Lansia yang Berjalan Cepat Berisiko Lebih Rendah Mengalami Penurunan Fungsi Kognitif

2 hours ago 1

Spanduk Dealer Program Juli Honda 300 x 50 cm

KLIKPOSITIF – Lansia yang tetap mempertahankan kecepatan berjalan secara alami hingga usia 80 tahun ke atas berpotensi memiliki kesehatan otak yang lebih baik. Hal itu terungkap dalam sebuah penelitian yang dipublikasikan di jurnal Neurology pada 14 Juli 2026.

Dalam penelitian tersebut, para peneliti menganalisis data dari lima studi besar mengenai penuaan yang melibatkan hampir 4.000 lansia dengan rata-rata usia sekitar 84 tahun. Selain itu, penelitian juga mencakup dua studi kecil yang melibatkan peserta berusia 80 tahun ke atas melalui pemindaian otak maupun analisis jaringan otak setelah meninggal dunia.

Peneliti kemudian mengelompokkan peserta yang memiliki kecepatan berjalan lebih cepat dibandingkan sekitar 93 persen peserta lainnya dalam uji jalan terukur. Kelompok ini disebut sebagai “super-movers”.

Hasil penelitian menunjukkan kelompok super-movers memiliki risiko sekitar 50 persen lebih rendah mengalami gangguan fungsi kognitif selama masa pemantauan yang berlangsung antara 3,4 hingga 5,4 tahun dibandingkan peserta dengan kecepatan berjalan lebih lambat.

Selain itu, kelompok tersebut juga tercatat memiliki kemungkinan 60 persen lebih rendah didiagnosis menderita penyakit Alzheimer atau jenis demensia lainnya. Kemampuan mengingat, kecepatan memproses informasi, serta fleksibilitas berpikir mereka juga mengalami penurunan yang lebih lambat dibandingkan kelompok lain.

Hasil pemindaian otak menunjukkan bahwa para super-movers cenderung memiliki ukuran hipokampus yang lebih besar. Hipokampus merupakan bagian otak yang berperan penting dalam pembentukan memori dan proses belajar.

Baca Juga

Menariknya, analisis jaringan otak setelah kematian menunjukkan bahwa jumlah perubahan otak yang berkaitan dengan penyakit Alzheimer pada kelompok super-movers tidak berbeda dengan kelompok yang berjalan lebih lambat. Temuan ini mengindikasikan bahwa meskipun perubahan biologis akibat Alzheimer tetap terjadi, kelompok super-movers kemungkinan memiliki daya tahan otak (brain resilience) yang lebih baik sehingga mampu mempertahankan fungsi kognitif lebih lama.

Meski demikian, para peneliti menegaskan bahwa hasil penelitian ini belum dapat membuktikan hubungan sebab akibat antara berjalan cepat dan kesehatan otak. Namun, temuan tersebut memperkuat sejumlah penelitian sebelumnya yang menunjukkan adanya kaitan antara kebugaran fisik dan kemampuan kognitif pada usia lanjut.

Para peneliti menyimpulkan bahwa menjaga aktivitas fisik, termasuk mempertahankan kebiasaan berjalan dengan langkah yang lebih cepat sesuai kemampuan, dapat menjadi salah satu strategi untuk mendukung kesehatan otak dan kualitas hidup pada masa lanjut usia.

Read Entire Article
Jogja News Jogja Politan Jogja Ball Jogja Otote Klik News Makassar news