Ketua Umum Dewan Pimpinan Nasional (Depinas) SOKSI, Mukhamad Misbakhun (Dok: KabarMakassar)
KabarMakassar.com – Ketua Umum Dewan Pimpinan Nasional (Depinas) SOKSI, Mukhamad Misbakhun, mendorong seluruh jajaran Sentral Organisasi Karyawan Swadiri Indonesia (SOKSI) memperkuat konsolidasi untuk mengembalikan soliditas organisasi di berbagai daerah.
Pesan itu disampaikan Misbakhun saat menghadiri Rapat Kerja Daerah (Rakerda) SOKSI Sulawesi Selatan di Swiss-Bell Hotel Waterfront Makassar, Minggu (06/09).
Menurut Misbakhun, pembenahan struktur dan penguatan organisasi menjadi kebutuhan penting di tengah perubahan dinamika politik. Karena itu, Rakerda tidak boleh sekadar menjadi forum menyusun program, tetapi harus menghasilkan langkah nyata untuk menghidupkan kembali kekuatan SOKSI.
“Kami ingin menyampaikan pesan yang sangat kuat kepada seluruh kader SOKSI di daerah-daerah bahwa kita harus melakukan konsolidasi,” ujar Misbakhun.
Ia mengakui proses konsolidasi bukan pekerjaan ringan. Penguatan organisasi membutuhkan waktu, tenaga, dan keseriusan seluruh kader. Namun, hal tersebut tetap harus dilakukan karena menjadi fondasi keberlangsungan SOKSI.
“Ini adalah pekerjaan yang paling melelahkan, paling capek, dan kemudian paling berat. Tapi ini harus dijalani, harus dilakukan,” katanya.
Misbakhun juga mengingatkan posisi SOKSI dalam sejarah Partai Golkar. Bersama Kosgoro 1957 dan MKGR, SOKSI merupakan bagian dari organisasi kemasyarakatan yang memiliki hubungan historis dengan perjalanan dan perkembangan Golkar.
Karena itu, menurutnya, kebangkitan SOKSI tidak bisa dilepaskan dari upaya memperkuat basis organisasi yang menopang Partai Golkar.
“Golkar ada sejarah ormas yang mendirikan SOKSI, MKGR, Kosgoro 1957. Tentunya ini adalah sebuah mesin tersendiri bagi Partai Golkar,” tuturnya.
Selain memperkuat struktur, Misbakhun menilai SOKSI perlu membuka ruang lebih luas bagi masyarakat untuk belajar organisasi dan memahami persoalan kebangsaan.
Menurut dia, ketertarikan seseorang terhadap dunia politik tidak selalu harus diwujudkan dengan langsung bergabung menjadi anggota partai. Organisasi kemasyarakatan dapat menjadi tempat untuk berdiskusi, membangun jaringan, serta mengasah kemampuan berorganisasi.
“Orang yang ingin berorganisasi, mengasah kemampuan untuk berdialektika, ini harus diberikan ruang,” katanya.
Ruang tersebut, lanjutnya, dapat dimanfaatkan untuk membahas berbagai persoalan, mulai dari isu kebangsaan dan pemerintahan hingga persoalan yang berkembang di daerah serta aspirasi masyarakat.
Misbakhun juga menekankan identitas SOKSI sebagai organisasi yang memiliki akar pada kelompok profesi dan tenaga kerja. Karena itu, isu ketenagakerjaan dan pemberdayaan masyarakat dinilai tetap relevan untuk menjadi bagian dari gerakan organisasi.
Khusus di Sulsel, ia meminta kepengurusan SOKSI di bawah kepemimpinan Andi Patarai Amir bekerja lebih keras untuk membangun kembali soliditas organisasi.
Misbakhun mengapresiasi pengalaman Andi Patarai Amir yang dinilainya dapat menjadi modal dalam menjalankan konsolidasi SOKSI di daerah.
“Di Sulawesi Selatan ini, kami sadar sepenuhnya bahwa kami harus bekerja keras,” tegasnya.
Ia berharap kepengurusan baru tidak hanya memperkuat struktur internal, tetapi juga mampu menghadirkan kegiatan yang dirasakan manfaatnya oleh masyarakat.
Dengan begitu, kebangkitan SOKSI di Sulsel diharapkan berjalan beriringan dengan penguatan Partai Golkar serta memperluas kontribusi organisasi di tengah masyarakat.

















































