
Foto ilustrasi. Karyawan melintas di dekat monitor pergerakan Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) di Bursa Efek Indonesia, Jakarta. ANTARA FOTO/Sigid Kurniawan
Harianjogja.com, JAKARTA — Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) di Bursa Efek Indonesia mengalami tekanan berat pada penutupan perdagangan Jumat (5/6/2026). Indeks utama pasar saham Indonesia tersebut ditutup merosot tajam 245,01 poin atau 4,20 persen ke level 5.594,77.
Pelemahan ini terjadi seiring tekanan merata di seluruh sektor saham. Bahkan, indeks LQ45 yang berisi saham unggulan juga ikut terkoreksi dalam hingga 3,99 persen ke posisi 557,75, mencerminkan sentimen negatif yang kuat di pasar.
Kepala Riset Phintraco Sekuritas, Ratna Lim, menilai tekanan jual dipicu oleh ketidakpastian kebijakan serta rumor yang berkembang di pasar.
“Beberapa ketidakjelasan kebijakan pemerintah dan rumor pasar direspons negatif oleh investor, sehingga memicu aksi jual yang cukup besar,” ujarnya.
Salah satu faktor domestik yang menjadi sorotan adalah rencana revisi Undang-Undang Pengembangan dan Penguatan Sektor Keuangan (UU P2SK). Wacana ini memicu kekhawatiran investor terkait potensi gangguan terhadap independensi lembaga keuangan di Indonesia.
Di sisi lain, data fiskal juga turut memengaruhi sentimen. Kementerian Keuangan melaporkan realisasi APBN hingga Mei 2026 mengalami defisit sebesar Rp180,4 triliun atau sekitar 0,7 persen dari Produk Domestik Bruto (PDB). Angka ini meningkat dibandingkan periode yang sama tahun sebelumnya yang hanya Rp20,9 triliun.
Meski demikian, defisit tersebut masih berada di bawah target APBN 2026 sebesar Rp689,1 triliun atau 2,68 persen dari PDB, sehingga secara fundamental masih dalam batas aman.
Tekanan tambahan datang dari nilai tukar rupiah yang melemah ke level Rp18.049 per dolar AS. Kondisi ini memicu spekulasi bahwa Bank Indonesia berpotensi menggelar Rapat Dewan Gubernur (RDG) darurat di luar jadwal rutin pada pertengahan Juni 2026.
Dalam waktu dekat, pelaku pasar akan mencermati sejumlah data penting seperti cadangan devisa, tingkat kepercayaan konsumen, serta penjualan ritel yang berpotensi memengaruhi arah pergerakan pasar.
“Dengan minimnya katalis positif dan tekanan sentimen negatif, IHSG diperkirakan masih berpotensi menguji level psikologis 5.500 pada pekan depan,” kata Ratna.
Sepanjang perdagangan, IHSG sempat dibuka menguat, namun segera berbalik arah ke zona merah hingga penutupan. Tekanan paling dalam terjadi pada sektor transportasi dan logistik yang turun 5,75 persen, disusul sektor industri dan energi.
Secara keseluruhan, aktivitas perdagangan tercatat cukup tinggi dengan frekuensi lebih dari 2,19 juta transaksi. Total saham yang diperdagangkan mencapai 38,04 miliar lembar dengan nilai transaksi Rp31,73 triliun. Mayoritas saham melemah, dengan 626 saham turun, hanya 108 saham menguat, dan 81 stagnan.
Tren pelemahan ini juga sejalan dengan bursa regional Asia. Sejumlah indeks utama seperti Nikkei, Shanghai, Hang Seng, hingga Strait Times kompak ditutup di zona merah.
Kondisi ini menandakan tekanan global dan domestik masih membayangi pasar keuangan, sehingga investor diimbau tetap waspada terhadap volatilitas dalam jangka pendek.
Cek Berita dan Artikel yang lain di Harian Jogja, dan edisi cetak versi elektronik kami hadir di Epaper Harian Jogja.
Sumber : Antara
Abdul Hamied Razak Jurnalis Harian Jogja, bagian dari Bisnis Indonesia Group menulis untuk media cetak dan online

3 hours ago
4

















































