Newswire Senin, 24 Agustus 2026 07:17 WIB

Foto ilustrasi korban gempa NTT di pengungsian. /Istimewa.
Harianjogja.com, JAKARTA—Komisi Perlindungan Anak Indonesia (KPAI) mengungkap sedikitnya dua anak meninggal dunia saat berada di lokasi pengungsian setelah gempa bumi melanda sejumlah wilayah Nusa Tenggara Timur (NTT). Kondisi kesehatan dan situasi pengungsian menjadi perhatian dalam pemenuhan hak anak pascabencana.
Anggota KPAI Diyah Puspitarini mengatakan kedua anak tersebut meninggal dunia setelah mengalami sakit yang kondisinya diperparah oleh keadaan di tempat pengungsian.
"Pilunya, beberapa anak meninggal di pengungsian. Sampai hari ini, yang meninggal dunia yang terpantau kami, ada dua anak," kata Diyah Puspitarini saat dihubungi di Jakarta, Minggu.
Menurut dia, kedua anak tersebut meninggal karena sakit.
"Sakit dan diperparah dengan kondisi di pengungsian," kata Diyah Puspitarini.
KPAI meminta pemerintah bersama para pemangku kepentingan di tingkat pusat dan daerah memberikan perhatian lebih terhadap anak-anak yang menghadapi kerentanan berlapis. Kelompok tersebut mencakup anak penyandang disabilitas, anak yang kehilangan orang tua, anak yang terpisah dari keluarga, anak yang sakit, bayi dan balita, serta anak lain yang membutuhkan perlindungan khusus.
Diyah menilai langkah tersebut diperlukan karena penanganan bencana tidak hanya berkaitan dengan upaya memastikan keselamatan fisik anak. Perlindungan terhadap anak selama berada dalam situasi darurat juga mencakup berbagai kebutuhan dasar dan aspek pengasuhan.
Menurut dia, negara perlu memastikan anak berada dalam kondisi aman, tetap mendapatkan pengasuhan yang layak, memperoleh layanan dasar, terlindungi dari berbagai bentuk kekerasan, serta memiliki kesempatan untuk menjalani pemulihan secara fisik dan psikologis.
Untuk memastikan kebutuhan tersebut terpenuhi, KPAI mendorong pemerintah pusat dan pemerintah daerah melakukan evaluasi menyeluruh terhadap pemenuhan hak anak dalam penanganan gempa NTT.
"Evaluasi tersebut perlu mencakup pendataan anak, mekanisme pengasuhan, layanan kesehatan dan psikososial, pendidikan, keamanan tempat pengungsian, serta mekanisme pencegahan dan penanganan kekerasan terhadap anak," kata Diyah Puspitarini.
Di tengah perhatian terhadap kondisi anak di pengungsian, Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB) mencatat jumlah korban meninggal akibat gempa bumi yang melanda Nusa Tenggara Timur (NTT) mencapai 91 jiwa hingga Minggu (23/8/2026) pukul 16.00 WIB. Jumlah tersebut bertambah empat jiwa dibandingkan dengan data pada hari sebelumnya.
Pelaksana Tugas (Plt) Kepala Pusat Data, Informasi, dan Komunikasi Kebencanaan BNPB Berton SP Panjaitan menyampaikan perkembangan data korban tersebut dalam jumpa pers daring, Minggu.
“Saat ini, hingga pukul 16.00 WIB Minggu 23 Agustus, jumlah korban meninggal sebanyak 91 jiwa atau bertambah 4 jiwa dari hari sebelumnya. Dengan rincian Manggarai 32 jiwa, Manggarai Timur 31 jiwa, Sikka 6 jiwa, Ende 2 jiwa, Manggarai Barat 1 jiwa, Nagekeo 14 jiwa, Ngada 5 jiwa,” kata Berton.
Dengan demikian, perhatian penanganan gempa NTT tidak hanya mencakup pendataan korban meninggal, tetapi juga kondisi kelompok rentan yang masih berada di pengungsian, termasuk anak-anak yang membutuhkan layanan kesehatan, pengasuhan, perlindungan, dan dukungan psikososial.
Cek Berita dan Artikel yang lain di Harian Jogja, dan edisi cetak versi elektronik kami hadir di Epaper Harian Jogja.
Sumber : Antara
Sunartono Jurnalis Harian Jogja, bagian dari Bisnis Indonesia Group menulis untuk media cetak dan online

4 hours ago
2

















































