Mengenang Malam Mencekam 29 Agustus di Makassar, Saat Dua Gedung DPRD Dilalap Api

2 hours ago 1

KabarMakassar.com — Setahun telah berlalu, tetapi malam 29 Agustus 2025 masih menyisakan ingatan panjang bagi Indonesia khususnya warga Kota Makassar.

Malam yang harusnya menjadi pengambilan keputusan penting untuk warga saat rapat paripurna antara DPRD dan Pemerintah kota Makassar diwarnai aktivitas demonstrasi berubah menjadi salah satu peristiwa paling kelam dalam perjalanan pemerintahan dan lembaga legislatif di Makassar dan Sulawesi Selatan (Sulsel).

Dua gedung yang menjadi rumah bagi wakil rakyat, DPRD Kota Makassar di Jalan AP Pettarani dan DPRD Provinsi Sulawesi Selatan di Jalan Urip Sumoharjo, terbakar dalam rentetan kerusuhan.

Diketahui, aksi demonstrasi tersebut dipicu dari gelombang aksi demonstrasi yang terjadi pada tanggal 25 Agustus terbagi ke dalam dua peristiwa besar di tahun yang berbeda (2024 dan 2025).

Secara garis besar, pemicunya adalah penolakan terhadap revisi UU Pilkada oleh DPR pada Agustus 2024, serta kemarahan publik atas fasilitas tunjangan rumah anggota DPR yang dinilai fantastis di tengah tekanan ekonomi pada Agustus 2025

Api Tak hanya melahap bangunan

Kendaraan hangus. Peralatan kerja musnah. Arsip pemerintahan terbakar. Aktivitas kedewanan terhenti. Sejumlah orang terluka.

Dan yang paling menyakitkan, empat nyawa akhirnya tak terselamatkan.

Kini, setahun setelah malam itu, ingatan tentang tragedi tersebut kembali mengemuka. Bukan semata untuk mengulang kepanikan, melainkan mengenang mereka yang menjadi korban dan melihat kembali bagaimana sebuah malam mengubah banyak hal di Makassar.

Jumat malam, 29 Agustus 2025 yang Kelam

Di Gedung DPRD Kota Makassar, aktivitas masih berjalan. Rapat paripurna pembahasan APBD Perubahan 2025 tengah berlangsung.

Wali Kota Makassar Munafri Arifuddin, pimpinan DPRD, anggota dewan, pejabat Pemkot Makassar hingga jajaran BUMD berada di dalam gedung terpaksa dievakuasi saat rapat sedang berlangsung.

Ruang rapat menjadi tempat pembahasan agenda pemerintahan. Di luar gedung, massa demonstrasi bergerak dalam situasi yang semakin tegang.

Tak lama kemudian, massa menerobos masuk ke halaman DPRD Makassar.

Kericuhan pecah.

Kendaraan yang berada di halaman menjadi sasaran. Sejumlah kendaraan roda dua dan roda empat, termasuk milik camat, pejabat Pemkot serta kendaraan dinas anggota DPRD, terbakar.

Api yang awalnya berada di sekitar kendaraan kemudian menjalar menuju bagian gedung.

Wakil Ketua II DPRD Makassar, Anwar Faruq, masih mengingat situasi tersebut sebagai malam ketika rapat paripurna berubah menjadi upaya menyelamatkan diri.

“Massa menduduki kantor DPRD Makassar malam ini, saat kami sedang rapat paripurna. Mereka membakar bagian gedung serta kendaraan di halaman,” ujarnya.

Dalam sekejap, gedung yang biasanya menjadi tempat rapat berubah menjadi ruang penuh kepanikan.

Peserta rapat berhamburan mencari jalan keluar.

Wali Kota Munafri Arifuddin bersama sejumlah pejabat dievakuasi melalui pintu belakang. Mereka bahkan menggunakan sepeda motor untuk meninggalkan kawasan gedung.

Di tengah kepanikan, sebagian orang berusaha mencari jalan untuk keluar dari bangunan, sebagian terjebak. Malam itu, keselamatan menjadi satu-satunya tujuan.

Empat Nama Menjadi Kenangan

Kebakaran tersebut kemudian meninggalkan duka yang tak biasa, berdasarkan data BPBD Kota Makassar terdapat empat orang meninggal dunia dalam rangkaian peristiwa tersebut.

Keempatnya bukan sekadar angka dalam laporan korban gedung DPRD kota Makassar, Ada nama, pekerjaan, keluarga dan kehidupan yang terputus malam itu.

Sarinawati, 26 tahun, merupakan staf atau ajudan anggota DPRD Makassar. Ia meninggal dunia saat dalam perjalanan rujukan menuju RS Bhayangkara.

Bahkan Hingga kini, Politisi PDI-P Andi Tenri Uji masih berduka kehilangan figur sahabat seperti Sanrinawati.

Syaiful atau Sful, 43 tahun, merupakan Kasi Kesra Kecamatan Ujung Tanah yang menghadiri rapat paripurna. Ia meninggal dunia di RS Grestelina.

Muhammad Akbar Basri atau Abay, seorang fotografer sekaligus staf protokol DPRD Makassar, meninggal di lokasi setelah terjebak dalam gedung.

Sementara Budi Haryadi S., 30 tahun, anggota Satpol PP, sempat menjalani perawatan dalam kondisi kritis setelah melompat dari lantai atas untuk menyelamatkan diri. Ia kemudian meninggal dunia.

Empat nama itu menjadi bagian paling memilukan dari catatan 29 Agustus 2025 lalu.

Ada yang datang untuk bekerja. Ada yang menjalankan tugas kedinasan. Ada yang berada di gedung untuk mendukung aktivitas pemerintahan.

Tidak seorang pun menyangka malam itu akan berakhir dengan kehilangan nyawa.

Di antara korban meninggal, ada pula mereka yang berhasil menyelamatkan diri meski harus menanggung luka.

Heriyanto, 28 tahun, mengalami luka berat setelah melompat dari lantai tiga dan menjalani perawatan di RS Grestelina. Sahabuddin, 45 tahun, mengalami nyeri pada bagian pinggul setelah melompat dari lantai dua dan dirawat di RS Hermina. Arif Rahman Hakim, 28 tahun, juga mendapatkan perawatan di RS Grestelina. Agung Setiawan atau Agus Setiawan, 32 tahun, dirawat di RS Hermina.

Api DPRD Makassar Belum Padam, Kerusuhan Berpindah

Saat situasi di DPRD Makassar belum sepenuhnya reda, kerusuhan kembali terjadi, sekitar pukul 00.37 Wita, Sabtu dini hari, massa bergerak menuju Gedung DPRD Provinsi Sulawesi Selatan di Jalan Urip Sumoharjo.

Pos jaga dilempari batu. Kendaraan dibakar. Bom molotov dilemparkan ke arah gedung utama.

Dalam hitungan menit, kobaran membesar. Asap hitam pekat membubung ke langit malam Makassar.

Dua gedung DPRD akhirnya sama-sama menjadi korban kebakaran dalam rangkaian kerusuhan tersebut.

Jika DPRD Makassar menjadi titik awal tragedi pada malam itu, DPRD Sulsel menjadi bagian berikutnya dari gambaran betapa cepatnya kerusuhan meluas pada 25 Agustus.

Pagi di Gedung DPRD Makassar

Ketika pagi, pemandangan di DPRD Makassar berubah. Gedung yang sehari sebelumnya menjadi tempat anggota dewan mengambil keputusan penting dan menerima aspirasi rakyat kini dipenuhi bekas kebakaran.

Sekitar pukul 07.00, warga mulai berdatangan, ratusan orang memenuhi kawasan gedung. Sebagian melihat dari dekat sisa-sisa kebakaran. Sebagian lainnya merekam hingga live diakun sosial media memperlihatkan kondisi bangunan dengan telepon seluler.

Namun, ada pemandangan lain yang membuat suasana pagi itu terasa getir, sejumlah warga mengambil barang-barang dan onderdil kendaraan yang telah hangus terbakar. Besi dan komponen kendaraan yang tersisa dikumpulkan untuk ditimbang hingga kursi.

Seorang warga bahkan terang-terangan menyebut alasan mengambil bagian kendaraan yang terbakar.

“Tembaganya (mobil) mau dijual kesempatan ambil. Dijual masih bisa ditimbang,” katanya.

Kerugian Pasca Kebakaran

Personel keamanan melakukan penjagaan. Staf DPRD membersihkan sisa-sisa kebakaran, sementara armada Damkar masih melakukan pemadaman di bagian dalam gedung.

Pagi itu menjadi gambaran lain dari tragedi malam sebelumnya. Di tempat yang biasanya dipenuhi rapat, dokumen dan aktivitas pemerintahan, yang tersisa adalah puing dan benda-benda hangus.

Kerusakan ternyata tidak berhenti pada apa yang terlihat oleh mata, setelah proses inventarisasi yang cukup teliti dilakukan, nilai kerugian yang ditimbulkan terus bertambah.

Sekretaris Dewan DPRD Makassar, Andi Rahmat Mappatoba, menyebut kerugian khusus mobiler dan barang elektronik mencapai sekitar Rp70 miliar.

“Itu Rp70 miliar, khusus untuk barang elektronik dan mobiler yang ada di dalam kantor DPRD Makassar,” kata Rahmat.

Angka tersebut belum termasuk kerugian gedung dan kendaraan yang sebelumnya ditaksir BPBD Kota Makassar mencapai Rp253,4 miliar.

Sementara itu, Kepala BPBD Kota Makassar, Fadli Tahar, menyebut nilai kerugian keseluruhan berpotensi lebih besar setelah memasukkan kerusakan peralatan dan barang elektronik.

“Kerugian Rp253,4 miliar itu nilai gedung dan kendaraan. Sekarang ada tambahan data internal dari Sekwan untuk mobiler dan elektronik Rp70 miliar. Jadi nilainya bisa lebih besar,” kata Fadli.

Jika dua angka tersebut dijumlahkan, kerugian yang telah teridentifikasi mencapai sekitar Rp323,4 miliar.

Namun, bahkan angka tersebut belum menggambarkan seluruh kehilangan, sebab ada sesuatu yang tidak mudah diberi nilai rupiah: arsip.

Sekwan DPRD Makassar Andi Rahmat Mappatoba menyebut sebagian arsip penting hilang bersama api.

Sebagian dokumen masih tersimpan dalam bentuk hard copy dan belum sempat didigitalisasi. Di antaranya SPJ, daftar hadir rapat, tanda tangan peserta rapat serta dokumen pertanggungjawaban administrasi.

Ketika api menghanguskan dokumen-dokumen tersebut, proses inventarisasi menjadi lebih sulit.

“Susah kita inventarisasi karena arsipnya sudah terbakar dan bentuknya tidak bisa dikenali. Ada beberapa yang belum kita scan, jadi datanya masih kosong,” ungkap Rahmat.

Pihak DPRD kemudian berkoordinasi dengan Inspektorat untuk menentukan langkah penyelamatan arsip yang masih mungkin dilakukan.

Kehilangan arsip memiliki makna lebih panjang dibanding kehilangan perabot kantor. Dokumen katanya rekam jejak administrasi. Ia mencatat proses, keputusan dan aktivitas lembaga.

Kebakaran Gedung DPRD Makassar Menyisahkan trauma

BPBD Makassar mencatat lima staf dan pejabat DPRD telah menjalani konseling trauma healing. Luka fisik mungkin dapat dipulihkan melalui perawatan.

Tetapi pengalaman berada di dalam gedung yang terbakar, melihat asap memenuhi ruangan, mendengar kericuhan dan menyaksikan orang berusaha menyelamatkan diri adalah pengalaman yang dapat meninggalkan bekas lebih panjang.

Wakil Rakyat Terpaksa Meninggalkan Rumah Rakyat

Tragedi tersebut juga membuat aktivitas legislatif berubah. Gedung yang selama ini menjadi pusat aspirasi dan kegiatan DPRD tidak dapat digunakan, sehingga aktivitas kedewanan kemudian dialihkan.

Sejumlah agenda dilakukan secara daring melalui Zoom, sementara pekerjaan juga berlangsung dari rumah jabatan.

Pembahasan pemerintahan harus tetap berjalan meski ruang kerja tidak lagi tersedia seperti sebelumnya.

Sekitar sebulan setelah tragedi, DPRD Sulsel kembali beraktivitas dari gedung sementara di Gedung Bina Marga, Jalan AP Pettarani, sedangkan DPRD Kota Makassar juga menjalankan aktivitas dari gedung sementara di kawasan Hertasning.

Perpindahan tersebut menjadi bagian dari fase pemulihan. Dua lembaga legislatif harus beradaptasi dengan kondisi baru sembari menunggu pemulihan fasilitas.

Penyelidikan Kebakaran Gedung DPRD

Aparat kepolisian melakukan penyelidikan terhadap rangkaian kerusuhan. Polda Sulawesi Selatan menyatakan mengamankan 10 orang yang diduga berkaitan dengan kerusuhan di Makassar.

Selain itu, dua orang lainnya diamankan terkait dugaan perusakan Gedung DPRD Kota Palopo dalam aksi unjuk rasa pada 1 September.

Total ada 12 orang yang diamankan dalam penanganan perkara kerusuhan di Makassar dan Palopo.

Kabid Humas Polda Sulsel, Kombes Pol Didik Supranoto, membenarkan adanya pengamanan tersebut.

“Iya intinya 10 orang kerusuhan di Makasar,” ujarnya.

Namun, proses pemeriksaan ketika itu belum langsung memastikan seluruh orang yang diamankan terlibat dalam tindak pidana.

Direktur Reserse Kriminal Umum Polda Sulsel, Kombes Pol Setiadi Sulaksono, mengatakan penyidik masih mengembangkan pemeriksaan.

“Kami masih terus melakukan upaya-upaya yang akan dikembangkan,” ujarnya.

Proses hukum menjadi bagian lain dari cerita panjang setelah malam 29 Agustus.

Setahun Berlalu

Kegiatan kedewanan di Makassar dan Sulsel terus bergerak, ruang-ruang kembali dipenuhi aktivitas. Agenda kedewanan tetap berjalan. Pembahasan anggaran terus dilakukan.

Aktivitas kedewan dan beberapa sekretariat DPRD Kota Makassar kembali ke Pettarani menempati ruang gedung sayap yang terbatas untuk menghemat anggaran penyewaan.

Gedung utama DPRD kota Makassar telah dirobohkan dan rata dengan tanah, sementara Sulsel dalam tahap lelang. Selanjutnya gedung utama DPRD Makassar dan Sulsel akan dibangun kembali melalui Kementrian PU menggunakan APBN.

Meski aktivitas kembali berjalan seperti biasanya di Makassar malam 29 Agustus 2025 tetap layak dikenang sebagai tragedi, duka, sekaligus pengingat.

Navigasi pos

Read Entire Article
Jogja News Jogja Politan Jogja Ball Jogja Otote Klik News Makassar news