MEJA MAKAN

2 days ago 11

Spanduk Dealer Program Juli Honda 300 x 50 cm

Ibu selalu menyimpan dukanya di kaca lemari yang pecah, di langit-langit kamar yang bocor, di dinding-dinding yang terkelupas, dan di pintu kayu yang hampir roboh dimakan rayap. Rumah kami berdiri seperti tubuh yang dipaksa hidup. Retak, tapi tak diizinkan runtuh.

Ibu pernah berkata kepadaku, menjadi perempuan berarti menjadi makhluk Tuhan paling tegar. Aku tak tahu sejak kapan kalimat itu berubah menjadi semacam sumpah sunyi yang ia genggam sendirian.

***

Ibu adalah perempuan yang tabah dan kuat yang aku kenal. Pada bola matanya yang tegas, aku belajar memaknai hidup. Tangannya penuh bekas luka, sayatan bambu, goresan kawat, panas setrika, dan lebam pukulan Bapak, semuanya bercerita bahwa ia rela menukar apa saja demi aku. Bahkan mungkin nyawanya.

“Ndhuuk, sudah makan?” suara Ibu membuyarkan lamunanku.

Aku diam sejenak, lalu balik bertanya, “Ibu sampun dhahar?” Aku tahu jawabannya hampir selalu “sudah”.

Maka sebelum ia menjawab, aku menimpali, “Yuk, Bu, maem bareng aku.”

Di tengah rumah, meja makan berdiri seperti poros kecil kehidupan kami. Kayunya tua dan kusam. Salah satu kakinya diganjal batu agar tidak goyah. Setiap sore, sebelum senja benar-benar jatuh, ibu selalu mengelap permukaannya perlahan, seakan sedang merawat sesuatu yang mudah pecah. Di atasnya, selalu ada tiga piring yang disusun rapi setiap malam, untuk Bapak, Ibu, dan aku. Meja itu saksi bisu: doa yang tak pernah benar-benar khusyuk, amarah yang disuapkan bersama nasi, dan diam yang lebih nyaring dari teriakan.

“Ris, tadi sekolahe gimana?”

“Aman Bu. Minggu depan aku insyaallah jadi lanjut ke olimpiade provinsi. Doain ya, Bu.”

“Alhamdulillah. Pasti ndhuk. Semangat yo, Ris. Ibu belum bisa kasih apa apa. Ibu hanya bisa kasih doa terbaik untuk anak Ibu. Oya ndhuk, tadi Ibu-

Brakkk!

Sebelum Ibu melanjutkan kalimatnya yang menggantung, pintu depan dihantam keras.

Angin malam masuk bersama bau menyengat campuran alkohol, jamu pahit, dan susu basi yang menguar dari napas Bapak. Bau itu khas, bau lapen, minuman oplosan murah yang orang-orang kampung bilang membuat ‘langsung pening’. Bapak sering membeli lapen dalam plastik kecil dari warung remang, lalu menenggaknya seperti air biasa sepulang judi.

Bapak berdiri di ambang pintu.

Di balik tubuhnya yang tambun, terlihat perutnya menggantung di balik kaus lusuh. Matanya merah dan berat, sementara langkahnya sempoyongan.

Seekor kucing liar yang tidur di dekat sandal meloncat kaget. Bapak menendangnya hingga mengenai ember.

“Wis dikandani kok yo. Dasar kucing edan! Masak opo kowe ni?”

Ibu beranjak dari meja makan. Lantas menuju kamar untuk merapikan kasur agar Bapak tak banyak mengoceh dan langsung tidur. Selebihnya, hanya suara ketukan sendok di piringku yang semakin beradu. Hening dan canggung.

Malam-malam seperti itu selalu datang tanpa perlu diundang. Dan seperti biasa, pagi akan menyusul seolah tidak terjadi apa-apa.

***

Pagi hari selalu datang dengan cara yang sama. Aku berjalan kaki ke sekolah. Aku pamit pada Ibu yang akan berangkat kerja ke pabrik sapu. Sedangkan Bapak masih tidur. Ia baru bangun ketika tengah hari untuk ke sawah sambil menyambi judi online.

Jalanan kampung menyapaku dengan wajah-wajah yang kukenal: rumah-rumah yang saling berdempetan, pematang sawah yang hampir gagal panen, kandang sapi milik juragan desa, suara TV butut yang dikeraskan volumenya sampai terdengar ke ujung desa, dan bisik-bisik yang terasa akrab.

Di ujung gang, dua lelaki duduk di bangku bambu. Aku mendengar mereka membicarakan tetangga yang ditinggal suaminya merantau. “Jenenge yo wong wedhok,” kata salah satunya, “Kalau nggak kuat ya salah sendiri.” Aku mempercepat langkah. Kata-kata itu tertinggal di belakang, tapi rasanya ikut berjalan bersamaku.

Saat melewati masjid, aku melihat rumah Pak Haji Burhan di sebelah utaranya. Rumah itu paling mudah dikenali, pagar tinggi, cat terang. Orang-orang sering menyebutnya ustadz. Ia rajin memberi ceramah, tapi rajin pula pulang larut. Alasannya mau meronda dengan warga, tetapi selalu pulang dengan aroma parfum wanita. Ia sering beralibi kepada istrinya. Poligami katanya. Dengan berlindung dibalik kata agama, zina dalam bentuk apapun halal baginya. Di luar rumah, orang-orang memilih percaya. Di dalam, istrinya menghabiskan hari-harinya dengan diam, sampai tubuhnya tak lagi sanggup menanggungnya.

***

Entah sudah berapa lama aku melamun di kelas. Sementara Bu Esti masih mondar-mandir menjelaskan konstruksi sosial dan kemiskinan struktural yang semakin semrawut di papan tulis. Kata-katanya berlapis, tetapi justru membuat kepalaku penuh. Aku jengah, mungkin karena apa yang ia jelaskan terlalu dekat dengan kenyataan yang setiap hari kami lihat. Aku sampai tak sadar, bahwa Bu Esti mengajak seseorang yang sepertinya guru baru untuk masuk ke kelas. Guru itu seorang perempuan paruh baya.

“ Anak-anak, ini Bu Yuni Sulistiawati. Kalian bisa memanggil beliau Bu Yuni. Benar ya, Bu? Bu Yuni nanti yang akan menggantikan Pak Supri mengajar sejarah selama dua bulan ke depan.”

Aku bingung. Dan heran. Nama guru baru itu persis seperti nama Ibu. Dan cita-citanya mengingatkanku pada gelar Ibu yang ia simpan rapi ijazahnya di lemari kaca yang pecah. Mimpinya yang mulia itu harus ia kubur atas nama pengabdian pada suami. Entahlah, aku semakin bingung.

***

Pulang sekolah aku berjalan gontai. Biasanya, perjalanan pulang dan berangkat aku melewati jalur yang berbeda agar dapat menengok kegiatan Bapak di sawah. Dan di situlah aku tidak menemukan Bapak.

“Dimana toh Bapak? Apa belum berangkat ya?” batinku.

Rumah terlihat sepi saat aku membuka pintu. Decit kayu yang rapuh dimakan rayap menggaung dengan nyaring. Perutku mulai terasa kosong. Aku keluar kamar, berharap menemukan Ibu di dapur. Biasanya, pada waktu dhuhur, ia pulang sebentar untuk memasak. Ia jarang membeli lauk, katanya agar cukup sampai akhir bulan. Namun hari itu, panci hanya menyisakan nasi pagi. Tidak ada apa-apa lagi.

Aku hendak menyalakan kompor ketika pintu terbuka. Ibu masuk dengan penampilan yang membuatku terdiam. Ia mengenakan seragam guru. Rapi. Asing.

“Loh, Bu… kok pakai seragam guru?”
“Loh, Ibu kan tadi dari sekolah, ndhuk,” katanya ringan. “Kan Ibu ke kelasmu.”

Aku semakin bingung.
“Oh ya, ini Ibu sekalian beli lauk,” lanjutnya sambil meletakkan bungkusan di meja. “Belum makan toh? Yuk, makan bareng.”

Belum sempat aku mencerna kejadian itu, Ibu menarik kursi untuk dia dan aku. Tidak ada kursi Bapak di sana. Ibu duduk di depanku dengan seragam guru yang masih rapi. seolah tak tersentuh lelah.

Maem yang banyak, Ris.” katanya singkat.

Aku mengangguk dengan bingung. Kami makan tanpa banyak kata. Aku memperhatikan tangan Ibu, tangan yang sama yang dulu penuh luka, kini tampak lebih tenang, seakan beban itu sedang dititipkan sebentar.

“Ris, sekolahe sing rajin ya ndhuk, biar bisa jadi dokter seperti cita-citamu,” tambahnya lagi dengan senyum paling indah.

Aku mengangguk pelan. Tenggorokanku terasa penuh.

Lampu dapur bergoyang kecil tertiup angin. Bayangan kami memanjang di permukaan meja makan yang kusam. Ibu masih duduk di depanku, membereskan remah nasi dengan ujung jarinya pelan-pelan, seolah takut ada yang tersisa.

Rumah terasa sunyi sekali malam itu.

Bahkan suara sendok yang menyentuh piring terdengar jauh. Entah sejak kapan meja makan itu tampak lebih panjang. Ujungnya samar, seperti tertelan gelap. Butiran nasi di atasnya terlihat seperti bulir-bulir padi ranum yang menyebar perlahan.

Aku menoleh ke jendela.

Tak ada halaman. Yang ada hanya hamparan sawah pucat diterpa angin malam.

Ibu berdiri di tengahnya dengan seragam guru yang masih rapi. Di tangannya ada kapur tulis putih. Dan papan tulis entah sejak kapan terpampang di sana. Setiap kali tangannya bergerak, garis-garis tipis bercahaya muncul di udara lalu jatuh seperti bunga ilalang.

“Ibu…” suaraku terdengar asing.

Ia menoleh dan tersenyum.

Di belakangnya, rumah kami berubah utuh. Dindingnya tak lagi lembap. Atapnya tidak bocor. Tak ada suara umpatan Bapak. Tak ada bau lapen yang biasanya memenuhi rumah setiap malam.

Semuanya tenang. Terlalu tenang.

Aku melangkah mendekat, tapi kakiku terasa berat seperti terbenam lumpur sawah.

Lalu terdengar suara koin jatuh dari bawah meja.

Ting.

Ting.

Ting.

Disusul suara tawa Bapak yang menggema samar. Lampu dapur berkedip. Tubuh Ibu perlahan memudar bersama angin malam

“Aku belum jadi dokter, Bu. Belum sempat membahagiakan Ibu…” kataku cepat.

Ibu seperti hendak menjawab.

Namun…

BRAKKK!!!

Meja makan terguncang keras. Aku tersentak.

Langit di luar sudah gelap. Suara adzan maghrib menggema dari masjid ujung desa. Bapak berdiri di depanku dengan mata merah dan napas berbau oplosan fermentasi.

“Maghrib kok malah turu neng meja!”

Aku langsung menoleh ke kursi seberang. Kosong.

“Ibu…?”

Bapak tak menjawab. Ia masuk kamar sambil menggerutu soal judi dan utang sawah.

Sementara itu di atas meja masih ada dua piring. Salah satunya sudah kosong, seperti benar-benar ditinggal tergesa atau terpaksa pergi.

Dan di dekat kursi seberangku, ada serbuk putih tipis menempel di kayu meja. Seperti sisa kapur tulis.

Aku menatap kursi kosong itu lama sekali. Dan malam itu aku mengerti, ada orang yang pergi tanpa suara.

Tanpa tangis.

Tanpa pamit.

Hanya meninggalkan ruang kosong yang tak akan benar-benar terisi lagi.

Maulida Hilyaturahma adalah seorang pelajar sma kelahiran 2008. pernah menerbitkan buku antologi dan karyanya pernah dimuat di majalah dan website online. pernah menjadi redaktur majalah organisasi di sekolah. untuk berkenalnnya dengannya bisa menghubungi 085729099411dan ig @hilyamaulida_
Read Entire Article
Jogja News Jogja Politan Jogja Ball Jogja Otote Klik News Makassar news