Korban Scam di ASEAN Naik Jadi 45%, Ekonomi Digital Dibidik

1 hour ago 5

Korban Scam di ASEAN Naik Jadi 45%, Ekonomi Digital Dibidik

Online Scam - Ilustrasi Freepik

Harianjogja.com, JAKARTA—Persoalan kepercayaan digital menjadi tantangan di tengah pesatnya pertumbuhan ekonomi digital Asia Pasifik. Laporan terbaru GSMA, Mobile Economy Asia Pacific 2026, mencatat persentase konsumen di ASEAN yang mengaku pernah menjadi korban penipuan meningkat dari 31% pada 2024 menjadi 45% pada 2025.

Kenaikan kasus penipuan online tersebut terjadi ketika teknologi dan layanan seluler diproyeksikan memberikan kontribusi ekonomi yang semakin besar. GSMA memperkirakan kontribusi industri seluler terhadap perekonomian Asia Pasifik mencapai US$1,4 triliun pada 2030.

Nilai tersebut meningkat sekitar 40% dibandingkan kontribusi saat ini yang mencapai US$1 triliun. Karena itu, pertumbuhan ekonomi digital kawasan tidak lagi hanya bergantung pada perluasan konektivitas, tetapi juga kemampuan membangun ekosistem digital yang aman dan tepercaya.

Industri Seluler Hadapi Tantangan Keamanan Digital

Head of Asia Pacific GSMA Julian Gorman mengatakan jaringan seluler kini menjadi fondasi bagi adopsi kecerdasan buatan (AI), penguatan kepercayaan digital, hingga pembangunan infrastruktur digital yang tangguh.

“Industri seluler memainkan peran yang semakin krusial dalam membentuk masa depan digital Asia Pasifik,” kata Julian, dikutip dalam laporan tersebut.

Menurut Julian, meningkatnya perhatian pemerintah terhadap kedaulatan digital serta tuntutan masyarakat atas perlindungan dari penipuan dan ancaman siber turut memperbesar tanggung jawab industri seluler.

Dengan kondisi tersebut, perluasan layanan digital berjalan beriringan dengan kebutuhan meningkatkan keamanan dan kepercayaan pengguna.

5G dan AI Jadi Motor Pertumbuhan

Di sisi lain, GSMA melihat peluang pertumbuhan ekonomi yang besar melalui penerapan teknologi seluler generasi lanjut. 5G, AI, dan Internet of Things (IoT) dinilai berpotensi meningkatkan produktivitas secara signifikan, terutama pada sektor manufaktur dan jasa.

Kedua sektor tersebut diperkirakan menyumbang lebih dari separuh manfaat ekonomi yang berasal dari teknologi seluler canggih.

Peran operator seluler juga mulai mengalami perubahan. Mereka tidak lagi hanya berperan sebagai penyedia konektivitas, tetapi juga bergerak menjadi penyedia infrastruktur AI, layanan cloud, hingga solusi korporasi untuk mendukung transformasi digital.

GSMA memproyeksikan jumlah koneksi 5G di Asia Pasifik mencapai 1,5 miliar pada 2030. Jumlah tersebut setara dengan 50% dari seluruh koneksi seluler di kawasan.

Untuk mendukung ekspansi tersebut, operator diperkirakan menggelontorkan belanja modal lebih dari US$200 miliar sepanjang 2025–2030.

Sementara itu, ekosistem seluler telah menyokong sekitar 18 juta lapangan kerja di Asia Pasifik pada 2025.

700 Juta Orang Dewasa Belum Terhubung Internet

Pertumbuhan teknologi seluler masih dihadapkan pada persoalan inklusi digital. Lebih dari 700 juta orang dewasa di Asia Pasifik masih belum terhubung ke internet, meskipun wilayah tempat tinggal mereka telah tercakup jaringan pita lebar seluler.

Kondisi tersebut menunjukkan bahwa ketersediaan jaringan belum otomatis membuat seluruh masyarakat dapat menikmati manfaat ekonomi digital. Persoalan akses dan pemanfaatan teknologi tetap menjadi bagian dari tantangan transformasi digital kawasan.

Kedaulatan Digital Makin Jadi Prioritas

Selain keamanan digital, GSMA mencatat kedaulatan digital semakin menjadi prioritas pemerintah di Asia Pasifik.

Pemerintah dan industri mulai meningkatkan investasi pada infrastruktur AI lokal, layanan cloud tepercaya, lingkungan data yang aman, serta kapabilitas digital untuk mendukung kebutuhan nasional.

Ketahanan infrastruktur digital juga bergeser dari isu teknis menjadi prioritas strategis. Gangguan akibat perubahan iklim, ketegangan geopolitik, risiko rantai pasok, serta ketergantungan terhadap layanan digital membuat keandalan jaringan semakin penting.

Berbagai persoalan tersebut akan menjadi pembahasan dalam M360 ASEAN 2026 yang digelar di Kuala Lumpur pada 9–10 September 2026.

Forum tersebut akan mempertemukan pembuat kebijakan, regulator, operator seluler, perusahaan teknologi, dan organisasi internasional. Pembahasannya mencakup penguatan kepercayaan digital, pertumbuhan berbasis AI, kedaulatan digital, ketahanan jaringan, dan inklusi digital.

Cek Berita dan Artikel yang lain di Harian Jogja, dan edisi cetak versi elektronik kami hadir di Epaper Harian Jogja.

Sumber : Bisnis.com

Read Entire Article
Jogja News Jogja Politan Jogja Ball Jogja Otote Klik News Makassar news