Wakil Menteri Kependudukan dan Pembangunan Keluarga (Wamen Dukbangga) Ratu Ayu Isyana Bagoes Oka, (Dok: Sinta KabarMakassar).KabarMakassar.com — Wakil Menteri Kependudukan dan Pembangunan Keluarga (Wamen Dukbangga) Ratu Ayu Isyana Bagoes Oka, mengingatkan bahaya pergeseran pola pengasuhan anak di era digital, di mana gawai berpotensi menjadi ‘orang tua kedua’ dalam keluarga.
Peringatan itu disampaikan saat melakukan peninjauan Kampung Keluarga Berkualitas di Kelurahan Manggala, Kota Makassar, Jumat (30/01).
Isyana menegaskan bahwa tanggung jawab pengasuhan tidak bisa hanya dibebankan kepada ibu. Peran ayah dinilai krusial untuk pertumbuhan, terutama dalam membangun komunikasi dan kedekatan emosional dengan anak.
“Kalau kita bicara keluarga, pola pengasuhan tidak bisa hanya diberikan kepada ibu. Ayah juga harus hadir dan tahu bagaimana berkomunikasi dengan anak,” kata Isyana dalam kunjungannya.
Ia menyebut, tantangan keluarga saat ini adalah munculnya ‘keluarga baru’ yang tanpa disadari menggeser peran orang tua.
“Keluarga baru itu apa? Handphone. Sekarang banyak orang berkomunikasi lewat HP, sehingga kelekatan anak yang seharusnya ke orang tua, perlahan berpindah ke gadget,” ujarnya.
Menurut Isyana, kondisi tersebut akan semakin berisiko jika orang tua tidak terus belajar dan beradaptasi dengan perubahan zaman.
Lebih lanjut, Isyana juga mengapresiasi dukungan Pemerintah Kota Makassar terhadap penguatan Kampung Keluarga Berkualitas. Ia menegaskan, Kampung KB bukan sekadar program keluarga berencana, melainkan upaya meningkatkan kualitas keluarga secara menyeluruh.
“Kampung KB itu Kampung Keluarga Berkualitas. Fokusnya adalah meningkatkan kualitas keluarga, karena semua program pembangunan itu dimulai dari keluarga,” tegasnya.
Ia menyebut penguatan keluarga sejalan dengan visi Presiden Republik Indonesia (RI) Prabowo Subianto dan Wakil Presiden Gibran Rakabuming Raka dalam Asta Cita, khususnya peningkatan kualitas sumber daya manusia menuju Generasi Emas 2045.
Isyana menambahkan, waktu menuju 2045 semakin singkat sehingga intervensi harus dilakukan sejak sekarang, termasuk melalui pencegahan stunting sejak 1.000 Hari Pertama Kehidupan (HPK).
“Kalau masih ada stunting, akan sulit mewujudkan sumber daya manusia unggul. Karena itu, intervensi harus dimulai sejak ibu hamil, bukan menunggu anak lahir,” paparnya.
Ia juga menyoroti dukungan program Makan Bergizi Gratis (MBG) yang tidak hanya menyasar anak usia sekolah, tetapi juga ibu hamil, ibu menyusui, dan balita non-PAUD sebagai bagian dari upaya pencegahan stunting.
Isyana juga mengapresiasi peran kader sebagai ujung tombak pelaksanaan program keluarga dan kependudukan, serta mendorong penguatan berbagai program nasional, termasuk Gerakan Ayah Teladan Indonesia, sebagai upaya menegaskan kembali peran ayah dalam pengasuhan anak di tengah tantangan era digital.


















































