Jumali Kamis, 14 Mei 2026 07:47 WIB
Harianjogja.com, JOGJA—Kepercayaan mengenai hari naas berdasarkan weton masih menjadi perhatian sebagian masyarakat Jawa hingga sekarang. Dalam perhitungan primbon Jawa, weton Senin Wage dan Kamis Legi disebut memiliki hari tertentu yang dipercaya kurang baik sehingga pemilik weton disarankan lebih berhati-hati saat mengambil keputusan penting.
Pembahasan mengenai weton dan hari sial kembali banyak dicari menjelang pertengahan Mei 2026, terutama oleh masyarakat yang masih memegang tradisi perhitungan Jawa dalam kehidupan sehari-hari. Meski begitu, primbon umumnya dipahami sebagai warisan budaya dan bukan kepastian mutlak dalam menentukan nasib seseorang.
Dalam primbon Jawa, pemilik weton Senin Wage disebut memiliki hari naas yang jatuh pada Kamis Legi dan Kamis Pahing. Pada hari tersebut, energi dipercaya kurang selaras sehingga orang dengan weton ini disarankan lebih berhati-hati dalam memulai pekerjaan besar, perjalanan jauh, maupun mengambil keputusan penting.
Sementara itu, weton Kamis Legi justru dianggap memiliki energi baik pada hari kelahirannya sendiri. Namun primbon menyebut ada beberapa hari yang tetap perlu diwaspadai, yakni Minggu Pon dan Minggu Wage. Hari tersebut dipercaya dapat memicu ketegangan emosional maupun hambatan kecil dalam aktivitas sehari-hari.
Selain hari pantangan, primbon Jawa juga menyebut sejumlah larangan simbolis bagi pemilik weton Kamis Legi. Salah satunya menghindari penggunaan pakaian berwarna kuning pada hari tertentu karena dipercaya kurang membawa keberuntungan menurut perhitungan tradisional Jawa.
Pemilik weton Kamis Legi juga dianjurkan mengurangi konsumsi daging hewan yang bisa terbang seperti ayam dan bebek. Dalam tradisi primbon, pantangan tersebut lebih dimaknai sebagai simbol pengendalian diri dan kehati-hatian dalam menjalani kehidupan sehari-hari.
Hal lain yang paling sering diingatkan dalam primbon untuk weton Kamis Legi adalah soal pengendalian emosi. Weton ini dipercaya mudah terpancing perasaan sehingga disarankan lebih tenang saat menghadapi konflik maupun persoalan pribadi.
Meski masih dipercaya sebagian masyarakat, banyak kalangan memandang primbon Jawa sebagai bagian dari budaya dan kearifan lokal yang diwariskan turun-temurun. Karena itu, perhitungan weton umumnya lebih digunakan sebagai pengingat untuk introspeksi dan meningkatkan kewaspadaan, bukan sebagai penentu mutlak kehidupan seseorang.
Sejumlah tokoh budaya Jawa juga mengingatkan agar masyarakat tetap menyeimbangkan tradisi dengan akal sehat dan keyakinan pribadi. Sikap hati-hati, doa, serta usaha dinilai tetap menjadi hal utama dibanding rasa takut berlebihan terhadap hari naas maupun pantangan weton tertentu.
Cek Berita dan Artikel yang lain di Harian Jogja, dan edisi cetak versi elektronik kami hadir di Epaper Harian Jogja.
Jumali Jurnalis Harian Jogja, bagian dari Bisnis Indonesia Group menulis untuk media cetak dan online

6 hours ago
2

















































