
Petugas BPBD Gunungkidul menyalurkan bantuan air bersih kepada warga di Padukuhan Gebang di Kalurahan Girisuko, Kapanewon Panggang, Kamis (20/8/2026)./Istimewa-BPBD Gunungkidul
Harianjogja.com, GUNUNGKIDUL—Anggaran untuk penyaluran bantuan air bersih atau dropping bagi warga terdampak krisis air di Gunungkidul semakin menipis. Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Gunungkidul berencana meminta tambahan anggaran kepada Pemkab Gunungkidul agar dropping air dapat terus dilakukan setelah pagu yang tersedia diperkirakan habis pada pertengahan September mendatang.
Kepala Pelaksana BPBD Gunungkidul, Purwono, mengatakan penyaluran air bersih masih terus dilakukan ke sejumlah wilayah yang membutuhkan. Hingga sekarang, BPBD telah menyalurkan bantuan sebanyak 484 tangki ke sejumlah kapanewon di Bumi Handayani.
“Ini baru bantuan yang disalurkan oleh BPBD. Kalau ditotal bantuan air bersih diberikan mencapai 2,67 juta liter,” kata Purwono saat dihubungi, Jumat (21/8/2026).
10 Kapanewon Sudah Mendapat Bantuan
Penyaluran bantuan air bersih BPBD Gunungkidul telah menjangkau 10 kapanewon. Wilayah tersebut meliputi Wonosari, Semin, Girisubo, Rongkop, Tepus, Panggang, Saptosari, Ngawen, Ponjong, dan Purwosari.
Purwono mengatakan bantuan akan terus diberikan kepada masyarakat yang mengalami krisis air. Namun, ketersediaan anggaran menjadi perhatian karena pagu yang dimiliki BPBD diprediksi hanya mampu menopang penyaluran hingga September.
“Makin menipis karena perkiraan kami akan habis September nanti. Total, kuota bantuan yang dimiliki BPBD ada sekitar 800an tangki, sekarang sudah tersalurkan sebanyak 452 tangki,” katanya.
BPBD Siapkan Tambahan dari BTT
Meski anggaran dropping air semakin menipis, Purwono mengaku tidak khawatir. Selain penyaluran secara mandiri oleh kapanewon masih berlangsung, BPBD juga berencana meminta tambahan anggaran melalui pagu Belanja Tak Terduga (BTT) milik Pemkab Gunungkidul.
Status siaga darurat bencana hidrometerologi kekeringan yang telah ditetapkan menjadi dasar BPBD untuk mengakses BTT.
“Kami sudah menetapkan status siaga darurat bencana hidrometerologi kekeringan sehingga bisa mengakses BTT. Mudah-mudahan sebelum anggaran dropping habis sudah ada tambahan dari pemkab agar penyaluran air bersih tetap berjalan dengan baik,” katanya.
Setiap Hari Rata-Rata 16 Tangki Disalurkan
Sub Koordinator Logistik dan Peralatan, Bidang Kedaruratan dan Logistik, BPBD Gunungkidul, Arief Prasetyo, mengatakan distribusi air bersih kepada masyarakat masih berjalan.
BPBD Gunungkidul memiliki total lima armada untuk mendukung penyaluran. Namun, setiap hari hanya empat truk yang dioperasikan, sedangkan satu unit disiapkan sebagai cadangan.
“Rata-rata ada 16 tangki air bersih yang disalurkan ke masyarakat,” kata Arief.
Dengan pola operasional tersebut, penyaluran bantuan air bersih tetap dilakukan secara rutin ke wilayah yang membutuhkan di Gunungkidul.
Pemkab Siapkan BTT Rp8,6 Miliar
Kepala Badan Keuangan dan Aset Daerah (BKAD) Gunungkidul, Putro Sapto Wahyono, mengatakan Pemkab Gunungkidul telah mengalokasikan anggaran BTT sebesar Rp8,6 miliar pada tahun ini.
BTT disiapkan sebagai dana cadangan untuk pembiayaan yang bersifat darurat atau mendesak, tidak dapat diprediksi sebelumnya, tidak bisa direncanakan, dan berada di luar kendali Pemkab Gunungkidul.
“Nantinya anggaran bisa digunakan untuk menambah pelaksanaan penyaluran bantuan air bersih di Gunungkidul,” katanya.
Dengan opsi tersebut, tambahan anggaran dari BTT diharapkan dapat mendukung keberlanjutan dropping air apabila pagu BPBD Gunungkidul yang tersedia saat ini habis.
Cek Berita dan Artikel yang lain di Harian Jogja, dan edisi cetak versi elektronik kami hadir di Epaper Harian Jogja.
Yudhi Kusdiyanto Jurnalis Harian Jogja, bagian dari Bisnis Indonesia Group menulis untuk media cetak dan online

6 hours ago
8

















































