Kelok 23 Dibuka, Dispar Sleman Hitung Dampak Wisata hingga 2030

4 hours ago 2

Kelok 23 Dibuka, Dispar Sleman Hitung Dampak Wisata hingga 2030

Sejumlah pengendara melintas di Jalur Jalan Lintas Selatan (JJLS) Kelok 23 di Bantul, DI Yogyakarta, Senin (14/9/2026). Ujicoba pembukaan JJLS Kelok 23 sebagai penghubung Kabupaten Bantul dan Gunungkidul tersebut dimulai pada tanggal 14 hingga 20 September 2026 pukul 06.00-18.00 WIB. Antara/Hendra Nurdiyansyah/YU\r\n

Harianjogja.com, SLEMAN— Pembukaan Kelok 23 diproyeksikan dapat memengaruhi pola perjalanan wisatawan sekaligus perkembangan pariwisata di Kabupaten Sleman. Untuk memetakan kemungkinan tersebut, Dinas Pariwisata (Dispar) Sleman kini melakukan analisis dan simulasi dampaknya hingga 2030.

Kajian tersebut tidak hanya melihat kemungkinan perubahan jumlah kunjungan wisatawan. Dispar Sleman juga menghitung sejumlah indikator lain, mulai dari okupansi hotel, lama tinggal wisatawan atau length of stay, hingga belanja wisatawan selama berada di Sleman.

Kepala Bidang Pemasaran Dispar Sleman, Kus Endarto, mengatakan simulasi dilakukan untuk memetakan dampak pembukaan Kelok 23 terhadap berbagai indikator pariwisata.

"Analisis dan simulasi dampak pembukaan Kelok 23 terhadap angka kunjungan hingga okupansi hotel," kata Kus kepada wartawan, Senin (21/9/2026).

Tiga Skenario hingga 2030

Analisis Dispar Sleman mencakup periode 2027-2030. Dalam kajian tersebut, terdapat tiga skenario yang digunakan, yakni pesimistis, moderat, dan optimistis.

Selain angka kunjungan dan tingkat okupansi hotel, simulasi juga memperhitungkan lama tinggal wisatawan serta besaran belanja wisatawan selama melakukan aktivitas di Sleman. Indikator-indikator tersebut digunakan untuk melihat kemungkinan perubahan aktivitas pariwisata setelah Kelok 23 dibuka.

Dampak terhadap pendapatan asli daerah (PAD) Sleman juga menjadi bagian dari kajian. Dispar Sleman secara khusus memperhitungkan potensi penerimaan dari pajak hotel dan pajak restoran.

Dengan demikian, pembukaan Kelok 23 dalam simulasi tersebut tidak hanya dipandang dari sisi bertambahnya mobilitas wisatawan. Dispar Sleman juga melihat kemungkinan kontribusinya terhadap perekonomian daerah melalui aktivitas pariwisata.

Akses YIA dan Dua Exit Tol

Faktor aksesibilitas turut dimasukkan dalam simulasi dampak Kelok 23. Dispar Sleman memperhitungkan keberadaan Bandara Internasional Yogyakarta (YIA) serta dua rencana exit tol, yakni Purwomartani-Bokoharjo dan Kronggahan-Monjali-Trihanggo.

Berbagai faktor tersebut menjadi bagian dari perhitungan untuk melihat kemungkinan perubahan pola kunjungan wisatawan dan aktivitas wisata di Sleman sepanjang 2027-2030.

Melalui kajian tersebut, Dispar Sleman berharap memperoleh gambaran mengenai dampak pembukaan Kelok 23 terhadap perkembangan pariwisata di Sleman.

PHRI Soroti Potensi Wisata Touring

Sementara itu, Ketua BPC PHRI Sleman, Andhu Pakerti, melihat Kelok 23 memiliki potensi untuk menarik wisatawan yang melakukan perjalanan touring menggunakan kendaraan roda dua.

Jalur lintas selatan (JJLS) tersebut dinilai dapat menjadi salah satu rute perjalanan dari arah Cirebon menuju Yogyakarta dan Sleman. Apabila potensi itu dikelola dengan baik, Kelok 23 juga dapat berkembang menjadi titik singgah bagi wisatawan.

Kondisi tersebut dinilai dapat membuka peluang terhadap peningkatan okupansi hotel di Sleman.

"Kalau potensi ini dikelola dengan baik, ke depan bisa menjadi salah satu titik singgah yang mendukung okupansi hotel di Sleman," kata Andhu.

Namun, kondisi Kelok 23 saat ini masih menunjukkan persoalan berbeda. Warga lokal lebih banyak memanfaatkannya sebagai lokasi berkumpul, berswafoto, dan menikmati pemandangan.

Aktivitas tersebut kemudian memicu penumpukan kendaraan di sejumlah titik. Karena itu, menurut Andhu, aspek penataan lalu lintas dan keselamatan pengguna jalan perlu lebih dahulu menjadi perhatian.

Pengembangan Kelok 23 sebagai daya tarik wisata, menurut dia, dapat dilakukan setelah persoalan tersebut ditangani. Saat ini, Kelok 23 belum dapat dikategorikan sebagai daya tarik wisata yang memberikan dampak terhadap okupansi hotel di Sleman.

"Kelok 23 saat ini belum bisa dikategorikan sebagai daya tarik wisata yang berdampak pada okupansi hotel Sleman," katanya.

Kajian Dispar Sleman untuk periode 2027-2030 nantinya akan memetakan kemungkinan dampak pembukaan Kelok 23 melalui tiga skenario, dengan mempertimbangkan kunjungan wisatawan, okupansi hotel, lama tinggal, belanja wisatawan, PAD, serta faktor aksesibilitas yang tersedia.

Cek Berita dan Artikel yang lain di Harian Jogja, dan edisi cetak versi elektronik kami hadir di Epaper Harian Jogja.

Read Entire Article
Jogja News Jogja Politan Jogja Ball Jogja Otote Klik News Makassar news