IGBF 2026 Hadir di Yogyakarta, Dorong Rumah dan Bangunan Indonesia Menuju Net Zero

7 hours ago 2

Harianjogja.com, JOGJA—Upaya menuju target Net Zero Indonesia 2060 tidak harus dimulai dari proyek bangunan berskala besar. Rumah tinggal pun dapat menjadi tempat untuk menguji bagaimana desain, perilaku penghuni, kondisi iklim, teknologi, dan data bekerja bersama untuk mengurangi konsumsi energi.

Gagasan tersebut menjadi salah satu pesan yang dibawa Indonesia Green Building Festival (IGBF) 2026 di Jogja yang diselenggarakan Green Building Council Indonesia (GBCI) melalui Perwakilan Daerah Istimewa Yogyakarta, Senin (14/9/2026).

IGBF 2026 merupakan bagian dari gerakan nasional yang digelar sepanjang September 2026 untuk meningkatkan kesadaran sekaligus mendorong penerapan bangunan hijau dan pembangunan berkelanjutan di Indonesia. Mengusung semangat “Building Better Homes for a Better Future”, kegiatan di Jogja mempertemukan pemerintah, akademisi, arsitek, praktisi bangunan hijau, pengembang, kontraktor, mahasiswa, industri, serta masyarakat.

Rangkaian kegiatan tersebut menargetkan sekitar 200 peserta dari berbagai latar belakang profesi dan institusi. Pembahasan diarahkan pada peran GBCI dalam menyukseskan praktik bangunan hijau di Indonesia sekaligus menghadapi target Net Zero Indonesia 2060.

Dua Agenda IGBF di Jogja

Kegiatan IGBF Jogja berlangsung dalam dua sesi utama. Pada pagi hari digelar Seminar Green Festival dengan tema “Peran GBCI dalam Mensukseskan Praktik Bangunan Hijau di Indonesia”.

Seminar tersebut menghadirkan Ir. Ignesjz Kemalawarta, MBA., GP dan Dr. Ir. Desiderius Viby Indrayana, S.T., M.M., M.T., IPU, dengan moderator Ar. Nicolaus Nino Ardhiansyah, M.Sc., IAI.

Sesi pagi menjadi ruang dialog antara GBCI, pemerintah, profesional, dan masyarakat mengenai pentingnya memperluas penerapan prinsip bangunan hijau. Penerapannya tidak hanya diarahkan pada bangunan komersial, tetapi juga lingkungan binaan yang dekat dengan kehidupan sehari-hari.

Rangkaian kemudian dilanjutkan pada siang hingga sore hari di Universitas Atma Jaya Yogyakarta Kampus III. Agenda tersebut berupa Net Zero Talkshow dan Book Launching Living Net Zero dengan tema “Menghadapi Net Zero di Indonesia 2060”.

Talkshow menghadirkan Arief Sutanto, Dr. Ir. Agustinus Djoko Istiadji, M.Sc., Bld.Sc., Ar., IAI, serta Ar. Daud Tjondrorahardja, MBA., D.Div., IAI., GP. Moderator acara kembali Ar. Nicolaus Nino Ardhiansyah, M.Sc., IAI.

Rumah Jadi Laboratorium Net Zero

Salah satu agenda penting dalam IGBF Jogja adalah peluncuran buku Living Net Zero karya Ar. Daud Tjondrorahardja, MBA., D.Div., IAI., GP. Buku tersebut mengangkat pertanyaan mengenai kemungkinan memulai konsep Net Zero dari rumah tinggal.

Pengalaman Rumah Dusun Pajangan 11 di Jogja menjadi contoh yang digunakan dalam buku tersebut. Rumah itu dikembangkan sebagai living laboratory untuk melihat penerapan prinsip bangunan berkelanjutan dalam kehidupan sehari-hari.

Pendekatan yang digunakan tidak dimulai dari teknologi, tetapi dari alam. Cahaya matahari dimanfaatkan sebelum lampu dinyalakan, angin digunakan sebelum pendingin mekanis diperlukan, dan air hujan ditangkap sebelum menjadi limpasan.

Energi matahari dimanfaatkan untuk menghasilkan listrik, sedangkan vegetasi digunakan untuk membantu membentuk mikroklimat. Material ramah lingkungan dengan embodied energi yang rendah juga menjadi bagian dari pendekatan tersebut.

Konsep yang ditawarkan Living Net Zero menempatkan rumah bukan sebagai bangunan yang harus melawan alam. Sebaliknya, rumah diharapkan dapat belajar bekerja bersama alam.

Rumah Dusun Pajangan 11 menjadi contoh penerapan passive design melalui kehidupan sehari-hari. Desainnya memanfaatkan pencahayaan alami, cross ventilation, stack effect, pengendalian matahari, living facade, insulasi atap, serta kipas langit-langit untuk menekan kebutuhan terhadap pendinginan mekanis.

Dalam operasionalnya, rumah tersebut tidak menggunakan AC dan mengandalkan ceiling fan untuk membantu kenyamanan penghuni. Solar Water Heater digunakan sejak rumah dihuni, kemudian Solar PV ditambahkan untuk mengurangi ketergantungan terhadap listrik jaringan.

Pengelolaan sumber daya juga mencakup air. Air hujan ditampung dan dikelola, air diproses untuk kebutuhan rumah, sedangkan penggunaan air dikurangi melalui water fixtures yang efisien.

Fenomena alam seperti embun pagi yang sebelumnya tidak dianggap sebagai bagian dari sistem bangunan bahkan mulai dilihat sebagai sumber air bagi vegetasi. Dengan pendekatan tersebut, rumah tidak sekadar menjadi konsumen sumber daya, tetapi mulai mengelola sumber dayanya sendiri.

Dari Smart Home Menjadi Living Home

Menurut Ar. Daud Tjondrorahardja, perjalanan menuju Net Zero tidak sekadar berarti menambahkan semakin banyak teknologi ke dalam rumah. Rumah yang dipenuhi perangkat smart home belum tentu berkelanjutan apabila setiap sistem bekerja sendiri-sendiri.

Konsep living home justru menekankan kemampuan rumah untuk mengamati, mengukur, belajar, memperbaiki, dan berkembang. Pendekatan tersebut dirangkum melalui tahapan Observe → Measure → Learn → Improve → Evolve.

Data mengenai cahaya, suhu, kelembaban, ventilasi, konsumsi energi, produksi Solar PV, air, dan berbagai parameter lainnya dapat digunakan penghuni untuk memahami cara rumah bekerja. Data tersebut kemudian menjadi alat untuk mengambil keputusan, bukan sekadar kumpulan angka.

Perubahan Bisa Dimulai dari Rumah

IGBF Yogyakarta membawa pesan bahwa target Net Zero Indonesia tidak hanya menjadi persoalan pemerintah atau industri. Rumah tinggal juga dapat mengambil bagian melalui keputusan desain dan kebiasaan yang lebih ramah lingkungan.

Mulai dari menentukan orientasi bangunan, membuat bukaan untuk cahaya dan udara, melindungi bangunan dari panas matahari, menggunakan air secara bijaksana, menangkap air hujan, hingga mengurangi konsumsi listrik.

Pemanfaatan energi matahari dan vegetasi juga menjadi bagian dari langkah tersebut. Setelah rumah dihuni, pengukuran diperlukan untuk mengetahui bagaimana sistem yang dirancang benar-benar bekerja.

Jika prinsip-prinsip tersebut diterapkan secara luas, rumah tinggal dapat menjadi bagian penting dalam perjalanan Indonesia menuju Net Zero. GBCI Yogyakarta berharap IGBF 2026 sekaligus membuka ruang kolaborasi yang lebih luas antara pemerintah, dunia pendidikan, profesi, industri, komunitas, dan masyarakat.

IGBF 2026 sendiri merupakan rangkaian kegiatan nasional GBCI sepanjang September 2026. Kegiatannya mencakup seminar, talk show, pameran produk hijau, edukasi, aksi lingkungan, dan kampanye publik di berbagai kota di Indonesia.

Di Jogja, rangkaian tersebut dilaksanakan pada 14 September 2026 melalui Seminar Green Festival serta Net Zero Talkshow dan Book Launching Living Net Zero.

Buku Living Net Zero diharapkan menjadi jembatan antara konsep Net Zero yang selama ini dianggap teknis dengan pengalaman yang lebih dekat dengan masyarakat. Pesan utamanya, perjalanan menuju Net Zero dapat dimulai dari keputusan-keputusan kecil di rumah.

Cek Berita dan Artikel yang lain di Harian Jogja, dan edisi cetak versi elektronik kami hadir di Epaper Harian Jogja.

Read Entire Article
Jogja News Jogja Politan Jogja Ball Jogja Otote Klik News Makassar news