KLIKPOSITIF- Setiap siang, selepas azan Zuhur berkumandang, bunyi mendesis dari sebuah kukusan kecil mulai terdengar di sejumlah ruas jalan Surantih, Kecamatan Sutera, hingga Kecamatan Lengayang, Kabupaten Pesisir Selatan (Pessel). Asap tipis mengepul dari cerobong bambu di atas gerobak sederhana, menjadi penanda kehadiran Warno, seorang perantau asal Jawa yang setia menjajakan kue putu, makanan tradisional yang kini kian jarang ditemui.
Warno sudah sekitar satu tahun terakhir menetap di Surantih. Ia meninggalkan kampung halamannya di Jawa untuk mengadu nasib di Sumatera Barat, dengan harapan menemukan penghidupan yang lebih baik. Pilihan hidup membawanya ke jalanan Surantih, mengendarai sepeda motor gerobak kecilnya berisi adonan putu dan kukusan, menyusuri permukiman warga dari siang hingga sore hari.
Sebelum berjualan putu, Warno sempat bekerja di sebuah usaha perabot. Namun pekerjaan tersebut tidak berlangsung lama. Keterbatasan peluang dan kebutuhan hidup membuatnya berpikir ulang. Ia kemudian memutuskan beralih profesi, memilih berdagang putu, kue tradisional yang telah akrab dengannya sejak lama.
“Saya pilih jual putu karena di sini belum ada yang jual. Sekalian juga melestarikan makanan tradisional,” ungkap Warno, sambil menuangkan adonan ke dalam cetakan bambu saat di temui Katasumbar di sekitar Kecamatan Lengayang, Kamis (15/1/2026), sore.
Keputusan itu bukan tanpa pertimbangan. Warno sadar, putu memiliki daya tarik tersendiri. Selain rasanya yang sederhana, bunyi khas dari kukusan serta aroma pandan dan gula merah yang menguar sering kali membuat orang menoleh dan mendekat.
Ketika mendengar bunyi khas dari kukusan serta aroma pandan Warno, tentu pelanggan yang lahir di generasi 1980-1990-2000-an, akan terasa balik ke masa itu.
Setiap hari, Warno mulai berjualan setelah Salat Zuhur. Dari rumah kontrakannya, ia mengendarai gerobak motornya, menyusuri jalan-jalan kampung dan titik-titik yang ramai dilalui warga.
Sore yang teduh, Warno tampak riang melayani pembeli yang datang. Hasilnya pun cukup menjanjikan. Dalam sehari, dagangannya jarang tersisa. Jika habis terjual seluruhnya, omzet kotor Warno bisa mencapai Rp650 ribu.
Setelah dikurangi biaya bahan dan keperluan lainnya, ia bisa membawa pulang penghasilan bersih sekitar Rp250 ribu per hari. Putu buatan Warno dijual dengan harga terjangkau. Satu porsi berisi empat potong putu dibanderol Rp5 ribu.
Adonannya terbuat dari campuran kelapa parut, gula merah, dan daun pandan, yang kemudian dikukus hingga matang. Saat cetakan dibuka, uap panas dan aroma manis langsung menyeruak, menggoda siapa pun yang berada di sekitarnya.
Bagi Warno, berjualan putu bukan semata soal keuntungan. Di balik gerobak kecilnya, tersimpan harapan dan tekad seorang perantau yang ingin bertahan hidup dengan cara yang jujur. Ia juga merasa bangga bisa memperkenalkan kembali kue tradisional itu kepada setiap pembeli, terutama generasi muda.
“Yang beli bukan cuma orang tua, anak-anak juga banyak. Ada yang baru pertama kali coba,” ujarnya sambil tersenyum.
Di tengah arus makanan modern dan jajanan instan, kehadiran Warno dengan putunya menjadi jajanan spesial bagi warga sekitar. Bunyi kukusan dan kepulan asap dari gerobaknya bukan sekadar penanda dagangan, tetapi juga simbol menjaga rasa tradisi, sekaligus merajut harapan hidup.

2 days ago
7

















































