
Foto ilustrasi rudal atau peluru kendali. - Freepik
Harianjogja.com, JAKARTA—Kelompok bersenjata Hizbullah mengklaim telah melancarkan 20 operasi militer terhadap tentara Israel di wilayah Lebanon selatan dalam sehari terakhir. Serangan tersebut disebut sebagai respons atas dugaan pelanggaran gencatan senjata dan serangan Israel terhadap wilayah sipil di Lebanon.
Dalam pernyataan resminya pada Selasa, Hizbullah menyebut operasi militer itu dilakukan pada 11 Mei 2026 untuk membela Lebanon dan masyarakat di wilayah selatan yang terdampak konflik.
"Untuk membela Lebanon dan rakyatnya, serta sebagai tanggapan atas pelanggaran gencatan senjata oleh musuh Israel, serangan terhadap warga sipil, dan penghancuran rumah dan permukiman di Lebanon selatan, kelompok perlawanan Islam telah melakukan 20 operasi militer pada 11 Mei 2026," kata Hizbullah dalam pernyataannya.
Menurut Hizbullah, serangan tersebut menyasar konsentrasi pasukan serta peralatan militer Israel di sejumlah wilayah di Lebanon selatan, di antaranya Taybeh, Tayr Harfa, El Biyada, Naqoura, Rshaf, Deir Seryan, Adaisseh, dan Sarbin.
Kelompok tersebut juga mengklaim menggunakan berbagai jenis persenjataan dalam operasi tersebut, mulai dari drone tempur, artileri, hingga rudal. Hizbullah menyebut beberapa kendaraan militer Israel turut menjadi sasaran serangan.
Dalam keterangannya, Hizbullah mengklaim berhasil menghancurkan tank Merkava, kendaraan teknik D9, serta kendaraan Hummer milik tentara Israel. Selain itu, kelompok tersebut juga menyebut telah mencegat sebuah drone Israel di dekat Kota Tyre menggunakan rudal permukaan ke udara.
Hingga kini belum ada pernyataan resmi dari pihak Israel terkait klaim serangan yang disampaikan Hizbullah tersebut. Ketegangan di wilayah Lebanon selatan dan perbatasan Israel masih terus berlangsung dalam beberapa waktu terakhir di tengah situasi keamanan kawasan yang belum stabil.
Hizbullah merupakan organisasi politik dan paramiliter di Lebanon yang memiliki pengaruh besar dalam lanskap geopolitik Timur Tengah. Didirikan pada awal 1980-an dengan dukungan Iran sebagai respons atas invasi Israel, kelompok ini telah bertransformasi menjadi kekuatan hibrida yang menjalankan fungsi partai politik di parlemen sekaligus memiliki sayap militer yang sangat kuat.
Di Lebanon, Hizbullah tidak hanya dikenal karena keterlibatan militernya dalam berbagai konflik regional, tetapi juga karena jaringan layanan sosialnya yang luas, mulai dari penyediaan fasilitas kesehatan hingga bantuan pendidikan bagi masyarakat.
Hingga tahun 2026, posisi Hizbullah tetap menjadi titik pusat ketegangan di kawasan tersebut, di mana perannya sering dipandang sebagai gerakan perlawanan oleh para pendukungnya, namun diklasifikasikan sebagai organisasi teroris oleh banyak negara Barat dan Israel.
Cek Berita dan Artikel yang lain di Harian Jogja, dan edisi cetak versi elektronik kami hadir di Epaper Harian Jogja.
Sumber : Antara
Sunartono Jurnalis Harian Jogja, bagian dari Bisnis Indonesia Group menulis untuk media cetak dan online

4 hours ago
2

















































