
Foto ilustrasi kekeringan. - Magnific
Harianjogja.com, SEMARANG—Kekeringan meteorologis mengintai seluruh wilayah Jawa Tengah (Jateng) pada dasarian III Agustus 2026. Berdasarkan pemutakhiran data per 17 Agustus, peluang curah hujan kategori rendah di bawah 50 milimeter per dasarian di seluruh wilayah Jateng lebih dari 90%.
Kepala BMKG Stasiun Klimatologi Jawa Tengah Goeroeh Tjiptanto saat dihubungi dari Cilacap, Minggu, mengatakan berdasarkan peta peringatan dini kekeringan meteorologis periode 21-31 Agustus 2026, status peringatan di Jateng terbagi menjadi Awas, Siaga, dan Waspada.
“Sementara berdasarkan peta peringatan dini kekeringan meteorologis periode 21-31 Agustus 2026, status peringatan terbagi menjadi Awas, Siaga, dan Waspada,” katanya.
Daerah Berstatus Awas
Goeroeh mengatakan status Awas meliputi Demak, Kudus, Grobogan, Jepara, Pati, Rembang, Blora, Sragen, Karanganyar, Purworejo, Klaten, Magelang, Cilacap, dan Wonogiri.
Selanjutnya, status Siaga mencakup Brebes, Tegal, Pemalang, Pekalongan, Batang, Kendal, Banyumas, Purbalingga, Banjarnegara, Wonosobo, Kebumen, Temanggung, Semarang, Boyolali, Sukoharjo, Kota Semarang, Kota Salatiga, dan Kota Magelang.
Sementara status Waspada disematkan untuk Kota Tegal, Kota Pekalongan, dan Kota Surakarta.
Hujan Tak Turun
“Status Waspada merupakan peringatan awal ketika hujan tidak turun selama minimal 21 hari. Masyarakat diimbau menghemat penggunaan air dan membatasi pemakaian untuk kebutuhan yang tidak mendesak,” kata Goeroeh.
Ia mengatakan status Siaga menunjukkan hujan tidak turun minimal 31 hari sehingga sumber air seperti sumur dangkal, sungai, dan embung mulai menyusut.
Menurut dia, kondisi tersebut juga dapat berdampak pada sektor pertanian dan memerlukan pengelolaan irigasi lebih ketat.
“Adapun status Awas merupakan kondisi paling kritis ketika hujan tidak turun minimal 61 hari berturut-turut. Tanah menjadi sangat kering, sumber air berpotensi mengering, dan kekeringan dapat mengancam kebutuhan dasar masyarakat,” katanya.
Ia mengatakan seluruh status tersebut diikuti prediksi curah hujan kurang dari 20 milimeter per dasarian dengan peluang lebih dari 70%.
Pada status Awas, kata dia, pemerintah daerah dan instansi terkait perlu mengantisipasi krisis air bersih melalui distribusi air secara rutin.
“Masyarakat juga diminta memprioritaskan air untuk minum dan memasak,” katanya.
Ancaman Pertanian
Goeroeh mengatakan kekeringan juga meningkatkan ancaman gagal panen pada lahan tadah hujan. Oleh karena itu, petani dianjurkan mempertimbangkan tanaman yang lebih tahan kering dan tidak memaksakan komoditas yang membutuhkan banyak air.
Selain itu, risiko kebakaran meningkat akibat banyaknya material kering. Masyarakat diminta tidak membuka lahan dengan membakar dan tidak membuang puntung rokok sembarangan.
Kondisi kekeringan juga dapat meningkatkan risiko dehidrasi, diare, penyakit kulit, dan gangguan saluran pernapasan akibat keterbatasan air bersih serta paparan debu.
Awal September
BMKG memprakirakan seluruh wilayah Jateng masih berada pada kriteria curah hujan rendah 0-50 milimeter per dasarian hingga akhir September 2026.
“BMKG memprakirakan seluruh wilayah Jawa Tengah masih berada pada kriteria curah hujan rendah 0-50 milimeter per dasarian hingga akhir September 2026, dengan awal September dipetakan sebagai fase paling kering,” kata Goeroeh.
Cek Berita dan Artikel yang lain di Harian Jogja, dan edisi cetak versi elektronik kami hadir di Epaper Harian Jogja.
Sumber : Antara

7 hours ago
4

















































