
Suasana aktivitas di Pasar Hewan, Pengasih, Kulonprogo menjelang hari raya Iduladha mulai bergeliat. Sejumlah pedagang dan peternak berdatangan termasuk juga pembeli untuk keperluan Iduladha belum lama ini. /Harian Jogja-Khairul Ma'arif.
Harianjogja.com, KULONPROGO—Dinas Pertanian dan Pangan (Dispertapang) Kabupaten Kulonprogo memperketat pengawasan kesehatan hewan kurban menjelang Iduladha 2026. Langkah tersebut dilakukan untuk memastikan sapi dan ternak yang diperjualbelikan dalam kondisi sehat, aman, serta layak konsumsi.
Pemantauan hewan kurban di Kulonprogo telah dilakukan sejak awal April 2026 atau setelah Hari Raya Idulfitri. Memasuki Mei 2026, arus masuk ternak dari luar daerah disebut terus meningkat seiring tingginya kebutuhan masyarakat menjelang Iduladha.
Kepala Bidang Kesehatan Hewan Dispertapang Kulonprogo, Yuriati, mengatakan pengawasan difokuskan pada sejumlah titik penampungan ternak dan lokasi pedagang hewan kurban yang tersebar di berbagai wilayah Kulonprogo.
"Untuk Mei ini sudah semakin banyak sapi yang masuk. Kami memantau beberapa titik penampungan besar seperti di wilayah Lendah, Panjatan, Nanggulan, hingga Samigaluh, serta pedagang-pedagang yang tersebar di seluruh Kulonprogo," ujar Yuriati kepada wartawan, Senin (11/5/2026).
Di tengah meningkatnya mobilitas ternak, Dispertapang Kulonprogo memastikan kondisi kesehatan hewan kurban sejauh ini masih terkendali. Berdasarkan data hingga Mei 2026, Kulonprogo tercatat nol kasus Penyakit Mulut dan Kuku (PMK).
"Alhamdulillah, sampai Mei ini kasus PMK kita masih nol. Terakhir tercatat pada Januari 2026 sebanyak 91 kasus, dan semuanya berhasil disembuhkan," terangnya.
Meski demikian, Dispertapang tetap meminta peternak dan pedagang hewan kurban meningkatkan kewaspadaan terhadap berbagai Penyakit Hewan Menular (PHM). Selain PMK, ancaman antraks menjadi perhatian karena Kulonprogo pernah memiliki riwayat kasus penyakit tersebut.
Penyakit Lumpy Skin Disease (LSD) atau yang dikenal masyarakat dengan sebutan penyakit lato-lato pada sapi juga masih menjadi fokus pengawasan menjelang Iduladha tahun ini.
Selain penyakit menular, Yuriati mengungkapkan pihaknya juga menemukan kasus cacing hati atau Fasciola hepatica pada sejumlah ternak. Menurut dia, infeksi cacing hati cukup umum ditemukan di daerah tropis dan sering tidak menunjukkan gejala yang terlihat secara langsung.
Ia menjelaskan hewan yang terinfeksi cacing hati terkadang tetap tampak sehat dan gemuk karena kemampuan regenerasi organ hati yang cukup kuat. Kerusakan biasanya baru diketahui setelah proses penyembelihan dan pemeriksaan organ dalam dilakukan.
"Cacing hati memang sulit dihindari di daerah tropis. Kerusakannya sering kali baru diketahui setelah hewan disembelih dan organ hatinya diperiksa. Jika terinfeksi, bagian hati tersebut harus di-afkir atau dibuang karena tidak layak dan tidak etis untuk dikonsumsi," jelasnya.
Yuriati menambahkan masyarakat tidak perlu panik berlebihan karena jenis cacing hati yang ditemukan di Indonesia berbeda dengan yang ada di wilayah subtropis.
"Perlu diketahui bahwa cacing hati di daerah kita bukan jenis yang bisa menular ke manusia. Namun, secara kualitas pangan, hati yang rusak tetap tidak boleh dikonsumsi," pungkas Yuriati.
Cek Berita dan Artikel yang lain di Harian Jogja, dan edisi cetak versi elektronik kami hadir di Epaper Harian Jogja.
Sunartono Jurnalis Harian Jogja, bagian dari Bisnis Indonesia Group menulis untuk media cetak dan online

2 hours ago
2

















































