Foto ilustrasi yoghurt. / Freepik
Harianjogja.com, JAKARTA—Konsumsi yoghurt mulai dikaitkan dengan perubahan kondisi mental, setelah penelitian terbaru menemukan adanya pengaruh bakteri baik terhadap respons stres dan kecemasan.
Temuan ini menunjukkan bahwa kandungan probiotik dalam yoghurt berpotensi memengaruhi kimia otak, sehingga memberi dampak pada suasana hati dan kesehatan mental seseorang.
Penelitian yang dipublikasikan dalam jurnal Proceedings of the National Academy of Sciences mengungkap peran bakteri probiotik, khususnya Lactobacillus rhamnosus, dalam memengaruhi perilaku.
Dalam studi tersebut, ilmuwan di Irlandia menguji tikus yang diberi asupan probiotik. Hasilnya, tikus menunjukkan tingkat stres, kecemasan, dan gejala depresi yang lebih rendah dibandingkan kelompok yang tidak mendapatkan probiotik.
Selain itu, ditemukan adanya perubahan pada hormon kortikosteron, yang dikenal sebagai hormon stres. Kadar hormon ini menurun secara signifikan pada kelompok yang menerima probiotik.
Profesor John Cryan dari University College Cork menjelaskan bahwa bakteri dalam usus memiliki hubungan langsung dengan fungsi otak.
“Dengan pengaruh dari bakteri usus, kami dapat memengaruhi kimiawi otak dan perilaku,” ujarnya seperti dikutip dari Daily Mail, Sabtu (28/3/2026).
Ia juga menilai temuan ini membuka peluang pendekatan baru dalam penanganan gangguan mental dengan fokus pada kesehatan usus.
Meski demikian, ia menegaskan bahwa yoghurt tidak bisa dijadikan satu-satunya solusi untuk mengatasi depresi. Efektivitasnya sangat bergantung pada jenis dan kandungan probiotik yang dikonsumsi.
Penelitian ini sekaligus memperkuat pandangan bahwa pola makan sehari-hari, termasuk konsumsi makanan fermentasi, memiliki kaitan erat dengan kesehatan mental.
Cek Berita dan Artikel yang lain di Harian Jogja, dan edisi cetak versi elektronik kami hadir di Epaper Harian Jogja.
Sumber : Dailay Mail

5 hours ago
3
















































