Harianjogja.com, BANTUL— Koperasi Jasa Wisata Mina Bahari 45 berhasil mengubah wajah Kampung Nelayan Pantai Depok di Kalurahan Parangtritis, Kapanewon Kretek, Kabupaten Bantul. Kawasan yang dahulu identik dengan kemiskinan kini berkembang menjadi salah satu pusat wisata kuliner laut di Daerah Istimewa Yogyakarta (DIY) dengan ekonomi yang tumbuh di tangan masyarakat lokal.
Pagi di Pantai Depok kini diwarnai aktivitas nelayan yang merapat membawa hasil tangkapan, wisatawan yang berdatangan, hingga pedagang ikan dan pelaku usaha kuliner yang mulai melayani pengunjung. Perubahan tersebut merupakan hasil perjalanan panjang sejak koperasi berdiri pada tahun 2000.
Ketua Koperasi Jasa Wisata Mina Bahari 45, Kuswidodo, mengatakan koperasi dibangun bukan sekadar sebagai lembaga simpan pinjam, tetapi menjadi alat untuk memastikan ekonomi Pantai Depok tetap dimiliki masyarakat setempat.
"Kami terus terang tertutup untuk investor dari luar. Kami ingin memberdayakan anggota kami sendiri, UMKM yang ada di sini. Kalau bekerja sama dengan investor memang bisa menjadi lebih mewah, tetapi yang memiliki mereka. Anggota kami nanti justru tersingkirkan," katanya, Selasa (21/7/2026).
Menurut Kuswidodo, pilihan tersebut membuat perkembangan Pantai Depok berjalan lebih lambat dibanding kawasan wisata lainnya. Namun, pertumbuhan yang terjadi dinilai lebih sehat karena manfaat ekonominya kembali kepada warga.
"Kami berkembang pelan tapi pasti. Dari, oleh, dan untuk anggota," ujarnya.
Sebelum koperasi berdiri, sebagian besar warga Pantai Depok menggantungkan hidup sebagai nelayan dan petani lahan pasir. Hasil laut yang melimpah belum mampu meningkatkan kesejahteraan masyarakat. Nelayan bergantung kepada tengkulak, pedagang kesulitan memperoleh modal, dan ibu rumah tangga belum memiliki sumber penghasilan sendiri.
Awalnya, koperasi hanya memiliki sekitar 40 anggota yang terdiri atas nelayan dan warga sekitar. Kini jumlah anggotanya mendekati 900 orang.
Memutus Ketergantungan Nelayan kepada Tengkulak
Kuswidodo masih mengingat kehidupan nelayan sebelum adanya koperasi. Saat musim ikan melimpah, hasil tangkapan meningkat. Namun, ketika musim paceklik datang, nelayan terpaksa meminjam uang kepada tengkulak sehingga hasil tangkapannya harus dijual dengan harga murah kepada pemberi pinjaman.
Melalui koperasi, kebutuhan modal perlahan dialihkan ke layanan simpan pinjam dengan bunga yang jauh lebih ringan. Nelayan juga didorong untuk membiasakan menabung dan mengelola keuangan keluarga.
"Kami ingin menghilangkan pola hidup itu. Saat panen jangan dihabiskan, tetapi bisa menabung dan investasi supaya ketika paceklik tetap punya pegangan," katanya.
Perubahan tersebut juga menyasar keluarga nelayan. Istri-istri nelayan didorong membuka warung makan, menjual gorengan, hingga mengembangkan usaha kuliner sehingga pendapatan keluarga tidak hanya bergantung pada hasil melaut.
"Kalau dulu rumah-rumah warga sederhana. Sekarang banyak yang sudah punya mobil. Warung makan mempekerjakan saudara-saudaranya sendiri. Jadi satu usaha bisa memberdayakan satu keluarga besar," ujarnya.
Seiring berkembangnya koperasi, unit usaha yang dikelola Koperasi Jasa Wisata Mina Bahari 45 terus bertambah. Saat ini, koperasi mengelola tempat pelelangan ikan (TPI), pasar ikan, unit parkir, kolam renang edukasi, ruang pertemuan dua lantai, pabrik es, unit pengolahan ikan (UPI), serta layanan simpan pinjam konvensional dan syariah.
Kolam renang yang awalnya dibangun sebagai alternatif wisata aman bagi pengunjung yang tidak dapat berenang di laut kini dimanfaatkan sebagai lokasi latihan renang pelajar dari berbagai sekolah. Sementara itu, ruang pertemuan milik koperasi digunakan untuk berbagai pelatihan instansi pemerintah.
Seluruh unit usaha tersebut dikelola oleh anggota koperasi.
"Pegawai kami semuanya anggota. Parkir saja saat akhir pekan bisa menyerap sekitar 30 orang. Mereka kami gaji. Jadi koperasi memang memberdayakan anggotanya sendiri," katanya.
Inovasi terbaru koperasi hadir melalui Unit Pengolahan Ikan (UPI) yang mulai beroperasi pada 2021. Melalui unit tersebut, hasil tangkapan nelayan tidak lagi hanya dijual dalam kondisi segar, tetapi juga diolah menjadi produk ikan kaleng dengan berbagai varian, seperti barakuda, cumi, cucut, lele, hingga udang.
Produk tersebut mampu bertahan hingga satu tahun tanpa bahan pengawet karena menggunakan teknologi sterilisasi.
"Kami ingin hasil tangkapan nelayan memiliki nilai tambah. Tidak hanya dijual mentah, tetapi bisa menjadi produk olahan," ujarnya.
Saat ini, produksi masih terbatas sekitar 500 kaleng per bulan yang sebagian besar digunakan untuk memenuhi pesanan program Dinas Kelautan dan Perikanan DIY. Keterbatasan produksi lebih disebabkan oleh proses perizinan dan pemasaran, bukan ketersediaan bahan baku.
Meski demikian, produk Mina Bahari telah beberapa kali dibawa ke luar negeri sebagai oleh-oleh dan menarik perhatian sejumlah negara saat kunjungan studi banding.
Koperasi tersebut juga telah menerima kunjungan dari berbagai daerah di Indonesia serta memperoleh kesempatan berbagi pengalaman di Maluku Tenggara, Senegal, Peru, dan Shanghai, China.
Perubahan yang dihadirkan koperasi turut dirasakan Darmiati, pedagang ikan di Pasar Ikan Pantai Depok. Perempuan yang menjadi anggota koperasi sejak 2006 itu memulai usahanya melalui pinjaman modal sebesar Rp1 juta.
"Saya pinjam uang buat modal usaha ikan. Dulu sebelumnya jualan makanan ringan di pasar, lalu pindah jualan ikan," katanya.
Pinjaman tersebut digunakan untuk membeli timbangan, ember, dan berbagai perlengkapan usaha lainnya.
Menurut Darmiati, bunga pinjaman yang rendah sangat membantu anggota dalam mengembangkan usaha.
"Bunganya kecil. Modal ikan itu banyak yang sistemnya saling percaya dengan pemasok, jadi pinjaman koperasi sangat membantu untuk alat-alat usaha," ujarnya.
Kini, kios ikannya telah bertahan selama 20 tahun di Pasar Ikan Pantai Depok dan menjadi sumber penghidupan bagi dirinya serta keluarga.
Bagi Kuswidodo, keberhasilan koperasi tidak hanya diukur dari besarnya laba yang diperoleh. Ia justru bangga karena masyarakat lokal Pantai Depok kini terlibat dalam hampir seluruh lini bisnis di kawasan wisata tersebut.
Di bawah koperasi, masyarakat lokal turut mengatur standar harga parkir, harga kuliner, serta menjaga kebersihan kawasan demi memberikan pengalaman terbaik bagi wisatawan.
Kuswidodo mengaku sempat menerima tawaran investasi dari pihak lain. Namun, tawaran tersebut ditolak. Bahkan, koperasi memilih tidak membuka ruang bagi pembangunan hotel maupun penginapan di kawasan Pantai Depok.
"Kami ingin mempertahankan citra Depok sebagai wisata kuliner, wisata alam, dan wisata edukasi. Jangan sampai masyarakat lokal malah tersingkir," katanya.
Ke depan, Koperasi Jasa Wisata Mina Bahari 45 tengah menyiapkan pengembangan pusat oleh-oleh berbasis olahan ikan, perluasan industri pengalengan, serta pembangunan stasiun pengisian bahan bakar bagi nelayan.
Semangat yang dijalankan Mina Bahari 45 sejalan dengan tema Hari Koperasi Nasional ke-79 Tahun 2026, yakni "Koperasi Berdaya, Indonesia Berjaya."
Dalam puncak peringatan Hari Koperasi Nasional, Presiden Prabowo Subianto menegaskan koperasi merupakan bagian penting dalam perjuangan membangun kesejahteraan rakyat.
"Hari Koperasi Nasional ke-79 ini menjadi momentum bangkitnya gerakan koperasi di Indonesia. Kita yakin di bawah kepemimpinan Presiden, koperasi akan menjadi salah satu pilar utama penggerak rakyat Indonesia," ujarnya.
Cek Berita dan Artikel yang lain di Harian Jogja, dan edisi cetak versi elektronik kami hadir di Epaper Harian Jogja.

3 hours ago
1

















































