Kebakaran Lahan Melonjak di Bantul Petugas Temukan Pola Berulang

2 hours ago 1

Kebakaran Lahan Melonjak di Bantul Petugas Temukan Pola Berulang

Foto ilustrasi petugas pemadam kebakaran bekerja memadamkan api di lokasi kejadian kebakaran. - Freepik

Harianjogja.com, BANTUL—Jumlah kebakaran di Kabupaten Bantul meningkat tajam sejak memasuki musim kemarau 2026. Kebakaran lahan menjadi kasus yang paling sering ditangani petugas, dengan sebagian besar kejadian dipicu aktivitas pembakaran sampah maupun pembersihan lahan yang tidak diawasi hingga api membesar.

Dalam tiga hari terakhir, petugas pemadam kebakaran harus menangani kebakaran lahan secara beruntun di tiga lokasi berbeda. Rangkaian kejadian tersebut memperlihatkan tingginya potensi kebakaran selama cuaca kering yang melanda wilayah Bantul.

Kepala Bidang Pemadam Kebakaran dan Penyelamatan (Damkarmat) BPBD Bantul, Kristanto Kurniawan, menjelaskan kebakaran lahan terjadi berturut-turut sejak Senin hingga Rabu (20-22/7/2026).

Pada Senin malam, kebakaran terjadi di lahan bekas tebangan pohon jati di Sidomulyo, Bambanglipuro. Sehari kemudian, petugas kembali diterjunkan untuk memadamkan api yang membakar rumpun bambu di Sumbermulyo, Bambanglipuro. Kejadian terbaru berlangsung pada Rabu siang ketika lahan kosong seluas sekitar 2.000 meter persegi terbakar di Srimartani, Piyungan.

"Yang terakhir itu Rabu siang lahan kosong seluas 2.000 meter persegi terbakar di Srimartani, Piyungan," kata Kristanto Kurniawan, Kamis (23/7/2026).

Kebakaran Lahan Mendominasi Saat Kemarau

Data BPBD Bantul menunjukkan jumlah kejadian kebakaran sepanjang musim kemarau mengalami peningkatan dibandingkan periode sebelumnya. Selama Juni 2026, petugas menangani 32 kejadian kebakaran di berbagai lokasi. Rinciannya terdiri atas tujuh kebakaran rumah, delapan kebakaran lahan, lima kebakaran bangunan, 10 kebakaran tumpukan sampah, serta masing-masing satu kejadian pada jaringan listrik dan tempat usaha.

"Paling banyak penyebabnya karena membakar sampah dan barang bekas," ujar Kristanto.

Memasuki Juli 2026, jumlah kejadian kebakaran kembali meningkat. Hingga 22 Juli 2026 tercatat sudah terjadi 30 kejadian kebakaran, dengan lahan menjadi objek yang paling banyak terbakar. Dari jumlah tersebut, sebanyak 17 kejadian menimpa lahan, tiga rumah, tiga jaringan listrik, dua tempat usaha, satu bangunan, dan empat tumpukan sampah.

"Penyebab terbanyak masih sama akibat membakar sampah dan barang bekas," lanjutnya.

Api Cepat Membesar Saat Cuaca Kering

Kepala BPBD Bantul, Mujahid Amrudin, mengatakan musim kemarau membuat risiko kebakaran lahan meningkat karena kondisi vegetasi dan tanah menjadi lebih kering. Dalam kondisi tersebut, sumber api berukuran kecil sekalipun dapat berkembang menjadi kebakaran yang lebih luas apabila tidak segera ditangani.

"Ada juga warga yang kadang dengan sengaja membakar lahan untuk pembersihan, tapi tidak dijaga sehingga api membesar," katanya.

Menurut Mujahid, masih banyak warga yang belum memahami cara aman melakukan pembakaran lahan.

Selain memperhatikan arah angin, area di sekitar lokasi pembakaran seharusnya dibasahi terlebih dahulu agar api tidak menjalar ke bagian lain.

"Yang juga paling penting itu harus dijaga, jangan dibakar trus ditinggal," ungkapnya.

Pundong dan Imogiri Jadi Wilayah Rawan

BPBD Bantul mencatat wilayah Pundong dan Imogiri menjadi kawasan yang cukup sering mengalami kebakaran lahan selama musim kemarau. Sebagian warga masih memanfaatkan pembakaran lahan sebagai bagian dari proses pembersihan sebelum penanaman. Praktik tersebut dilakukan karena sebagian masyarakat meyakini sisa pembakaran dapat menjadi pupuk alami bagi lahan pertanian. Untuk mengurangi risiko kebakaran, BPBD Bantul berencana memperkuat edukasi kepada masyarakat mengenai tata cara pembakaran yang aman.

"Ke depannya akan kami coba edukasi dan berikan pendampingan. Atau kalau memang membutuhkan bisa memanggil petugas kami untuk membakar lahannya, agar aman," pungkasnya.

Upaya tersebut dilakukan seiring meningkatnya jumlah kebakaran lahan selama musim kemarau, ketika kondisi cuaca kering membuat api lebih mudah menyebar ke area yang lebih luas.

Cek Berita dan Artikel yang lain di Harian Jogja, dan edisi cetak versi elektronik kami hadir di Epaper Harian Jogja.

Jumali

Jumali Jurnalis Harian Jogja, bagian dari Bisnis Indonesia Group menulis untuk media cetak dan online

Read Entire Article
Jogja News Jogja Politan Jogja Ball Jogja Otote Klik News Makassar news