Pengolahan sampah dengan menggunakan insinerator di SMPN 5 Jogja Harian Jogja - Alfi Annissa Karin
Harianjogja.com, JOGJA – Pemkot Jogja mendorong tiap satuan pendidikan untuk mampu mengolah sampah secara mandiri. Dorongan ini lantas disambut baik oleh jajaran SMPN 5 Jogja.
Sekolah yang juga kerap disebut Pawitikra ini bahkan sudah gencar melakukan pengolahan sampah mandiri selama dua tahun terakhir. Pengolahan sampah dilakukan dengan mengoptimalkan peran sumber daya manusia dan memanfaatkan teknologi berupa mesin pembakar sampah.
BACA JUGA: Program Wali Kota, Hasto Wardoyo Tancap Gas Tangani Sampah
Wakil Kepala SMPN 5 Jogja Waldi mengatakan optimalisasi sumber daya manusia diwujudkan dengan keberadaan inovasi Zero Trash Pawitikra (Zetra). Zetra diambil dari perwakilan siswa masing-masing kelas. Mereka bertanggung jawab atas pemilahan sampah yang ada di tiap kelas.
Waldi menjelaskan setiap Jumat siang, siswa melalui perwakilan Zetra ini akan melakukan pengumpulan sampah. Sampah yang dikumpulkan sudah dalam kondisi terpilah. Sampah selanjutnya diserahkan kepada tim pengelolaan sampah sekolah yang terdiri dari guru, karyawan, hingga kepala sekolah.
“Anak-anak kelas memilah sampah dengan dibantu Zetra. Mereka wakil, di semua kelas ada. Bertanggung jawab terhadap kondisi pemilahan sampah di kelasnya masing-masing, mereka juga kami beri apresiasi meski tidak seberapa,” ujar Waldi saat ditemui di SMPN 5 Jogja, Rabu (26/2/2025).
Waldi menyebut sampah akan dipilah sesuai dengan jenisnya. Sampah anorganik yang masih punya nilai jual akan dikumpulkan dalam trash bag. Kini setidaknya sudah ada belasan kantong trash bag berisi sampah anorganik yang siap untuk diangkut dan dijual.
Hasil penjualan akan kembali dikelola oleh perwakilan Zetra. Sementara, sampah yang tak bisa diolah akan dibakar menggunakan insinerator. Waldi menuturkan SMPN 5 Jogja melakukan pengadaan insinerator secara mandiri. Kapasitas pembakaran mencapai 70 kilogram. Insinerator tak dioperasikan setiap hari. Sebab, untuk mengumpulkan sampah residu hingga 70 kilogram membutuhkan waktu yang lama.
“Satu minggu biasanya tidak sampai 50 kilogram karena sampah yang dibakar hanya sampah residu saja,” imbuhnya.
Sampah yang sudah dibakar di insinerator akan berubah menjadi arang. Arang yang dihasilkan mencapai 10 persen dari total kapasitas pembakaran yang kemudian akan diolah kembali menjadi bricket.
Kepala SMPN 5 Jogja Siti Arina Budiastuti menyebut bricket arang hasil pembakaran sampah itu nantinya akan dijual kembali. Dia memastikan seluruh warga sekolah sudah turut aktif dalam upaya pengelolaan sampah.
“Kami sudah tahun kedua pengelolaan sampah. Zetra jadi garda terdepan kami. Penghargaan kami berikan kepada yang betul-betul berperan di sekolah. Namun, pemilahan sampah juga dilakukan oleh seluruh siswa dan disetorkan kepada tim pengelola sampah sekolah yang terdiri dari guru, karyawan, dan kepala sekolah,” ungkapnya.
Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News