Yayasan Islamic Center Al Markaz Al Islami Makassar saat Ziarah Kubur di Haul ke-22 Jenderal M Jusuf (Dok: Ist)
KabarMakassar.com – Yayasan Islamic Center Al Markaz Al Islami Makassar menggelar rangkaian kegiatan Haul ke-22 almarhum Jenderal M Jusuf, tokoh yang dikenal sebagai inisiator, pendiri, sekaligus perintis berdirinya Masjid Al-Markaz Al-Islami Makassar.
Rangkaian kegiatan diawali dengan ziarah ke makam Jenderal M Jusuf di Kompleks Pekuburan Islam Panaikang Makassar, Selasa (08/09).
Ziarah tersebut diikuti jajaran pengurus Yayasan Islamic Center Al Markaz Al Islami, para imam, pengurus badan pengelola, pengurus lembaga pendidikan dan pesantren, santri, serta unsur keamanan.
Ketua Harian Yayasan Islamic Center Al-Markaz Al-Islami, Prof Mustari Mustafa, mengatakan kegiatan haul menjadi momentum untuk mengenang sekaligus menjaga nilai-nilai perjuangan yang telah diwariskan Jenderal M Jusuf.
“22 tahun peringatan ini tentu kewajiban nilai yang selama ini kita pertahankan. Nilai inisiator, nilai perhatian terhadap syiar Islam dengan mendirikan masjid yang sangat luar biasa seperti ini,” ujar Prof Mustari saat ditemui di Kompleks Pekuburan Islam Panaikang.
Menurutnya, keberadaan Masjid Al-Markaz Al-Islami hingga saat ini menjadi salah satu bentuk nyata warisan perjuangan Jenderal M. Jusuf dalam pengembangan syiar Islam di Sulawesi Selatan, khususnya Kota Makassar.
Ia menyebut Masjid Al-Markaz Al-Islami juga telah menjadi salah satu destinasi wisata religi di Sulawesi Selatan yang memberikan kebanggaan sekaligus rasa syukur bagi masyarakat.
Setelah ziarah makam, rangkaian Haul ke-22 Jenderal M Jusuf dilanjutkan malam nanti dengan tahlil dan doa bersama di Masjid Al-Markaz Al-Islami.
Selanjutnya, pada 12 September, kegiatan akan dilanjutkan melalui seminar publik yang digelar di Masjid Al-Markaz Al-Islami.
Prof Mustari menjelaskan, format kegiatan tahun ini memiliki perbedaan dibandingkan pelaksanaan haul tahun sebelumnya. Jika tahun lalu digelar kegiatan khusus yang disebut NGOBRAS, tahun ini panitia memilih seminar publik sebagai bagian dari rangkaian haul.
“Kalau kegiatan kan sama, ziarah kubur, tahlil dan doa bersama. Kemudian kalau tahun lalu kita lakukan, kita bentuk tim khusus. Dulu kita punya kegiatan semacam NGOBRAS khusus untuk peringatan Haul Jenderal Jusuf.
Nah, kali ini karena waktu NGOBRAS tidak memungkinkan, maka kita lakukan seminar publik secara khusus di tanggal 12,” jelasnya.
Lebih dari sekadar kegiatan tahunan, Prof Mustari berharap Haul Jenderal M Jusuf menjadi momentum untuk menggali kembali nilai perjuangan, pendidikan, keteladanan, serta kontribusi tokoh bangsa tersebut.
Menurutnya, nilai-nilai tersebut relevan untuk direfleksikan di tengah berbagai persoalan sosial yang dihadapi masyarakat saat ini.
“Kita seolah-olah menggali atau mengingat kembali nilai-nilai dari sejarah tokoh besar kita,” katanya.
Ia berharap warisan nilai yang ditinggalkan Jenderal M Jusuf dapat menjadi sumber inspirasi dan optimisme bagi generasi saat ini untuk menghadapi berbagai tantangan kehidupan berbangsa dan bermasyarakat.
“Semangat kita tidak boleh putus asa dan pesimis. Kita harus optimistis. Salah satu sumber spirit optimisme kita adalah apa yang ditinggalkan oleh tokoh-tokoh perjuangan bangsa seperti beliau,” tukasnya.


















































