Samsung Danai Euclyd US$231 Juta, Startup Belanda Siapkan Penantang Chip AI Nvidia

1 hour ago 1

Harianjogja.com, JOGJA—Samsung ikut mendorong upaya mencari alternatif chip AI Nvidia dengan memimpin bersama sejumlah investor dalam pendanaan Seri A lebih dari €200 juta atau sekitar US$231 juta untuk Euclyd. Startup asal Belanda tersebut mengembangkan sistem chip yang dirancang khusus untuk menjalankan atau melakukan inferensi kecerdasan buatan (AI) dengan fokus pada efisiensi energi dan biaya.

Pendanaan tersebut menjadi perhatian karena Euclyd mengambil pendekatan berbeda dari GPU yang selama ini mendominasi komputasi AI. Perusahaan yang berbasis di Eindhoven itu tidak sekadar mengembangkan chip baru, tetapi membangun rancangan yang menggabungkan komputasi, memori, dan sistem pusat data untuk mengatasi kebutuhan daya serta biaya inferensi AI yang terus meningkat.

Samsung tidak menjadi satu-satunya pemimpin dalam putaran tersebut. Seri A Euclyd turut dipimpin Somerset Capital Partners, Scaleup Europe Fund yang dikelola EQT, dan Innovation Industries. Sejumlah investor lain juga ikut serta, termasuk EIFO, imec.xpand, Brabant Development Agency (BOM), dan Quadri.

Dengan nilai lebih dari €200 juta, pendanaan ini akan digunakan Euclyd untuk mempercepat pengembangan silikon dan sistem, memperluas tim teknik, serta membangun ekosistem yang dibutuhkan sebelum teknologi tersebut digunakan secara komersial.

Mengapa Euclyd Membidik Inferensi AI?

Euclyd tidak berfokus pada semua jenis beban kerja AI. Perusahaan tersebut secara khusus membidik tahap inferensi, yakni ketika model AI yang sudah dilatih digunakan untuk memberikan respons atas permintaan pengguna.

Tahap inilah yang semakin penting seiring bertambahnya penggunaan AI generatif. Setiap pertanyaan kepada chatbot, permintaan pembuatan konten, pemrosesan data, maupun tugas AI lainnya membutuhkan infrastruktur komputasi agar model dapat menghasilkan jawaban.

Menurut Euclyd, perkembangan model AI yang semakin besar membuat kebutuhan terhadap daya listrik, bandwidth memori, modal, dan infrastruktur pusat data ikut meningkat. Karena itu, perusahaan tersebut mencoba mengubah rancangan perangkat keras agar proses inferensi dapat dilakukan dengan lebih efisien.

Pendekatan Euclyd berbeda dari GPU serbaguna yang selama ini menjadi bagian penting dalam ekosistem komputasi AI. Startup tersebut mengembangkan apa yang disebut sebagai processor-memory co-design, yakni prosesor dan memori dirancang secara terintegrasi untuk kebutuhan komputasi tertentu.

Tujuannya adalah mengurangi perpindahan data antara prosesor dan memori. Dalam sistem AI, perpindahan data dapat menjadi salah satu sumber penggunaan energi dan keterlambatan, sehingga rancangan yang lebih terintegrasi diharapkan mampu meningkatkan efisiensi.

Euclyd menyebut platformnya mencakup programmable ASIC compute, arsitektur memori, serta optimasi pada tingkat sistem pusat data. Perusahaan itu menempatkan teknologi tersebut sebagai fondasi untuk sistem inferensi AI yang lebih hemat energi dan biaya.

Samsung Bawa Lebih dari Sekadar Modal

Keterlibatan Samsung menjadi penting bagi Euclyd karena perusahaan Korea Selatan itu memiliki pengalaman luas dalam industri semikonduktor, khususnya pada teknologi memori dan manufaktur.

CEO Euclyd Bernardo Kastrup mengatakan dukungan Samsung tidak hanya berupa pendanaan. Menurut dia, Samsung dapat membantu melalui keahlian teknik, pemahaman sistem, pengetahuan mengenai rantai pasok, serta jaringan industrinya.

"Samsung dapat membantu kami lebih dari sekadar uang. Mereka adalah salah satu produsen memori terbesar di dunia. Mereka memahami sistem secara menyeluruh, mereka memahami rantai pasok, dan mereka memiliki jaringan yang sangat luas," kata Kastrup dikutip dari CNBC. 

Samsung sendiri menilai efisiensi dan skalabilitas infrastruktur akan menjadi faktor penting dalam perkembangan AI berikutnya. Dede Goldschmidt, Senior Vice President Samsung Electronics sekaligus Head of Samsung Semiconductor Innovation Center, mengatakan fase berikutnya dari perkembangan AI tidak hanya ditentukan oleh inovasi model, tetapi juga efisiensi infrastrukturnya.

Bagi Euclyd, dukungan tersebut memberikan akses terhadap salah satu pemain besar dalam ekosistem semikonduktor global ketika perusahaan masih berada dalam tahap pengembangan teknologi.

Bukan Hanya Euclyd yang Menantang Nvidia

Perubahan lanskap chip AI sebenarnya tidak hanya datang dari Euclyd. Sejumlah perusahaan teknologi besar juga mulai mengembangkan akselerator atau prosesor AI sendiri untuk mengurangi ketergantungan terhadap chip komersial.

OpenAI, misalnya, pada Juni 2026 memperkenalkan Jalapeño bersama Broadcom. Chip tersebut merupakan prosesor inferensi pertama OpenAI yang dirancang dari awal untuk kebutuhan large language model (LLM), bukan akselerator serbaguna yang kemudian disesuaikan untuk AI.

OpenAI mengatakan pengujian awal Jalapeño menunjukkan kinerja per watt yang lebih baik dibandingkan teknologi terdepan saat ini. Chip tersebut direncanakan menjadi bagian dari platform komputasi multigenerasi dan akan diterapkan bersama mitra pusat data.

Google juga memiliki Tensor Processing Unit (TPU), yakni akselerator yang dikembangkan khusus untuk beban kerja AI. Amazon Web Services dan Meta juga telah mengembangkan silikon khusus untuk kebutuhan komputasi di pusat data mereka.

Perkembangan tersebut menunjukkan bahwa persaingan chip AI tidak hanya berlangsung di antara produsen semikonduktor. Perusahaan yang mengoperasikan layanan AI dalam skala besar pun memiliki kepentingan untuk mengembangkan perangkat keras yang sesuai dengan kebutuhan mereka.

Euclyd Belum Membuktikan Klaimnya di Skala Besar

Meski mendapatkan suntikan dana besar dan dukungan Samsung, Euclyd masih menghadapi tahap pembuktian yang panjang. Sistem chip yang dikembangkannya belum terbukti beroperasi secara luas dalam lingkungan komersial berskala besar.

Perusahaan menargetkan sistem chip fisiknya mulai diluncurkan pada 2028. Euclyd kemudian menargetkan dapat melayani ribuan pelanggan perusahaan pada 2030.

Artinya, teknologi tersebut belum dapat disebut sebagai pengganti Nvidia yang sudah terbukti digunakan dalam skala industri. Keunggulan efisiensi yang ditawarkan Euclyd masih harus dibuktikan melalui produk nyata, pengujian, keandalan, ekosistem perangkat lunak, dan kemampuan beroperasi di pusat data.

Euclyd sendiri menyebut visi jangka panjangnya sebagai "Abundant Intelligence", yakni kondisi ketika penggunaan AI tingkat lanjut tidak lagi terlalu dibatasi oleh biaya infrastruktur, ketersediaan listrik, maupun lokasi. Platform yang dikembangkan mencakup craftwerk sebagai silikon AI dan craftwerk station CWS sebagai sistem pusat data yang dirancang untuk kebutuhan AI.

Dengan demikian, pendanaan Samsung dan investor lainnya menjadi modal untuk memasuki tahap pengembangan berikutnya, bukan bukti bahwa Euclyd sudah berhasil mengalahkan Nvidia. Persaingan sebenarnya baru akan terlihat ketika chip tersebut mulai digunakan secara komersial dan mampu menunjukkan efisiensi yang dijanjikan dalam kondisi operasional nyata.

Cek Berita dan Artikel yang lain di Harian Jogja, dan edisi cetak versi elektronik kami hadir di Epaper Harian Jogja.

Read Entire Article
Jogja News Jogja Politan Jogja Ball Jogja Otote Klik News Makassar news