Ilustrasi inflasi (dok. KabarMakassar)KabarMakassar.com — Badan Pusat Statistik (BPS) Provinsi Sulawesi Selatan mencatat inflasi tahunan (year on year/y-on-y) pada Januari 2026 sebesar 4,11 persen. Angka ini menunjukkan adanya kenaikan Indeks Harga Konsumen (IHK) dari 109,28 pada Desember 2025 menjadi 109,79 pada Januari 2026.
Inflasi tersebut terjadi secara merata di seluruh delapan daerah pemantauan IHK di Sulsel. Kabupaten Sidenreng Rappang (Sidrap) menjadi wilayah dengan inflasi tertinggi yakni mencapai 5,63 persen dengan IHK sebesar 108,33
Sementara itu, inflasi terendah tercatat terjadi di Kota Makassar dengan angka 3,82 persen dengan IHK sebesar 109,88. Meski lebih rendah dibanding daerah lain, Makassar tetap mengalami tekanan harga yang meningkat dibanding Januari tahun sebelumnya.
Dalam berita resmi statistik yang dirilis oleh BPS Sulsel, Kepala BPS Sulsel Aryanto menjelaskan inflasi y-on-y ini dipicu oleh kenaikan harga pada sejumlah kelompok pengeluaran.
“Kelompok makanan, minuman, dan tembakau mengalami inflasi sebesar 3,59 persen yang turut mendorong kenaikan harga kebutuhan pokok masyarakat,” ujarnya.
Kelompok perumahan, air, listrik, dan bahan bakar rumah tangga menjadi penyumbang inflasi cukup besar dengan kenaikan mencapai 11,67 persen. Kenaikan ini terutama dipengaruhi oleh tarif listrik yang memberikan andil inflasi sebesar 1,46 persen.
“Selain itu, kelompok perawatan pribadi dan jasa lainnya mengalami lonjakan inflasi tertinggi sebesar 16,07 persen. Komoditas emas perhiasan menjadi penyumbang dominan dengan andil inflasi mencapai 1,19 persen,” jelasnya.
Secara bulanan (month to month/m-to-m), Sulsel juga mengalami inflasi sebesar 0,47 persen pada Januari 2026. Inflasi ini sekaligus menjadi inflasi year to date (y-to-d) atau sejak awal tahun yang juga tercatat 0,47 persen.
Komoditas yang paling banyak memberikan kontribusi inflasi tahunan di Sulsel antara lain tarif listrik, emas perhiasan, beras, serta sejumlah komoditas ikan seperti bandeng, layang, dan cakalang.
Kenaikan harga bahan pangan tersebut menambah beban pengeluaran rumah tangga. Di sektor transportasi, inflasi y-on-y tercatat relatif rendah yakni sebesar 0,2 persen. Namun demikian, beberapa komoditas seperti sepeda motor dan pelumas mesin tetap memberi kontribusi terhadap kenaikan harga.
Tidak semua kelompok pengeluaran mengalami inflasi. Beberapa kelompok justru mencatat deflasi, seperti pakaian dan alas kaki yang turun 0,3 persen, serta kelompok informasi, komunikasi, dan jasa keuangan yang turun 0,39 persen.
Aryanto menegaskan bahwa perkembangan inflasi ini perlu menjadi perhatian pemerintah daerah dalam menjaga stabilitas harga.
“Pengendalian harga pangan dan tarif energi dinilai menjadi faktor penting untuk menekan inflasi di Sulsel ke depan,” pungkasnya.


















































