Jumali Rabu, 16 September 2026 08:37 WIB

Pebalap Motogp Pecco Bagnaian. /Instagram-pecco63.
Harianjogja.com, JOGJA—Francesco Bagnaia mengakui dirinya harus menurunkan ekspektasi setelah rentetan hasil buruk di MotoGP 2026. Pembalap Ducati Lenovo Team itu bahkan menyebut levelnya saat ini berada di sekitar posisi kesembilan atau kesepuluh, jauh dari standar yang pernah membawanya menjadi juara dunia.
Pengakuan tersebut muncul setelah Bagnaia kembali gagal meraih poin pada MotoGP San Marino 2026 di Misano. Pembalap asal Italia itu terjatuh pada Lap 6 di Tikungan 2 sehingga mengakhiri balapan kandangnya tanpa hasil.
Hasil tersebut memperpanjang periode sulit Bagnaia. Berdasarkan statistik resmi MotoGP setelah seri San Marino, ia berada di posisi kesembilan klasemen dengan 143 poin, tanpa kemenangan dan dengan empat podium sepanjang 14 seri yang telah dijalani.
Situasi Bagnaia semakin kontras jika dibandingkan dengan rekan setimnya, Marc Marquez. Juara dunia bertahan tersebut memenangi MotoGP San Marino dan kini mengoleksi lima kemenangan Grand Prix pada musim 2026. Kemenangan di Misano juga mengantarkan Marc ke puncak klasemen dengan 274 poin.
Bagnaia Kehilangan Kekuatan Saat Mengerem dan Menikung
Bagnaia mengaku persoalan yang dihadapinya bukan sekadar hasil balapan. Ia merasa kehilangan kemampuan untuk melakukan dua hal yang sebelumnya menjadi bagian penting dari gaya balapnya, yakni pengereman saat memasuki tikungan dan menjaga kecepatan ketika menikung.
"Ini adalah nihil poin ketiga saya secara beruntun. Kami bekerja sangat keras dan tim saya melakukan segalanya agar saya nyaman, tapi sayangnya saya tidak bisa mengatasinya dan saya tidak mengerti kenapa," kata Bagnaia dikutip dari Motosan.
Ia kemudian menyebut harus menerima kondisi tersebut sebelum kembali membangun performanya dari titik sekarang.
"Ada hal-hal yang sudah tidak bisa lagi saya lakukan, terutama pengereman saat masuk tikungan dan menikung. Saya harus menerima kenyataan, mulai dari premis bahwa level saya saat ini ada di posisi sembilan atau sepuluh, dan mulai lagi dari sana. Ada sesuatu yang hilang," tambah dia.
Kondisi tersebut terlihat dalam hasil balapan terakhir. Bagnaia memulai MotoGP San Marino dari posisi ke-14 setelah gagal lolos dari Q1, kemudian hanya finis ke-13 pada Sprint. Pada balapan utama, ia kembali gagal mencapai garis finis setelah kehilangan kendali di Tikungan 2.
MotoGP San Marino menjadi akhir pekan yang sangat berat bagi Bagnaia. MotoGP mencatat ia meninggalkan Misano tanpa poin, sementara kecelakaan tersebut menjadi bagian dari rangkaian hasil buruk yang membuatnya tertinggal jauh dari perebutan posisi teratas.
Bagnaia Soroti Pembinaan Pembalap Italia
Di tengah persoalan performa, Bagnaia juga membicarakan faktor yang menurutnya memengaruhi perkembangan pembalap muda Italia. Ia membandingkan sistem pembinaan di negaranya dengan Spanyol, terutama dari sisi akses terhadap fasilitas latihan, biaya, dan infrastruktur.
"VR46 Academy sudah berupaya keras dan ada pembalap-pembalap kuat yang berkembang, tapi ada perbedaan besar dalam komitmen dan sumber daya di kategori bawah. Di Spanyol, kamu bisa berlatih dengan motor 600cc atau 1000cc hampir tanpa batasan sejak usia muda; balapan di sana biayanya sangat murah," jelasnya.
Menurut Bagnaia, persoalan akses membuat sejumlah pembalap Italia memilih berlatih di Spanyol. Ia menilai kejuaraan di Spanyol dapat menjadi jalur persiapan karena menggunakan motor yang menurutnya lebih dekat dengan karakter motor dalam Kejuaraan Dunia.
"Di Italia, masuk ke sirkuit besar hampir mustahil karena tidak terjangkau semua orang dan kami kekurangan infrastruktur. Itulah kenapa banyak pembalap Italia pergi berlatih di Spanyol, karena kejuaraannya memakai motor yang identik dengan Kejuaraan Dunia dan jadi batu loncatan sempurna," tambah Bagnaia.
Pernyataan itu muncul ketika Bagnaia sendiri sedang berada dalam periode yang sulit. Sebelum MotoGP San Marino, ia telah mengalami sejumlah kegagalan finis dan masalah teknis sepanjang musim 2026. Motorsport.com sebelumnya mencatat Bagnaia sudah mengalami empat retirement dalam 10 akhir pekan pertama musim ini hingga Juli, termasuk masalah pengereman di Assen.
Austria Jadi Kesempatan Bagnaia Bangkit
Setelah meninggalkan Misano tanpa poin, perhatian Bagnaia kini beralih ke MotoGP Austria. Seri tersebut akan berlangsung pada 18-20 September 2026 dan menjadi kesempatan berikutnya bagi pembalap Ducati itu untuk mencari kembali kepercayaan dirinya di atas Desmosedici GP26.
Bagnaia memiliki alasan untuk berharap. Menurutnya, karakter Sirkuit Red Bull Ring sesuai dengan Ducati dan gaya balapnya. Namun, ia tidak ingin menetapkan target terlalu tinggi sebelum mengetahui bagaimana perasaannya ketika kembali mengendarai motor tersebut.
"Ini sirkuit yang bagus untuk Ducati dan salah satu yang terbaik untuk saya. Ketika saya merasa nyaman di atas motor, saya berhasil memenangkan balapan dengan selisih signifikan, tapi sekarang semuanya akan tergantung bagaimana perasaan saya saat kami tiba di sana," pungkas Bagnaia.
Dengan sembilan seri tersisa setelah San Marino, Bagnaia masih memiliki kesempatan memperbaiki catatan musim 2026. Namun, pernyataannya setelah Misano menunjukkan bahwa pekerjaan terdekatnya bukan hanya mengejar hasil, melainkan menemukan kembali rasa percaya diri saat mengerem dan menikung yang selama ini menjadi bagian penting dari performanya.
Cek Berita dan Artikel yang lain di Harian Jogja, dan edisi cetak versi elektronik kami hadir di Epaper Harian Jogja.
Jumali Jurnalis Harian Jogja, bagian dari Bisnis Indonesia Group menulis untuk media cetak dan online

3 hours ago
1

















































