OPINI: Ekologi Simbolik, Ketika Tanah Air Sebagai Rahim Kedua

14 hours ago 6
 Ekologi Simbolik, Ketika Tanah Air Sebagai Rahim Kedua(Foto : Anshar Aminullah Akademisi)

Oleh: Anshar Aminullah Akademisi

KabarMakassar.com — Dalam sebuah perjumpaan singkat, dialektika penuh makna terjadi oleh tiga orang akademisi guru saya beberapa waktu lalu. Yang cukup menarik perhatian saya adalah apa yang dilontarkan oleh guru saya Prof Sabri AR. Jika menggunakan kalimat dengan maksud yang sama, sesuatu yang dinamakan Sebagai Ekologi Simbolik. Perihal bagaimana melihat konsep Tanah Air sebagai kita Indonesia ini sebagai Rahim Kedua.

Pertama, ia bukan hanya sekadar konsep tentang geopolitik, akan tetapi sebagai sebuah konstruksi kultural yang memadukan bagimana tanah sebagai daratan menjadi tempat kembali (berpulang), sebagai sebuah stabilitas kehidupan hingga di fase kematian. Kedua, bagaimana konsep air dimana Indonesia yang wilayahnya dominan laut sebagai sebuah asal-usul, sebagai sumber hidup dan kehidupan, bahkan sebagai sebuah dinamika.

Dalam masyarakat kita, ‘tradisi’ mengubur ataupun menghanyutkan ari-ari itu secara simbolik bahwa manusia sejak lahir sudah telah didititipkan ke alam, bukan hanya sekadar menjalani hidup di atasnya.

Tubuh kita sendiri adalah sebagai media persambungan antara alam dengan budaya. Jika menggunakan pendekatan yang sedikit antropologis, ari-ari atau plasenta adalah bagian biologis atau tubuh yang juga menyandang status rangkap sekaligus sebagai objek kultural-ritual.

Ketika ari-ari ditanam maka manusia telah mengikrakan dirinya telah berakar pada tanah. Demikian pun halnya ketika ari-ari ini dihanyutkan, maka manusia telah menegaskan kehidupannya akan ikut mengalir dan larut bersama laut tersebut.
Sehingga tubuh manusia telah menunaikan tugas dan fungsinya sebagai jembatan pertama antara alam dan kebudayaan.

Dari Sosial ke Ekologis

Dalam pendekatan klasik Émile Durkheim tentang solidaritas sosial. Jika dieksplorasi lebih lanjut menjadi sebuah kekerabatan ekologis, di mana posisi manusia tidak hanya terikat dengan manusia lain sebagai makhluk sosial,akan tapi juga dengan alam. Maka ‘ritual’ ari-ari ini sebagai bentuk awal kontrak simbolik kita dengan alam, yakni bagaimana hubungan manusia dengan tanah, dan manusia dengan laut.

Sehingga ketika terjadi kerusakan lingkungan, ini justru bisa dibaca sebagai peristiwa anomie ekologis atau terjadi keterputusan norma antara manusia dan alam. Kedua, dalam pendekatan Intersubjective Meaning, dimana alam sebagai sebuah entitas bermakna, meminjam bahasa Jens Beckert, bagaimana nilai alam itu sendiri bukan hanya dari faktor ekonomi semata, akan tetapi juga sebagai hasil dari konstruksi makna bersama atau dengan istilah intersubjective valuation.

Misalkan saja, lautan itu bukan hanya sekadar sumber mencari ikan dan sejenisnya. Akan tetapi dia adalah saudara kita sejak ari-ari itu dihanyutkan kepermukaanya.

Pembabatan hutan secara berlebih adalah pola modernitas yang telah mereduksi posisi alam dengan kita dari posisi saudara simbolik berubah menjadi komoditas ekonomi.

Tanah air sebagai Imajinasi Moral jika dalam pendekatan kultural-politik dia bukan hanya sebagai identitas nasional, tapi ini tentang bagaimana cara manusia itu sendiri harus bersikap terhadap alamnya. Bahwa nasionalisme sejati kita itu tidak hanya menjaga batas wilayah, akan tetapi ikut menjaga posisi relasi etisnya dengan tanah dan air itu sendiri.

Bahkan terjadinya krisis lingkungan itu bukan hanya sekedar krisis alam semata, melainkan terjadi krisis relasi antara manusia yang telah gagal menjaga hubungan dengan Tuhan sekaligus. Saat manusia melakukan pengingkaran pada posisinya sebagai khalifah atau penjaga bumi berubah menjadi pemilik absolut.

Dan sekali lagi, ini adalah bentuk desakralisasi kehidupan

Olehnya itu, mungkin sudah saatnya kita membangun ulang kekerabatan ekologis berupa penegasan kembali makna simbolik tanah air sebagai rahim kedua , dimana tanah adalah asal kita dan laut adalah saudara yang telah diikatkan lebih awal. Begitupun Reboisasi dan penegakan regulasi pada relnya adalah wajib disituasi urgen seperti saat sekarang ini.

Mungkin, manusia itu merusak tanah airnya karena memang tidak tahu, akan tetapi karena lupa bahwa sejak lahir ia telah dipersaudarakan dengannya. Dan saat persaudaraan itu memudar dan sengaja dihilangkan, yang tersisa justru hanya eksploitasi tanpa rasa ada rasa bersalah sedikitpun. Akan tetapi perlu kita ingat bahwa saat kita memutuskan persaudaraan itu dengan mengeksplotasinya secara berlebihan, percayalah, tanah dan air ini akan selalu punya cara elegan dan terhormat untuk membalas kita dari arah yang tidak terduga.

Navigasi pos

Read Entire Article
Jogja News Jogja Politan Jogja Ball Jogja Otote Klik News Makassar news