PADANG, KLIKPOSITIF – Guru Besar Departemen Ekonomi Pembangunan Fakultas Ekonomi Universitas Andalas (Unand), Prof. Dr. Drs. Syafruddin Karimi, SE, MA mengatakan, harga minyak yang tinggi kembali menguji ketahanan ekonomi Indonesia. Persoalannya bukan hanya kenaikan inflasi, membengkaknya subsidi energi, atau pelebaran defisit migas. Risiko yang lebih penting muncul ketika kebutuhan devisa untuk membayar impor energi meningkat pada saat stabilitas eksternal semakin bergantung pada arus modal portofolio.
“Pada kuartal II 2026, defisit transaksi berjalan Indonesia melebar tajam. Tekanan ini menunjukkan bahwa kebutuhan devisa dari perdagangan meningkat. Pada saat yang sama, transaksi modal dan finansial justru menjadi penyangga utama neraca pembayaran. Artinya, tekanan yang datang dari perdagangan masih dapat ditutup oleh masuknya modal asing,” katanya melalui pesan singkat WhatsApp, Minggu siang, 13 September 2026.
Ia mengatakan, selama investor asing tetap membeli SBN, SRBI, saham, atau instrumen rupiah lainnya, rupiah dapat terlihat stabil meskipun fundamental eksternal memburuk. “Karena itu, kestabilan kurs tidak selalu berarti risiko mengecil. Bisa jadi tekanan pada transaksi berjalan masih tertutup oleh arus modal portofolio,” paparnya.
Menurutnya, disinilah titik lemahnya. Indonesia merupakan pengimpor bersih minyak. Ketika harga minyak bertahan tinggi, kebutuhan dolar meningkat, defisit migas melebar, dan transaksi berjalan semakin tertekan.
“Sementara itu, modal portofolio bergerak berdasarkan kalkulasi yang berbeda: yield, risiko kurs, arah suku bunga Amerika Serikat, inflasi, dan sentimen global,” terangnya.
Kedua arus devisa itu memiliki karakter yang sangat berbeda. Impor minyak menciptakan kebutuhan dolar yang sulit dikurangi dalam jangka pendek. Sebaliknya, hot money sangat mudah berpindah. Selama keduanya saling mengimbangi, tekanan masih dapat dikelola. Masalah muncul ketika keduanya bergerak ke arah yang sama.
“Jika minyak tetap mahal, defisit migas akan membesar. Jika pada saat bersamaan yield obligasi Amerika Serikat meningkat, aset dolar menjadi lebih menarik. Investor asing kemudian akan meminta kompensasi yang lebih tinggi untuk tetap memegang aset rupiah. Pada titik ini, shock minyak mulai berubah dari persoalan perdagangan menjadi persoalan pembiayaan,” tuturnya.
Minyak mahal Memperlebar Defisit Migas
Mekanismenya jelas. Minyak mahal memperlebar defisit migas, meningkatkan kebutuhan devisa, memperburuk transaksi berjalan, dan menaikkan kebutuhan pembiayaan eksternal. Agar modal asing tetap masuk, aset rupiah harus menawarkan imbal hasil yang menarik. Akibatnya, ruang penurunan suku bunga menyempit, biaya modal bertahan tinggi, investasi melambat, dan pertumbuhan ikut tertahan.
“Bank Indonesia (BI) kemudian menghadapi trade-off yang semakin berat. Jika suku bunga dipertahankan tinggi, stabilitas rupiah dan daya tarik aset domestik lebih terjaga, tetapi kredit dan investasi menanggung biaya lebih mahal. Jika suku bunga diturunkan terlalu cepat, selisih imbal hasil terhadap aset dolar menyempit dan risiko arus modal keluar meningkat,” jelasnya.
Syafruddin menuturkan, inflasi mempersempit pilihan tersebut. Tekanan energi yang bertahan lama dapat mendorong imported inflation dan mengurangi ruang pelonggaran moneter. Karena itu, oil shock tidak lagi hanya berkaitan dengan harga bahan bakar atau subsidi. Ia dapat menjalar ke pasar uang, obligasi, biaya kredit, investasi, dan pertumbuhan.
“Meski demikian, kondisi ini belum menunjukkan krisis. Cadangan devisa masih memberi bantalan, investasi langsung relatif lebih stabil, dan ekspor komoditas masih dapat membantu menahan tekanan. Karena itu, risiko harus dibaca secara proporsional. Yang penting bukan satu indikator, tetapi hubungan antara minyak, UST 10 tahun, arus modal asing, yield SBN, dan rupiah,” tuturnya.
Jika minyak tetap mahal tetapi modal asing terus masuk, Indonesia masih dapat membeli waktu. Jika harga minyak turun, tekanan berkurang. Risiko meningkat tajam jika minyak tetap mahal ketika arus modal mulai berbalik keluar. Pada saat itu, kebutuhan dolar dari perdagangan meningkat bersamaan dengan berkurangnya pasokan dolar dari pasar keuangan.
“Inilah risiko yang perlu mendapat perhatian. Hot money memang masih membantu menjaga stabilitas. Tetapi kebijakan ekonomi tidak boleh bergantung pada harapan bahwa modal itu akan selalu tinggal. Ketahanan eksternal yang sehat harus dibangun dari defisit migas yang lebih terkendali, kebutuhan energi impor yang lebih rendah, dan pembiayaan jangka panjang yang lebih stabil,” jelasnya.
Persoalan akhirnya bukan sekadar apakah harga minyak tetap tinggi. Pertanyaan yang lebih penting adalah berapa mahal Indonesia harus membayar untuk mempertahankan modal asing ketika kebutuhan dolar terus meningkat. Jika minyak mahal bertemu hot money yang mulai pergi, tekanan eksternal dapat dengan cepat berubah menjadi tekanan pada rupiah, suku bunga, investasi, dan pertumbuhan.

13 hours ago
3



















































