
Direktur Utama PSIM Jogja, Liana Tasno/ Instagram: PSIM Jogja
Harianjogja.com, JOGJA—PSIM Jogja memilih pendekatan realistis menghadapi Super League 2026/2027. Setelah menuntaskan musim pertamanya di kasta tertinggi dengan hasil aman, manajemen Laskar Mataram tidak memasang target terlalu tinggi dan lebih fokus membangun fondasi klub secara berkelanjutan.
Target menembus 10 besar klasemen tetap terbuka, tetapi manajemen menegaskan pencapaian tersebut harus diraih secara bertahap tanpa mengorbankan program pengembangan klub dalam jangka panjang.
Pada musim 2025/2026, PSIM mengakhiri kompetisi di posisi ke-11 klasemen dengan koleksi 45 poin dari 34 pertandingan. Hasil tersebut membuat target utama bertahan di kasta tertinggi yang dipasang sejak awal musim berhasil tercapai.
Manajemen Prioritaskan Keseimbangan Klub
Direktur Utama PSIM Jogja, Liana Tasno, mengakui target untuk bersaing di papan atas belum menjadi pilihan yang realistis bagi klub saat ini. Menurutnya, upaya mengejar posisi lima besar membutuhkan dukungan anggaran yang jauh lebih besar dibandingkan kondisi yang dimiliki PSIM saat ini.
"Saya kepenginnya PSIM ini bukan hanya belanja doang. Tapi belanjanya diseimbangkan juga dengan pengembangan usia muda yang harus kita investasikan," kata Liana, Kamis (23/7/2026).
Liana menilai investasi pada pembinaan pemain muda menjadi bagian penting dalam strategi jangka panjang klub. Program tersebut diharapkan mampu menghasilkan pemain yang nantinya dapat memperkuat tim utama sekaligus menjaga stabilitas keuangan klub.
Selain faktor anggaran, PSIM juga masih menjalani proses adaptasi sebagai klub yang relatif baru kembali bersaing di kasta tertinggi sepak bola Indonesia. Menurutnya, berbagai aspek mulai dari infrastruktur hingga pengelolaan kompetisi masih terus dibenahi agar perkembangan klub berjalan lebih sehat.
Harapan Menembus 10 Besar
Meski tidak memasang target tinggi, manajemen tetap berharap PSIM mampu memperbaiki pencapaian musim lalu. Posisi 10 besar menjadi target yang dianggap memungkinkan untuk diraih apabila perkembangan tim berjalan sesuai rencana sepanjang kompetisi.
"Kalau misalnya bisa masuk 10 besar, puji Tuhan. Tapi harus step by step," ujarnya.
Liana juga mengungkapkan bahwa dua musim terakhir menjadi periode yang penuh tekanan dalam perjalanan klub. Setelah melewati musim pertama di kasta tertinggi, ia mengaku kini lebih tenang menghadapi tantangan kompetisi berikutnya.
Van Gastel Ingin PSIM Lebih Kompetitif
Sementara itu, pelatih PSIM Jogja, Jean-Paul Van Gastel, menegaskan fokus utama tim tetap mengamankan posisi di Super League. Namun, pelatih asal Belanda tersebut berharap performa Laskar Mataram dapat meningkat dibandingkan musim sebelumnya.
"Target yang pertama tentu kita tidak ingin terdegradasi, tapi dari sisi ambisi kami ingin jauh lebih baik dibanding musim lalu," kata Van Gastel.
Menurutnya, peningkatan performa harus dibuktikan melalui konsistensi meraih poin sejak awal musim agar PSIM tidak kembali terjebak dalam persaingan papan bawah.
Persaingan Diprediksi Semakin Ketat
Van Gastel menilai Super League 2026/2027 akan berlangsung lebih kompetitif dibanding musim sebelumnya. Sejumlah klub promosi disebut memiliki kekuatan finansial yang cukup besar untuk mendatangkan pemain baru dan memperkuat skuad mereka.
Kondisi tersebut membuat persaingan di papan tengah hingga papan bawah diperkirakan semakin ketat sepanjang musim. Karena itu, PSIM berupaya mengumpulkan poin sebanyak mungkin sejak awal kompetisi sebelum menetapkan target yang lebih tinggi.
Dengan pendekatan bertahap yang dipilih manajemen dan tim pelatih, PSIM berharap dapat menjaga stabilitas klub sekaligus memperbaiki posisi di klasemen Super League 2026/2027 dibanding musim lalu.
Cek Berita dan Artikel yang lain di Harian Jogja, dan edisi cetak versi elektronik kami hadir di Epaper Harian Jogja.
Jumali Jurnalis Harian Jogja, bagian dari Bisnis Indonesia Group menulis untuk media cetak dan online

2 hours ago
1

















































