Aktivitas Bank Sampah Suryo Resik di Suryodiningratan, Kemantren Mantrijeron, Jogja, beberapa waktu lalu. - Istimewa - Dok. Bank Sampah Suryo Resik
Harianjogja.com, JOGJA— Aktivitas pengelolaan sampah di Suryodiningratan, Mantrijeron, Jogja, terus berjalan stabil hingga kini, dengan ratusan warga aktif menabung sampah dan memanfaatkannya untuk kebutuhan sehari-hari. Bank Sampah Suryo Resik menjadi salah satu titik yang menjaga ritme tersebut tanpa jeda selama lebih dari satu dekade.
Dalam kondisi terbaru, jumlah nasabah di bank sampah yang berada di Suryodiningratan, Mantrijeron ini telah mencapai 726 orang. Awalnya hanya melayani warga di RW 13 dengan sekitar 200 nasabah, kini jangkauannya meluas berkat kerja sama dengan STIKES.
Ketua Bank Sampah Suryo Resik, Munjiyah, mengatakan aktivitas penimbangan tetap rutin dilakukan setiap bulan. Pola ini mengalami penyesuaian sejak pandemi Covid-19, dari sebelumnya dua kali sebulan menjadi satu kali, namun tidak pernah berhenti.
“Dari awal berdiri sampai sekarang itu tidak pernah berhenti. Dulu sebelum Covid penimbangan sebulan dua kali, sekarang sebulan sekali, tapi tetap rutin,” ujar Munjiyah, Jumat (3/4/2026).
Konsistensi tersebut juga diakui melalui penghargaan sebagai Penggerak Bank Sampah Berkelanjutan yang diberikan oleh Wali Kota Jogja Hasto Wardoyo dan Wakil Wali Kota Wawan Harmawan beberapa hari lalu. Sejak berdiri pada September 2013, bank sampah ini telah mengoleksi lebih dari 20 penghargaan dari berbagai ajang.
Di lapangan, pengelolaan sampah dilakukan dengan pemisahan antara sampah anorganik dan organik. Sampah anorganik dikumpulkan untuk dijual, sedangkan sampah organik diolah menjadi kompos menggunakan metode biopori, ember tumpuk, hingga pemanfaatan botol bekas.
“Kalau sampah anorganik masuk ke bank sampah, yang organik kita olah jadi kompos. Warga juga sudah banyak yang punya biopori atau membuat eco enzyme,” jelasnya.
Partisipasi warga menjadi faktor penting yang menjaga keberlanjutan program ini. Setiap bulan, laporan keuangan disampaikan secara terbuka sehingga meningkatkan kepercayaan masyarakat untuk terus menyetor sampah.
“Setiap bulan ada laporan, semua transparan. Jadi warga senang dan antusias setor sampah,” katanya.
Selain berdampak pada lingkungan, sistem ini juga memberikan nilai ekonomi bagi warga. Tabungan sampah dapat dicairkan kapan saja, bahkan digunakan untuk kebutuhan seperti membeli pulsa, membayar listrik, hingga pajak.
“Kalau butuh uang bisa pinjam, bisa juga untuk beli token, bayar PBB, atau pulsa langsung lewat bank sampah,” ujar Munjiyah.
Aktivitas yang konsisten ini juga menarik perhatian daerah lain. Pada Desember 2025, Bank Sampah Suryo Resik di Suryodiningratan, Mantrijeron menerima kunjungan studi tiru dari lima kecamatan di Kabupaten Sragen dan Demak, dengan jumlah peserta mencapai puluhan hingga ratusan orang.
“Kemarin dari Sragen empat kecamatan, dari Demak satu kecamatan. Yang datang minimal 60 orang, bahkan ada yang sampai 100 orang. Kami sampai seperti orang punya hajatan,” ucapnya.
Keberadaan bank sampah ini menunjukkan bahwa pengelolaan lingkungan berbasis warga dapat berjalan beriringan dengan penguatan ekonomi masyarakat, sekaligus menjadi rujukan bagi wilayah lain yang ingin mengembangkan sistem serupa.
Cek Berita dan Artikel yang lain di Harian Jogja, dan edisi cetak versi elektronik kami hadir di Epaper Harian Jogja.

6 hours ago
5

















































