Genjot Produktivitas Padi, Sumbar Mulai Terapkan Pola Pertanian Modern PM-AAS di Kabupaten Solok

11 hours ago 6

Spanduk Dealer Program Juli Honda 300 x 50 cm

SOLOK, KLIKPOSITIF — Pemerintah Provinsi Sumatera Barat mulai mendorong penerapan pola pertanian modern untuk meningkatkan produktivitas padi sekaligus memperkuat ketahanan pangan daerah. Langkah tersebut ditandai dengan penanaman benih padi melalui pola Pertanian Modern–Advanced Agriculture System (PM-AAS) di Kelompok Tani Rawang Sari, Nagari Salayo, Kecamatan Kubung, Kabupaten Solok.

Kegiatan tersebut dihadiri Wakil Gubernur Sumatera Barat Vasco Ruseimy, Wakil Bupati Solok Chandra, Kepala Dinas Perkebunan Tanaman Pangan dan Hortikultura Sumatera Barat Afniwirman, Kepala Dinas Pertanian Kabupaten Solok Deslirizaldi, Kepala BSIP Sumatera Barat, penyuluh pertanian, anggota kelompok tani, serta masyarakat.

Penerapan PM-AAS menjadi bagian dari upaya pemerintah mengubah pola budidaya padi dari sistem konvensional menuju pertanian yang lebih modern, efisien, terukur, dan berorientasi pada peningkatan hasil produksi.

Dalam sistem tersebut, proses budidaya padi mengandalkan mekanisasi pertanian serta pengaturan jarak tanam yang lebih presisi. Penggunaan teknologi diharapkan mampu meningkatkan populasi tanaman secara optimal sehingga produktivitas lahan dapat didorong tanpa harus bergantung pada penambahan luas sawah.

Wakil Gubernur Sumatera Barat Vasco mengatakan, penerapan pola pertanian modern tersebut merupakan langkah positif untuk mendukung program pemerintah dalam meningkatkan produksi pangan.

“Ini kegiatan yang bagus sekali untuk mendukung program pemerintah,” ujar Vasco.

Menurutnya, sektor pertanian memiliki posisi strategis dalam menjaga ketahanan pangan. Karena itu, berbagai inovasi yang dapat meningkatkan produktivitas dan efisiensi usaha tani perlu terus didorong agar petani mampu menghasilkan produksi yang lebih tinggi dari lahan yang tersedia.

Penerapan teknologi pertanian, kata dia, juga harus dibarengi dengan pendampingan kepada petani. Dengan demikian, inovasi yang diperkenalkan tidak berhenti pada tahap demonstrasi, tetapi benar-benar dapat diterapkan secara berkelanjutan oleh kelompok tani.

Sementara itu, Kepala Dinas Perkebunan Tanaman Pangan dan Hortikultura Sumatera Barat Afniwirman mengatakan, kegiatan tersebut merupakan penanaman benih padi melalui Program PM-AAS, yakni pola pertanian modern yang digagas Menteri Pertanian.

“Hari ini dilakukan penanaman benih padi melalui Program PM-AAS, sebuah program pola pertanian modern yang digagas oleh Menteri Pertanian,” kata Afniwirman.

Ia menjelaskan, PM-AAS memiliki perbedaan mendasar dengan pola budidaya padi konvensional. Jika dalam pola konvensional petani umumnya menanam bibit atau benih yang telah tumbuh, maka dalam sistem PM-AAS benih ditanam secara langsung menggunakan alat.

Penggunaan alat tersebut membuat proses tanam menjadi lebih efisien dan dapat mengurangi kebutuhan tenaga kerja. Selain itu, pola tanam yang diterapkan memungkinkan pengaturan populasi tanaman secara lebih terukur.

Perbedaan lainnya terlihat dari kebutuhan benih dan pupuk. Dalam pola konvensional, kebutuhan benih berada di kisaran 25 kilogram per hektare. Sementara pada pola PM-AAS, kebutuhan benih dapat mencapai sekitar 70 hingga 80 kilogram per hektare.

Seiring dengan populasi tanaman yang lebih rapat, kebutuhan nutrisi juga disesuaikan. Penggunaan pupuk urea pada pola modern ini diperkirakan mencapai sekitar 400 kilogram per hektare, dibandingkan sekitar 200 kilogram per hektare pada pola konvensional.

Peningkatan input tersebut diarahkan untuk mendukung target produktivitas yang lebih tinggi. Dalam penerapan PM-AAS, potensi hasil panen ditargetkan dapat mencapai sekitar 10 hingga 12 ton per hektare.

Afniwirman menegaskan, pola tersebut bukan sekadar perubahan cara menanam padi, tetapi merupakan bagian dari strategi meningkatkan produktivitas lahan pertanian melalui pendekatan modern.

“Kalau luas lahan sawah semakin terbatas, maka yang harus kita lakukan adalah meningkatkan produktivitas dari setiap hektare lahan yang ada,” katanya.

Menurut dia, peningkatan produktivitas menjadi penting dalam menjaga ketersediaan beras. Dengan hasil panen yang lebih tinggi, kebutuhan pangan masyarakat dapat dipenuhi dari lahan yang ada sekaligus mendukung upaya mempertahankan swasembada pangan nasional.

Sumatera Barat sendiri menjadi salah satu daerah yang mulai didorong untuk menerapkan pola tersebut secara lebih luas. Penanaman di Kabupaten Solok menjadi bagian penting karena sebelumnya penerapan PM-AAS di Sumbar masih berada dalam tahap uji coba.

“Ini merupakan penanaman pertama di Sumatera Barat. Sebelumnya baru tahap uji coba,” kata Afniwirman.

Ia mengatakan, pemerintah daerah tidak ingin penerapan pertanian modern berhenti pada satu lokasi atau hanya menjadi kegiatan percontohan. Program tersebut diharapkan dapat direplikasi pada berbagai kawasan persawahan yang memiliki potensi untuk dikembangkan.

Untuk mempercepat penerapan PM-AAS, pemerintah juga menyiapkan peran strategis penyuluh pertanian. Setiap penyuluh ditargetkan dapat mendampingi penerapan pola PM-AAS pada lahan seluas 50 hektare.

Dengan jumlah penyuluh pertanian di Sumatera Barat yang mencapai lebih dari 1.000 orang, potensi cakupan lahan yang dapat didampingi diperkirakan mencapai sekitar 50.000 hektare.

Target tersebut sekaligus menjadi tantangan bagi pemerintah daerah dan para penyuluh untuk memastikan teknologi dan pola budidaya modern dapat dipahami dan diterapkan dengan baik oleh petani.

Pendampingan menjadi penting karena keberhasilan PM-AAS tidak hanya ditentukan oleh penggunaan mesin atau alat tanam. Pengaturan benih, jarak tanam, pemupukan, pengairan, hingga pemeliharaan tanaman harus dilakukan secara tepat agar potensi produksi yang ditargetkan dapat tercapai.

Di tingkat petani, penerapan pola baru tersebut juga diharapkan memberikan pengalaman langsung mengenai manfaat mekanisasi pertanian. Dengan proses tanam menggunakan alat, kebutuhan tenaga kerja dapat ditekan sekaligus mempercepat pengerjaan lahan.

Kelompok Tani Rawang Sari menjadi salah satu lokasi awal penerapan pola tersebut di Sumatera Barat. Hamparan sawah di Nagari Salayo menjadi ruang pembelajaran bagi petani dan penyuluh untuk melihat secara langsung bagaimana PM-AAS diterapkan mulai dari proses penanaman.

Kehadiran pemerintah provinsi, pemerintah Kabupaten Solok, jajaran pertanian, penyuluh, serta masyarakat dalam kegiatan tersebut menunjukkan adanya kolaborasi lintas pihak dalam mendorong modernisasi pertanian.

Pemerintah berharap penerapan PM-AAS mampu menjadi salah satu solusi menghadapi tantangan sektor pertanian, terutama keterbatasan lahan sawah dan kebutuhan pangan yang terus meningkat.

Modernisasi pertanian juga diharapkan dapat mengubah cara pandang terhadap usaha tani. Pertanian tidak lagi semata-mata mengandalkan pola tradisional, tetapi mulai memanfaatkan teknologi, mekanisasi, data, serta pengelolaan budidaya yang lebih presisi.

Dengan produktivitas yang lebih tinggi, petani diharapkan memperoleh manfaat ekonomi yang lebih baik. Pada saat bersamaan, daerah juga memiliki kemampuan yang lebih kuat dalam menjaga pasokan beras dan mendukung agenda swasembada pangan.

Pemerintah Provinsi Sumatera Barat menargetkan penerapan PM-AAS terus berkembang dari satu lokasi menuju kawasan-kawasan sentra produksi lainnya. Para penyuluh akan menjadi ujung tombak dalam memastikan penerapan teknologi tersebut berjalan sesuai dengan standar dan kondisi lapangan.

Dari Nagari Salayo, Kabupaten Solok, pemerintah mencoba mendorong babak baru pertanian Sumatera Barat—dari pola budidaya konvensional menuju sistem yang lebih modern, mekanis, dan presisi.

Jika penerapan tersebut mampu menghasilkan produktivitas sesuai target, PM-AAS berpotensi menjadi salah satu model pengembangan pertanian yang dapat diperluas ke berbagai daerah di Sumatera Barat, sekaligus memperkuat kontribusi daerah dalam menjaga ketahanan pangan nasional.

Read Entire Article
Jogja News Jogja Politan Jogja Ball Jogja Otote Klik News Makassar news