Vietnam). Lebih parah lagi, seluruh delapan anggota komite Masa Depan Sepak Bola FIFA semuanya laki-laki.
Dari 37 anggota Dewan FIFA, hanya delapan yang perempuan, sementara tujuh dari delapan wakil presiden juga didominasi laki-laki. Ketimpangan ini bukan sekadar angka, tetapi cerminan dari minimnya suara perempuan dalam menentukan arah kebijakan sepak bola dunia.
Masalah ini semakin nyata ketika melihat perbedaan hadiah yang mencolok. Piala Dunia Wanita 2023 memiliki total hadiah 110 juta dolar AS (sekitar Rp1,96 triliun). Bandingkan dengan Piala Dunia Pria 2026 yang hadiahnya mencapai 871 juta dolar AS (sekitar Rp15,53 triliun). Kesenjangan ini menjadi simbol ketidakadilan yang selama ini mengakar.
Reformasi yang Tertunda
Kekhawatiran serupa juga disuarakan oleh para pemain. Bek Timnas Inggris, Lucy Bronze, mendukung keputusan UEFA untuk memboikot jika rencana investasi swasta terus berlanjut, dengan alasan bahwa langkah tersebut adalah hal yang benar demi masa depan sepak bola. Ia menyadari bahwa sepak bola wanita akan menjadi pihak yang paling terdampak pertama kali.
Ancaman boikot yang membayangi Piala Dunia U-20 Wanita dan U-17 Wanita menjadi momen krusial. Ini adalah ujian bagi kredibilitas FIFA. Apakah mereka akan terus mengabaikan tuntutan reformasi, ataukah akhirnya membuka pintu bagi tata kelola yang lebih adil dan setara?
Seperti yang diungkapkan dalam analisis The Guardian, meskipun terasa tidak adil jika gejolak politik ini merugikan para pemain muda berbakat, namun itulah mengapa kesiapan negara-negara peserta untuk memboikot turnamen ini dapat mengirimkan pesan yang begitu kuat. Masa depan tata kelola olahraga ini adalah perdebatan yang layak diperjuangkan oleh para pemain, pelatih, dan penggemar sepak bola wanita.
Cek Berita dan Artikel yang lain di Harian Jogja, dan edisi cetak versi elektronik kami hadir di Epaper Harian Jogja.
Jumali Jurnalis Harian Jogja, bagian dari Bisnis Indonesia Group menulis untuk media cetak dan online

6 hours ago
7
















































