BI Sumbar Dorong UMKM Naik Kelas, Bidik Pasar Jepang, Prancis dan Amerika

14 hours ago 9

promo hayati padang agustus

PADANG, KLIKPOSITIF – Bank Indonesia (BI) Perwakilan Sumatera Barat terus mendorong pelaku usaha mikro, kecil, dan menengah (UMKM) agar tumbuh tangguh, berkelanjutan, serta mampu menembus pasar internasional.

Hal tersebut disampaikan Kepala Perwakilan BI Sumatera Barat, M. Abdul Majid Ikram, dalam rangkaian Sumbar Creative Economy Festival (SCF) 2026. Menurutnya, SCF menjadi salah satu momentum penting dalam pengembangan UMKM Sumatera Barat, baik pada sektor riil, ekonomi syariah, maupun usaha berbasis ekonomi sirkular dan pemanfaatan limbah.

“SCF ini merupakan kegiatan puncak dalam pengembangan sektor UMKM, baik syariah maupun sektor riil. Kita juga mendorong usaha yang berkesinambungan, termasuk yang memanfaatkan hasil limbah,” ujar Majid.

Ia mengatakan, berbagai produk UMKM Sumatera Barat yang ditampilkan dalam SCF juga menjadi bagian dari upaya memperkenalkan potensi usaha daerah kepada pasar yang lebih luas.

Produk-produk tersebut bahkan mendapat kesempatan untuk dipamerkan dalam kegiatan Karya Kreatif Indonesia (KKI) bersama jaringan perwakilan BI dari berbagai daerah.

BI Sumbar, kata Majid, juga terus mendorong UMKM untuk meningkatkan kapasitas usaha sekaligus memperluas akses pembiayaan melalui dukungan sektor perbankan, di antaranya Bank Nagari dan BRI.

Langkah tersebut dinilai penting agar pelaku UMKM tidak hanya mampu menghasilkan produk berkualitas, tetapi juga memiliki kapasitas produksi yang memadai ketika mendapatkan permintaan dalam jumlah besar.

Bidik Pasar Jepang, Prancis dan Amerika

Upaya memperluas pasar juga mulai diarahkan ke mancanegara. Majid mengungkapkan, terdapat peluang ekspor yang tengah dijajaki ke sejumlah negara, termasuk Jepang dan Amerika Serikat.

Menurutnya, pasar luar negeri memiliki potensi besar bagi produk-produk UMKM Sumatera Barat. Karena itu, BI terus mendorong agar peluang yang ada tidak berhenti pada penjajakan, tetapi dapat berujung pada kontrak ekspor yang berkelanjutan.

“Produk kita cukup diminati. Kualitas tidak perlu diragukan lagi, sudah paling top. Yang perlu kita jaga adalah bagaimana kontrak ekspor itu benar-benar terjadi dan kontinuitasnya bisa dipertahankan,” katanya.

Majid menjelaskan, tantangan berikutnya adalah memastikan UMKM mampu memenuhi permintaan apabila memperoleh kontrak dalam skala besar. Mulai dari ketersediaan produk, kapasitas produksi hingga kesesuaian kualitas dengan standar yang dipersyaratkan pasar internasional harus menjadi perhatian.

“Kalau kontraknya besar, kita harus cek produknya ada atau tidak, kemudian kualitasnya sesuai standar dari permintaan buyer atau tidak. Ini menjadi tantangan bagi BI juga,” ujarnya.

Untuk membuka peluang pasar tersebut, BI Sumbar juga memanfaatkan lima jaringan kantor perwakilan BI di luar negeri. Selain itu, BI bekerja sama dengan Kementerian Perdagangan untuk memetakan kebutuhan pasar dan menyesuaikannya dengan potensi produk UMKM Sumatera Barat.

“Untuk Amerika menarik dari sisi kuliner, Jepang juga menarik dari sisi kuliner dan produk lainnya. Kita petakan apa yang menjadi kebutuhan mereka,” tutur Majid.

Potensi Produk Kuliner Sumbar untuk Pasar Haji dan Umrah

Selain pasar Jepang dan Amerika, BI Sumbar juga melihat peluang pengembangan pasar produk kuliner Sumatera Barat melalui ekosistem haji dan umrah di Arab Saudi.

Majid mengatakan, BI memiliki pemikiran yang sejalan dengan Pemerintah Provinsi Sumatera Barat terkait peluang pemanfaatan kawasan yang berkaitan dengan pelayanan jamaah haji dan umrah di Arab Saudi.

Menurutnya, peluang tersebut tidak semestinya hanya dimanfaatkan untuk memasarkan rendang. Berbagai produk makanan khas Sumatera Barat yang telah memiliki kemampuan pengemasan juga berpotensi diperkenalkan kepada jamaah haji dan umrah dari berbagai daerah di Indonesia.

“Harapannya tidak hanya Rendang, tetapi berbagai jenis makanan dari Sumatera Barat. Produk makanan kita sudah bisa dikemas dengan baik. Tantangannya adalah bagaimana makanan dari Sumbar bisa dinikmati bukan hanya oleh jamaah asal Sumbar, tetapi juga jamaah dari seluruh Indonesia,” jelasnya.

Hadirkan Brand Nasional

Dalam pelaksanaan SCF, BI Sumbar tidak hanya menghadirkan UMKM lokal. Sejumlah brand nasional yang telah berhasil memasuki pasar luar negeri juga turut dilibatkan.

Kehadiran brand tersebut diharapkan menjadi sarana pembelajaran bagi pelaku UMKM Sumatera Barat. Mereka dapat mempelajari strategi, sistem bisnis, pengelolaan produksi, pemasaran hingga cara membangun jaringan pasar internasional.

“Targetnya bukan hanya penjualan. Kita ingin memamerkan produk sekaligus membangun bisnis. Nantinya ada buyer yang mungkin tertarik dan bisa mengontrak untuk ekspor,” kata Majid.

Ia menambahkan, BI juga terus mencari importir dan membuka peluang pasar melalui jaringan perwakilan BI di luar negeri.

Dengan berbagai langkah tersebut, BI Sumbar berharap UMKM daerah tidak hanya mampu bertahan di pasar domestik, tetapi juga naik kelas dan memiliki daya saing di pasar global.

Menurut Majid, tantangan terbesar ke depan bukan lagi sekadar menghasilkan produk berkualitas, melainkan memastikan kapasitas produksi, kesinambungan pasokan, standar mutu, serta keberlanjutan kontrak ekspor dapat dipenuhi secara konsisten.

Upaya tersebut menjadi bagian dari strategi BI Sumbar dalam memperkuat UMKM agar semakin tangguh, berdaya saing, dan mampu memberikan kontribusi lebih besar terhadap pertumbuhan ekonomi daerah.

Read Entire Article
Jogja News Jogja Politan Jogja Ball Jogja Otote Klik News Makassar news