Jumali Jum'at, 15 Mei 2026 13:47 WIB
Harianjogja.com, JOGJA— Masa depan Maserati kini menjadi sorotan setelah muncul kabar bahwa pabrikan mobil mewah asal Italia tersebut tengah berada dalam tekanan besar akibat penurunan penjualan global dan mahalnya biaya pengembangan kendaraan listrik.
Induk perusahaan Maserati, Stellantis, dikabarkan sedang menjajaki kerja sama pengembangan kendaraan energi baru bersama Huawei dan JAC Motors.
Menurut laporan Carscoops, pola kolaborasi yang dibahas disebut akan menggunakan model Harmony Intelligent Mobility Alliance (HIMA), sebuah skema kerja sama yang selama ini identik dengan pengembangan mobil pintar berbasis teknologi Huawei.
Dalam skema tersebut, Huawei disebut akan menangani teknologi inti kendaraan, mulai dari perangkat lunak hingga sistem bantuan pengemudi canggih.
Sementara itu, JAC Motors akan bertanggung jawab pada proses produksi kendaraan.
Maserati sendiri disebut hanya akan berperan dalam desain eksterior dan interior kendaraan untuk menjaga identitas visual khas Italia.
Rumor yang paling mengejutkan adalah soal branding kendaraan. Untuk pasar Tiongkok, mobil hasil kolaborasi itu dikabarkan akan menggunakan merek Maextro, sedangkan nama Maserati baru digunakan untuk pasar internasional.
Kabar tersebut langsung memicu perdebatan di kalangan penggemar otomotif, terutama pecinta mobil Eropa yang selama ini menganggap Maserati sebagai simbol kemewahan dan karakter khas Italia.
Langkah pragmatis Stellantis dinilai tidak lepas dari kondisi bisnis Maserati yang terus melemah dalam beberapa tahun terakhir.
Pada 2025, penjualan global Maserati tercatat hanya mencapai 11.127 unit. Angka tersebut turun drastis hingga 58% dibanding tahun sebelumnya.
Penurunan itu sangat kontras dibanding masa kejayaan Maserati pada 2017 ketika penjualan globalnya sempat menembus 49.000 unit.
Tekanan paling besar dirasakan Maserati di pasar Tiongkok yang merupakan pasar otomotif terbesar dunia.
Pada 2017, Maserati masih mampu menjual lebih dari 14.000 unit kendaraan di Tiongkok. Namun pada 2025, angka penjualannya disebut hanya mendekati 1.000 unit.
Perubahan tren pasar menjadi salah satu penyebab utama. Konsumen di Tiongkok kini lebih banyak memilih mobil listrik lokal yang dianggap lebih modern, canggih, dan memiliki harga lebih kompetitif.
Jika kerja sama tersebut benar-benar terwujud, dampaknya bisa terasa langsung bagi pasar otomotif global, termasuk Indonesia.
Penggunaan platform dan teknologi asal Tiongkok dinilai dapat menekan biaya produksi mobil listrik Maserati sehingga harga jualnya berpotensi lebih terjangkau dibanding model sebelumnya.
Namun di sisi lain, banyak pihak khawatir identitas khas Maserati justru semakin memudar karena teknologi utama kendaraan berasal dari luar Italia.
Bagi kolektor dan penggemar setia Maserati, nilai historis, karakter mesin, hingga nuansa seni otomotif Italia selama ini menjadi daya tarik utama yang sulit digantikan.
Karena itu, penggunaan sistem operasi dan teknologi dari Huawei disebut dapat memunculkan pertanyaan besar soal keaslian identitas Maserati di masa depan.
Meski hingga kini belum ada pengumuman resmi dari Stellantis maupun Maserati, rumor kolaborasi tersebut menunjukkan tekanan besar yang sedang dihadapi industri otomotif Eropa di era transisi kendaraan listrik.
Cek Berita dan Artikel yang lain di Harian Jogja, dan edisi cetak versi elektronik kami hadir di Epaper Harian Jogja.
Jumali Jurnalis Harian Jogja, bagian dari Bisnis Indonesia Group menulis untuk media cetak dan online

2 hours ago
4

















































