Diskusi dan Kegiatan CSR PT SUS (KabarMakassar).KabarMakassar.com — Kekhawatiran warga terkait potensi bau dan asap dari proyek pengolahan sampah menjadi salah satu isu yang mengemuka dalam forum diskusi yang digelar PT Sarana Utama Synergy (SUS) bersamaan dengan kegiatan Corporate Social Responsibility (CSR) Iduladha 1447 Hijriah di kawasan proyek Jalan Ir. Sutami, Makassar, Jumat (29/05).
Diketahui, PT SUS merupakan investor dan pelaksana proyek strategis Pengolahan Sampah menjadi Energi Listrik (PSEL) di Kota Makassar.
PSEL kota Makassar rencananya akan dibangun di Tamalanrea, hal ini telah disetujui oleh Menteri Keuangan RI Purbaya beberapa waktu lalu.
Dalam forum tersebut, warga sekitar menyampaikan kekhawatiran mengenai dampak lingkungan yang mungkin timbul dari aktivitas pengolahan sampah, khususnya bau limbah dan asap hasil pembakaran.
Salah seorang warga, Anes (42), mengaku masih memiliki pertanyaan terkait potensi gangguan yang dapat dirasakan masyarakat di sekitar lokasi proyek.
“Biasanya kalau orang membakar sampah, asapnya keluar. Yang kita takutkan juga limbahnya sempat bau,” ujar Agnesia dalam sesi dialog.
Menanggapi hal tersebut, Tim Teknis PT SUS, Richard, menjelaskan bahwa sistem pengolahan sampah yang akan diterapkan menggunakan teknologi ruang tertutup atau bunker yang dirancang untuk mencegah bau keluar ke lingkungan sekitar.
Menurutnya, seluruh sampah yang masuk ke fasilitas akan ditempatkan di dalam bunker berlapis beton dengan sistem tekanan udara negatif. Teknologi tersebut membuat udara dari luar masuk ke dalam ruangan, sementara udara yang mengandung bau sampah langsung dialirkan ke ruang pembakaran.
“Bau sampah tidak dibiarkan keluar. Udara di dalam bunker justru disedot masuk ke ruang pembakaran sehingga membantu proses pembakaran menjadi lebih efektif sekaligus mencegah bau menyebar ke luar,” kata Richard.
Ia menjelaskan, proses pembakaran dilakukan pada suhu tinggi, bahkan dapat mencapai sekitar 1.000 derajat Celsius. Suhu tersebut dinilai mampu menghasilkan pembakaran yang lebih sempurna sekaligus menekan potensi terbentuknya senyawa berbahaya.
Selain itu, emisi yang dihasilkan juga disebut akan melalui sejumlah tahapan penyaringan sebelum dilepaskan melalui cerobong.
“Kami menggunakan teknologi filtrasi, termasuk karbon aktif, untuk menyaring zat-zat berbahaya. Emisi yang keluar ditargetkan memenuhi standar yang ketat dan akan dipantau secara terbuka,” ujarnya.
Richard menambahkan, perusahaan berkomitmen menerapkan standar lingkungan yang mengacu pada parameter emisi yang lebih tinggi dibanding ketentuan nasional. Nantinya, data hasil pemantauan emisi juga direncanakan ditampilkan secara langsung di area fasilitas agar dapat diakses masyarakat.
Forum dialog tersebut menjadi bagian dari rangkaian kegiatan CSR Iduladha PT SUS yang juga diisi dengan penyaluran hewan kurban, paket sembako, serta bantuan alat tulis bagi masyarakat di sekitar wilayah proyek.
Melalui forum itu, perusahaan berharap dapat menjawab berbagai pertanyaan warga sekaligus membangun komunikasi yang lebih terbuka terkait pengembangan fasilitas pengolahan sampah yang tengah disiapkan.


















































